Gelombang protes yang melanda Iran sejak Desember 2025 telah menelan korban jiwa sedikitnya 51 orang. Angka tersebut mencakup sembilan anak di bawah usia 18 tahun, berdasarkan laporan independen organisasi hak asasi manusia yang dirilis pada Jumat (9/1).
LSM Iran Human Rights (IHR) mengungkapkan, selain korban tewas, ratusan orang lainnya juga mengalami luka-luka selama 13 hari pertama aksi demonstrasi yang tersebar di berbagai wilayah Iran.
Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id
Aksi massa ini awalnya dipicu oleh kenaikan biaya hidup dan anjloknya nilai mata uang rial yang memicu ketidakpuasan di kalangan warga. Catatan Mureks menunjukkan, protes tidak hanya terpusat di ibu kota Teheran, tetapi juga meluas ke sejumlah kota besar lainnya, menandakan skala ketidakpuasan yang signifikan.
Seiring berjalannya waktu, tuntutan para demonstran semakin meluas, bahkan mulai menentang kekuasaan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Menanggapi situasi ini, Ayatollah Ali Khamenei pada Jumat (9/1) menuding Amerika Serikat (AS) dan kelompok oposisi berada di balik gelombang protes tersebut. Tuduhan ini segera direspons oleh Presiden AS Donald Trump.
Trump menyatakan bahwa Iran sedang menghadapi “masalah besar” dan tidak segan melontarkan ancaman akan menyerang negara tersebut.
Untuk meredam gejolak, pemerintah Iran telah mengambil langkah tegas. Sejak Jumat (9/1), akses internet dan jaringan telepon di sejumlah wilayah Iran dilaporkan diputus. Pada saat yang sama, otoritas yudikatif Iran mengeluarkan pernyataan yang berisi ancaman hukuman berat bagi para perusuh yang terlibat dalam aksi demonstrasi.






