Nasional

Budi Gunadi: Kemenkes Alokasikan Rp500 Miliar untuk Recovery Total Fasilitas Kesehatan Rusak di Sumatera

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengalokasikan anggaran sekitar Rp500 miliar untuk perbaikan total fasilitas dan alat kesehatan yang rusak akibat bencana banjir dan tanah longsor di wilayah Sumatera. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan komitmen tersebut saat membuka groundbreaking pembangunan gedung Central Medical Unit (CMU) RSUP Dr Sardjito pada Kamis, 8 Januari 2026.

Budi Gunadi menyatakan bahwa targetnya adalah pemulihan menyeluruh pada Maret mendatang. “Kita mau recovery total. Kita targetin Maret ini recovery total dari seluruh rumah sakit dan Puskesmas,” ujar Budi Gunadi, seperti dipantau Mureks.

Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Ia menjelaskan, kerusakan mencakup berbagai peralatan vital, termasuk ambulans. “Contohnya apa? Ambulansnya rusak, itu ada mungkin 205. Ya, kita termasuk yang paling cepet, sejak 2 minggu yang lalu, kita sudah datang ke Astra, Daihatsu, Kia, Isuzu, kirimin montir,” tambahnya.

Hingga saat ini, 50 unit ambulans telah berhasil diperbaiki, sementara 80 unit lainnya masih dalam penanganan di bengkel karena mengalami kerusakan mesin parah atau ‘turun mesin’.

Selain itu, teknisi juga telah dikerahkan ke berbagai rumah sakit untuk mengidentifikasi alat kesehatan yang rusak. “Sudah kita kirim semua ke rumah sakit, untuk periksa, mana yang benar-benar rusak, mana bisa diperbaiki. Yang benar, yang sudah rusak, nanti kita masukin ke anggarannya, kita sudah hitung, butuh sekitar Rp 500 miliar, sedang kita ajukan supaya bisa dapet cepet penggantian, agar alat-alat yang rusak itu karena banjir bisa kita ganti,” jelas Budi Gunadi.

Kerusakan tidak hanya pada alat medis berat, tetapi juga pada fasilitas pendukung lainnya. “Butuh ribuan komputer. Kita butuh mebel-mebel, itu juga sudah, sudah nggak bisa diperbaiki, itu kita butuh,” ungkapnya, menyoroti kebutuhan akan tempat tidur dan perabot yang juga rusak parah.

87 Rumah Sakit dan Ratusan Puskesmas Terdampak

Menteri Kesehatan juga memaparkan dampak bencana terhadap operasional fasilitas kesehatan. Sebanyak 87 rumah sakit di tiga provinsi sempat berhenti beroperasi. “Kita tiga hari, empat hari langsung datang, bentuk tim. Kita lihat ada sembilan (rumah sakit) yang bener-bener sudah tutup total. Karena memang banjir tinggi, lumpurnya masuk sampai se badan. Nah, tahap satu recovery kesehatan, dalam dua minggu sembilan ini semua beroperasi,” kata Budi Gunadi.

Sementara itu, dari 1.268 Puskesmas yang ada, 850 di antaranya sempat terhenti operasionalnya pascabencana. “Begitu kita masuk, di 1 Desember, kita lihat ada 150 yang tidak bisa beroperasi sama sekali, yang itu tadi, lumpurnya sudah berantakan, ada yang rubuh. Nah, itu kita kejar di tahap kedua recovery, di akhir Desember, tinggal empat yang belum beroperasi. Yang lainnya sudah beroperasi. Walaupun enggak penuh ya,” paparnya.

Puskesmas kini memiliki peran krusial dalam melayani masyarakat di desa-desa terisolir dan di pos-pos pengungsian. “Karena ada 1.000 pos pengungsian, itu sekitar 300.000 warga. Nah, tugasnya Puskesmas untuk memastikan perawatan kesehatan rumah-rumah warga itu seperti biasa. Tapi yang pos pengungsian ini enggak biasa. Dan untuk itu kita harus kirim relawan, karena tenaga Puskesmas-nya enggak cukup,” terang Budi Gunadi.

Kemenkes telah mengerahkan lebih dari 4.100 relawan, termasuk banyak di antaranya berasal dari institusi pendidikan seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Muhammadiyah di Yogyakarta, untuk membantu penanganan kesehatan di lokasi bencana.

Mureks