Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya peran keluarga sebagai fondasi utama keutuhan masyarakat dan bangsa. Pernyataan ini disampaikan Nasaruddin saat menghadiri acara Aktualisasi Nilai-Nilai Natal Tahun 2025 yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Jumat (9/1/2026).
Dalam sambutannya, Imam Besar Masjid Istiqlal itu menyoroti tema perayaan Natal tahun ini, yakni ‘Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga’. Menurutnya, keluarga merupakan ruang pertama pembentukan nilai kemanusiaan, yang menentukan kekuatan sebuah masyarakat.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
“Dalam tradisi spiritual mana pun, keluarga adalah madrasah pertama kemanusiaan, tempat manusia belajar mencintai sebelum berbicara, belajar berbagi sebelum belajar memiliki,” ujar Nasaruddin.
Ia melanjutkan, ketahanan keluarga memiliki dampak langsung terhadap ketahanan masyarakat. Keluarga yang rapuh akan melahirkan masyarakat yang rapuh, sebaliknya keluarga yang damai akan menciptakan masyarakat yang kuat dan harmonis.
“Jika keluarga rapuh, maka masyarakat akan rapuh. Jika keluarga damai, maka masyarakat akan damai. Tidak mungkin ada negara ideal tanpa masyarakat ideal, dan tidak mungkin ada masyarakat ideal tanpa disusun di atas keluarga yang tidak berantakan,” tegasnya.
Refleksi Natal dan Kerukunan di Jakarta
Nasaruddin Umar juga memaknai perayaan Natal sebagai momen penting untuk refleksi diri di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern. Natal, katanya, mengajak setiap individu untuk berhenti sejenak dan menengok kembali nilai-nilai spiritual serta relasi dalam keluarga.
“Natal selalu mengajak kita untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia lalu menengok ke dalam diri kita sendiri. Apakah kita masih punya ruang bagi Tuhan? Apakah keluarga kita masih menjadi tempat kasih? Apakah kita ini memberikan rasa aman bagi yang lemah?” tuturnya.
Lebih lanjut, Nasaruddin mengapresiasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas keberhasilannya dalam menjaga kebersamaan dan menjamin kebebasan beribadah di tengah masyarakat yang majemuk. Ia memandang Jakarta sebagai kota di mana berbagai identitas dan perbedaan bertemu.
“Di kota ini semua identitas bertemu, semua perbedaan berjumpa. Maka kerukunan Jakarta bukan pilihan, tetapi keniscayaan sejarah,” ujarnya.
Catatan Mureks menunjukkan, upaya pemerintah daerah dalam menghadirkan ruang-ruang kebersamaan lintas agama menjadi kunci menjaga kedamaian di ibu kota. Kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang memastikan setiap keluarga dapat beribadah dengan aman dan baik turut diapresiasi oleh Menteri Agama.
“Saya mengapresiasi pemerintah DKI Jakarta yang terus menghadirkan peluang-peluang kebersamaan, mulai dari perayaan keagamaan, dialog antarumat, hingga kebijakan yang memastikan setiap keluarga dapat beribadah dengan aman dan baik,” pungkas Nasaruddin.






