ANKARA – Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki telah menggelar dialog strategis dengan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Republik Indonesia pada Jumat, 09 Januari 2026. Dalam pertemuan tersebut, PPI Turki secara tegas mendorong integrasi sistematis lulusan Indonesia berlatar belakang Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika (STEM) dari Turki ke dalam ekosistem pertahanan nasional.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Indonesia untuk membangun kemandirian industri pertahanan serta memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) strategis di sektor tersebut. PPI Turki menyoroti bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan struktural dalam penyiapan dan penyerapan SDM berkompetensi tinggi, terutama bagi lulusan pendidikan tinggi luar negeri di bidang sains, teknologi, dan pertahanan.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Urgensi integrasi ini semakin mendesak mengingat catatan Mureks menunjukkan proyeksi lonjakan lulusan terbesar, atau yang disebut sebagai bonus demografi intelektual, akan terjadi pada periode 2026-2027. Gelombang talenta ini, menurut PPI Turki, harus dinavigasi dengan tepat agar dapat terserap ke sektor strategis dan tidak berujung pada loss of talent. Padahal, alumni Indonesia dari universitas di Turki, baik jenjang S1, S2, maupun S3, telah terpapar langsung pada ekosistem industri pertahanan maju yang terintegrasi antara negara, industri, dan akademisi.
“Lulusan Indonesia dari Turki merupakan aset strategis nasional. Namun hingga kini, potensi tersebut belum terintegrasi secara sistematis dalam perencanaan SDM pertahanan nasional,” ujar Naura Arifa, Ketua PPI Turki, dalam pemaparan kebijakan mereka.
Usulan Strategis PPI Turki untuk Integrasi SDM Pertahanan
Dalam rekomendasinya, PPI Turki mengusulkan dua poin strategis untuk memperkuat penyiapan dan penyerapan sumber daya manusia unggul di sektor pertahanan nasional. Usulan ini berfokus pada pembentukan jalur karier terstruktur serta penguatan ekosistem pembinaan pemuda berbasis industri pertahanan.
Poin pertama adalah pembentukan Defense Career Pathway & Program Upskilling Terstruktur. PPI Turki mengusulkan agar Kemenhan merancang jalur karier khusus (special recruitment channel) bagi lulusan terpilih dari Turki. Ini dapat diwujudkan melalui program magang strategis dan rekrutmen terarah di BUMN Pertahanan seperti Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL, dan LEN, serta di lembaga riset di bawah Kemenhan.
Selain itu, diusulkan pula penyelenggaraan Bridging Course atau Program Beasiswa Pelatihan Teknis. PPI Turki membayangkan peran negara dalam menjembatani kendala tingginya biaya sertifikasi teknis yang dibutuhkan industri. Melalui program ini, negara dapat memfasilitasi upskilling lulusan agar memenuhi standar BUMN (seperti Pindad, PT DI) maupun mitra strategis Turki (TUSAŞ, TAI).
“Nilai tawar lulusan Turki bukan hanya pada ijazah, tetapi kami memiliki keunggulan penguasaan Bahasa Turki, adaptabilitas budaya, dan telah menyerap semangat kemandirian (yerli ve milli) selama bertahun-tahun. Dengan sedikit sentuhan fasilitas sertifikasi dari negara, kami siap menjadi jembatan teknologi yang efektif,” tambah Naura.
Program tersebut diharapkan dijalankan dengan skema komitmen pengabdian pasca-pelatihan, guna menjamin return on investment negara sekaligus memberikan kepastian penempatan kerja bagi para peserta. Dengan demikian, pengembangan kompetensi SDM dapat berjalan seiring dengan kebutuhan strategis industri pertahanan nasional.
Poin kedua adalah Adopsi Model Pembinaan Pemuda Berbasis Ekosistem Pertahanan (Turkish Youth Defense Ecosystem). Keberhasilan Turki dalam membangun kemandirian industri pertahanan ditopang oleh ekosistem integratif yang menghubungkan mahasiswa, industri, dan negara, sebagaimana tercermin dalam TEKNOFEST. Model ini menekankan:
- Pendanaan riset mahasiswa berbasis kebutuhan industri pertahanan.
- Keterlibatan aktif industri dalam pembinaan dan inkubasi inovasi.
- Tersedianya jalur hilirisasi hasil riset ke dalam sistem produksi nasional.
Dalam konteks ini, PPI Turki menyatakan kesiapan untuk berperan sebagai mitra konseptor dan fasilitator transfer pengetahuan, khususnya dalam mereplikasi praktik-praktik terbaik yang relevan dan adaptif terhadap kebutuhan serta konteks pembangunan pertahanan Indonesia.
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Tekankan Regenerasi Praktisi STEM
Sejalan dengan usulan tersebut, Menteri Pertahanan RI, Jenderal TNI Purn Dr. Sjafrie Sjamsoeddin, dalam pidatonya di hadapan perwakilan mahasiswa Indonesia di Turki, menekankan pentingnya regenerasi praktisi teknologi muda berlatar belakang STEM untuk memperbaiki birokrasi dan BUMN.
Menurut Menhan, Indonesia tidak selalu membutuhkan figur yang telah berpengalaman puluhan tahun, melainkan talenta muda yang siap bekerja, berintegritas, dan berkembang dalam jangka panjang. Pemerintah, kata Menhan, tengah menyiapkan mekanisme clearing house dan sistem cohort talenta muda untuk menyaring, membina, dan menempatkan praktisi terbaik secara bertahap dan meritokratis di posisi strategis.
“Masalah utama kita bukan pada kecerdasan intelektual, tetapi integritas, nasionalisme, dan mentalitas,” tegasnya, seraya mengingatkan ancaman korupsi dan kooptasi yang kerap menggerus institusi negara.
Ajakan Pulang dan Mengabdi untuk Negeri
Dalam pidatonya, Menhan Sjafrie juga mendorong mahasiswa Indonesia di luar negeri untuk kembali dan bersaing di dalam negeri. Ia menegaskan bahwa “user” sejati dari pembangunan nasional adalah rakyat Indonesia.
“kalau kau bersaing di luar, yang menjadi wasit adalah user kamu yang menggaji kamu. Tapi kalau yang di dalam negeri, itu pemerintah dan atas nama rakyat yang gaji,” ungkap Menhan.
Turki juga dipandang sebagai mitra strategis dan alternatif penting dalam pengembangan teknologi, mengingat sejarah kontribusi Indonesia di masa lalu yang perlu kembali dikejar. Pidato tersebut ditutup dengan pesan moral agar generasi muda membangun karier secara bertahap, berani menghadapi risiko, dan tidak tergoda jalur instan tanpa pondasi kuat. Menhan juga meminta mahasiswa Indonesia untuk realistis dan tidak menghabiskan waktu berdebat tentang hal-hal yang tidak relevan atau termakan isu di media sosial.
Implikasi Kebijakan dan Optimalisasi SDM
PPI Turki menilai implementasi kebijakan ini akan berdampak positif pada penyiapan SDM pertahanan siap pakai dan berkelanjutan, optimalisasi investasi negara pada pendidikan luar negeri, penguatan agenda transfer teknologi dan kemandirian alutsista, serta pengurangan risiko brain drain. Dalam ringkasan Mureks, pendekatan ini juga akan meningkatkan efektivitas perencanaan SDM nasional. Dengan demikian, mahasiswa dan lulusan Indonesia di Turki diposisikan sebagai strategic human capital asset yang menjadi bagian integral dari arsitektur pembangunan pertahanan nasional.





