Nasional

Perburuan Nicolas Maduro: Antara Tuduhan Narkoterorisme atau Ambisi Energi Global?

Dunia internasional kembali dihadapkan pada eskalasi ketegangan antara dan Venezuela. Kali ini, Washington mengambil langkah drastis dengan mempertegas status hukum Presiden sebagai target penangkapan internasional, jauh melampaui sekadar sanksi ekonomi atau kecaman diplomatik.

Departemen Kehakiman AS telah lama mengeluarkan dakwaan terhadap Maduro, menuduhnya terlibat dalam “terorisme Narkotika” atau narco-terrorism. Dakwaan ini secara efektif menempatkan pemimpin sebuah negara berdaulat pada posisi yang sama dengan gembong kartel narkoba kelas kakap.

Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Narasi Washington: Memutus Rantai Kartel de los Soles

Melalui Drug Enforcement Administration (DEA), Amerika Serikat secara konsisten menuding Presiden Maduro memimpin “Cartel de los Soles” (Kartel Matahari). Tuduhan ini mengklaim bahwa elit militer Venezuela, di bawah restu Maduro, telah memfasilitasi pengiriman berton-ton kokain menuju wilayah AS. Kerja sama ini diduga melibatkan kelompok gerilyawan Kolombia seperti FARC.

Bagi publik Amerika Serikat, narasi ini memiliki daya jual tinggi. Di tengah krisis opioid dan ancaman narkotika yang merusak tatanan sosial, tindakan keras terhadap sumber pasokan dianggap sebagai langkah heroik. Washington memandang Maduro bukan lagi sebagai kepala negara dengan legitimasi politik, melainkan sebagai ancaman keamanan nasional (national security threat). Penawaran hadiah sebesar USD 15 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya adalah pesan yang sangat jelas: AS tidak mengakui batas kedaulatan negara jika berkaitan dengan “kejahatan luar biasa” ini.

Isu Minyak: Jantung Persoalan Geopolitik

Namun, di balik narasi penyelamatan generasi Amerika Serikat dari ancaman narkoba, tersimpan lapisan geopolitik yang jauh lebih kompleks. Pertanyaan kritis mulai muncul: Mengapa Venezuela, dan mengapa sekarang? Tidak dapat dipungkiri bahwa daya tarik utama Venezuela di mata dunia adalah kekayaan bawah tanahnya.

Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti (proven oil reserves) terbesar di planet ini, melampaui Arab Saudi. Dalam konteks krisis energi global dan ketidakpastian pasokan akibat konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur, kendali atas Venezuela menjadi variabel strategis yang luar biasa penting. Catatan Mureks menunjukkan, kepentingan energi seringkali melampaui retorika penegakan hukum.

Selama bertahun-tahun, AS telah menerapkan sanksi berat terhadap PDVSA, perusahaan minyak milik negara Venezuela, dengan tujuan melumpuhkan rezim Maduro. Ironisnya, dunia juga menyaksikan bagaimana AS terkadang melunakkan sanksi tersebut ketika harga minyak global melonjak, seperti yang terjadi pasca-konflik Ukraina-Rusia. Hal ini mengindikasikan bahwa kepentingan energi seringkali menjadi faktor penentu dalam kebijakan luar negeri.

Agenda Tersembunyi dan Peran Mendesak PBB

Ada kecurigaan kuat di kalangan analis internasional bahwa label “negara narkoba” (narco-state) yang disematkan kepada Venezuela adalah instrumen politik untuk membenarkan perubahan rezim (regime change). Dengan menumbangkan Maduro, AS berpotensi memasang pemerintahan yang lebih “bersahabat” dengan kepentingan korporasi energi Barat, sekaligus memastikan bahwa aliran minyak dari Karibia tidak jatuh ke tangan pengaruh Tiongkok atau Rusia.

Di sinilah letak urgensi bagi dunia internasional untuk tidak hanya menjadi penonton pasif. Upaya penangkapan seorang kepala negara oleh kepala negara lain, apapun alasannya, adalah preseden yang sangat berbahaya dalam hukum internasional. Jika dibiarkan tanpa telaah mendalam, tindakan ini bisa menjadi pembenaran bagi negara-negara adidaya untuk melakukan hal serupa terhadap pemimpin negara lain yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingan nasional mereka.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan komunitas internasional tidak boleh hanya terpaku pada isu narkoba. Ada beberapa poin krusial yang perlu ditelaah lebih lanjut, termasuk agenda tersembunyi terkait kontrol sumber daya. Venezuela bukan hanya soal minyak, tetapi juga gas alam dan emas melimpah. Dalam peta persaingan geopolitik abad ke-21, siapa pun yang menguasai cadangan energi di Amerika Selatan akan memiliki daya tawar yang kuat dalam menentukan harga pasar global dan stabilitas ekonomi regional.

Jika Amerika Serikat benar-benar peduli pada keselamatan warganya dari narkoba, pendekatan yang diambil seharusnya adalah kolaborasi regional yang transparan, bukan tindakan sepihak yang mengarah pada provokasi militer atau ekstradisi paksa yang melompati hukum internasional.

Kesimpulan: Dunia Perlu Bersuara

Upaya penangkapan Presiden Venezuela oleh Amerika Serikat tidak boleh dianggap sebagai berita kriminalitas biasa. Ini adalah ujian bagi integritas hukum internasional. Jika dunia diam, maka kita membenarkan sistem internasional di mana sumber daya alam sebuah negara bisa menjadi “kutukan” yang memicu intervensi asing dengan dalih moralitas.

Sudah saatnya PBB mengambil peran lebih aktif untuk menjadi mediator penengah. Harus ada dialog yang mengedepankan hak asasi manusia warga Venezuela dan kepastian hukum yang adil. Jangan sampai perburuan terhadap satu orang menghancurkan tatanan sebuah bangsa dan mengorbankan jutaan nyawa demi setetes minyak.

Dunia internasional harus jeli melihat bahwa di balik kepulan asap isu narkoba, ada perebutan kontrol atas “emas hitam” yang sedang berlangsung. Di tengah pertarungan gajah-gajah kekuasaan ini, kebenaran dan kedaulatan negara kecil seringkali menjadi korban yang pertama terlupakan.

Mureks