Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menargetkan pengambilalihan industri minyak Venezuela. Langkah ini diambil menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Sabtu malam waktu setempat atas tuduhan peredaran narkoba dan senjata ke AS.
Dalam konferensi pers terkait penangkapan Maduro, Trump menyatakan bahwa industri minyak Venezuela akan “menghasilkan banyak uang” dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Rencana AS untuk Industri Minyak Venezuela
Trump menegaskan komitmennya untuk merevitalisasi sektor energi Venezuela yang terpuruk. “Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara ini,” kata Trump, seperti dilansir New York Times pada Minggu (4/1/2026).
Menurut Trump, industri minyak Venezuela telah “benar-benar gagal” untuk waktu yang lama. Ia menambahkan, “Mereka hampir tidak memompa apa pun dibandingkan dengan apa yang seharusnya bisa mereka pompa.”
Potensi dan Tantangan Industri Minyak Venezuela
Mureks mencatat bahwa Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, dengan lebih dari 300 miliar barel minyak di bawah tanah. Namun, negara ini kesulitan memproduksi sekitar satu juta barel per hari, atau hanya sekitar 1 persen dari produksi global.
Sebagian besar minyak mentah Venezuela adalah jenis ekstra berat, yang rawan mencemari lingkungan dan mahal untuk diproses. Akibatnya, kemampuan produksi minyak negara itu tak kunjung membaik setelah sempat memompa 2 juta barel per hari pada era 2010-an.
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pengelola minyak mentah Venezuela, PDVSA, dilaporkan kekurangan modal dan keahlian untuk meningkatkan produksi. Sebuah studi terbaru oleh Energy Aspects, sebuah perusahaan riset, menyebutkan bahwa ladang minyak negara itu sudah usang dan menderita akibat “bertahun-tahun kurangnya pengeboran, infrastruktur yang bobrok, seringnya pemadaman listrik, dan pencurian peralatan.”
Peran Chevron di Tengah Sanksi AS
Amerika Serikat telah memberlakukan sanksi terhadap minyak Venezuela, yang kini mayoritas diekspor ke China. Namun, satu perusahaan AS yang masih beroperasi di negara itu adalah Chevron.
Perusahaan asal Texas tersebut memproduksi sekitar seperempat minyak Venezuela. Chevron tetap bertahan di Venezuela sejak awal abad ini, ketika perusahaan lain terpaksa keluar, dengan harapan kondisi akan membaik. Setengah dari produksi Chevron diekspor ke Amerika Serikat.
Setelah penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dalam aksi militer AS, Chevron menyatakan berupaya memastikan keselamatan karyawan dan operasinya di negara tersebut. Perusahaan minyak raksasa ini telah beroperasi di Venezuela sejak 1923 dan mempertahankan lima proyek produksi di darat dan lepas pantai.
“Dengan lebih dari satu abad berada di Venezuela, kami mendukung transisi yang damai dan sesuai hukum yang mendorong stabilitas dan pemulihan ekonomi,” kata Kevin Slagle, juru bicara Chevron.
Slagle menambahkan, “Kami siap bekerja secara konstruktif dengan pemerintah AS selama periode ini, memanfaatkan pengalaman dan kehadiran kami untuk memperkuat keamanan energi AS.”
Namun, pada Sabtu itu, seusai serangan AS, Chevron mengatakan telah memberikan pernyataan yang salah. Perusahaan kemudian mengeluarkan pernyataan baru yang menghilangkan penyebutan pemerintah AS, dengan mengatakan: “Kami terus beroperasi sepenuhnya sesuai dengan semua hukum dan peraturan yang relevan.”






