Donasi dan berbagai bentuk bantuan terus mengalir untuk pembangunan kembali Masjid Al-Huda di Pedukuhan Gari, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Total sumbangan yang terkumpul, baik dalam bentuk uang tunai maupun material bangunan, kini diperkirakan mencapai Rp 200 juta.
Ketua Panitia Pembangunan Masjid Al-Huda, Budi Antoro, mengungkapkan bahwa bantuan datang dari berbagai pihak. “Alhamdulillah hari ini banyak donasi masuk. Salah satunya di hari ini beliau Bu Kapolres Gunungkidul donasi Rp 10 juta tadi. Kemudian masuk ke rekening masjid juga sudah banyak,” kata Budi melalui sambungan telepon pada Rabu (7/1).
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Budi menambahkan, akumulasi donasi tersebut mencakup sumbangan material. “Karena ada yang langsung berupa material juga. Yang semen. Akumulasi sekitar Rp 200 juta ada,” bebernya. Selain itu, ada pula donatur yang datang langsung ke lokasi untuk menyerahkan bantuan.
Mureks mencatat bahwa salah satu warga juga telah menjanjikan dukungan signifikan. “Tadi malam sudah menyampaikan Jumat akan memasukkan dana awal pembangunan sekitar Rp 500 juta,” ungkap Budi.
Menurut Budi, masifnya pemberitaan mengenai kondisi Masjid Al-Huda telah meningkatkan kesadaran publik, sehingga mendorong banyak pihak untuk berdonasi. “Alhamdulillah banyak donasi baik secara personal maupun donasi yang melalui LazisMU, zakat, banyak yang ikut prihatin,” tuturnya.
Sebelumnya, Masjid Al-Huda dirobohkan setelah donatur awal meninggalkan proyek pembangunan. Kejadian ini sempat menimbulkan kekecewaan di kalangan warga Pedukuhan Gari. Namun, semangat untuk membangun kembali masjid tersebut kini kembali menggebu.
Rewang Dwi Atmojo (72 tahun), salah seorang warga Gari, menegaskan bahwa kekecewaan tidak menyurutkan niat mereka. “Banyak yang kecewa. Tapi kekecewaan tersebut tidak akan menyurutkan semangat warga umat Islam yang ada di Gari. Bahkan menjadikan semangat yang menggebu-gebu untuk membangun masjid ini,” ujarnya saat ditemui pada Selasa (6/1).
Warga secara proaktif menyebarkan proposal dan menghubungi berbagai kenalan untuk menggalang dana. “Berbagai jalan ditempuh, proposal disebar, donatur-donatur, yang punya kenalan di Jakarta dihubungi, yang punya teman sukses dihubungi untuk menggali dana,” jelas Dwi Atmojo.
Meskipun target biaya pembangunan masjid mencapai angka fantastis Rp 1,8 miliar sesuai desain yang disepakati, warga tetap optimistis. “Berusaha,” tegas Dwi Atmojo, menunjukkan keyakinan mereka bahwa masjid akan dapat diselesaikan.






