Nasional

Ukraina Peringatkan Ancaman Global: Rusia Tembakkan Rudal Hipersonik Oreshnik Dekat Perbatasan NATO

Rusia dilaporkan telah menembakkan rudal hipersonik Oreshnik ke wilayah Ukraina bagian barat pada Kamis malam, 8 Januari 2026. Serangan ini terjadi di dekat perbatasan Polandia, negara anggota NATO, memicu kekhawatiran serius di Kiev yang menyebutnya sebagai ancaman baru bagi keamanan Eropa.

Eskalasi Serangan dan Klaim Moskow

Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim penembakan rudal Oreshnik ini merupakan respons atas dugaan upaya serangan drone terhadap salah satu kediaman Presiden Vladimir Putin pada Desember 2025. Namun, tuduhan tersebut dibantah keras oleh Ukraina, bahkan Amerika Serikat melalui Presiden Donald Trump menyatakan tidak percaya insiden itu terjadi.

Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id

Ini adalah kali kedua Rusia menggunakan rudal Oreshnik terhadap Ukraina, yang kali ini disertai dengan serangan udara intensif. Menurut catatan Mureks, rudal Oreshnik disebut dirancang untuk memproyeksikan kekuatan di seluruh Eropa dan, klaim Moskow, “tak mungkin dicegat.” Rudal ini juga memiliki kemampuan untuk membawa hulu ledak nuklir dan bergerak dengan kecepatan mencapai 13.000 km per jam.

Dampak Serangan dan Peringatan Ukraina

Serangan rudal Oreshnik menghantam wilayah Lviv, Ukraina bagian Barat, sekitar 60 kilometer dari perbatasan Polandia. Moskow mengklaim targetnya adalah pabrik drone dan infrastruktur energi, sementara pejabat Ukraina hanya menyebut “infrastruktur yang tak ditentukan.”

Dampak serangan sangat parah. Militer Ukraina melaporkan total 242 drone dan 36 rudal ditembakkan Rusia. Akibatnya, empat orang tewas di Kiev, termasuk seorang petugas medis darurat yang menjadi korban dua serangan drone beruntun. Lebih dari 20 orang terluka, dan pemadaman listrik melanda lebih dari setengah juta rumah di tengah suhu ekstrem -10 derajat Celcius. Pasokan air dan pemanas juga terputus, memaksa warga berlindung di bawah tanah.

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiha, melalui platform X, menegaskan bahwa serangan semacam ini di dekat perbatasan Uni Eropa dan NATO merupakan ancaman serius. “Serangan seperti itu di dekat perbatasan Uni Eropa dan NATO merupakan ancaman serius bagi keamanan di Benua Eropa dan ujian bagi komunitas transatlantik,” tulis Sybiha.

Sybiha juga mengecam keras justifikasi Rusia. “Sungguh tidak masuk akal bahwa Rusia mencoba membenarkan serangan ini dengan ‘serangan terhadap kediaman (Vladimir) Putin’ palsu yang tidak pernah terjadi’,” ujarnya, menambahkan bahwa “Putin menggunakan rudal balistik jarak menengah (IRBM) di dekat perbatasan Uni Eropa dan NATO sebagai respons terhadap halusinasi pribadinya. Ini benar-benar ancaman global dan menuntut respons global.”

Respons Internasional dan Kekhawatiran Eskalasi

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, juga menyuarakan keprihatinan mendalam. “Penggunaan rudal Oreshnik oleh Rusia yang dilaporkan, merupakan eskalasi yang jelas terhadap Ukraina dan dimaksudkan sebagai peringatan bagi Eropa dan AS,” kata Kallas di X.

Kallas mendesak negara-negara Uni Eropa untuk bertindak cepat. “Negara-negara Uni Eropa harus lebih meningkatkan persediaan pertahanan udara mereka dan segera bertindak. Kita juga harus meningkatkan biaya perang ini bagi Moskow, termasuk melalui sanksi yang lebih keras,” tambahnya.

Sebelumnya, Moskow pertama kali menembakkan rudal Oreshnik pada November 2024 ke sebuah pabrik militer di Ukraina. Sumber-sumber Ukraina saat itu menyebut rudal tersebut membawa hulu ledak tiruan. Doug Barry, Spesialis Pertahanan dan Kedirgantaraan di International Institute for Strategic Studies, London, menyatakan, “Penggunaan terbarunya menimbulkan pertanyaan apakah ini amunisi uji coba lama atau rudal produksi baru.”

Mureks