Internasional

Ketegangan di Iran Memanas: Protes Ekonomi Meluas, Jenderal Peringatkan Ancaman AS dan Israel

Ketegangan di Iran kembali memuncak seiring meluasnya gelombang protes yang dipicu oleh krisis ekonomi yang memburuk. Aparat keamanan dilaporkan menggunakan gas air mata untuk membubarkan demonstrasi di Teheran, sementara pimpinan militer Iran mengeluarkan peringatan keras terhadap tekanan dan ancaman dari Amerika Serikat (AS) serta Israel.

Insiden penggunaan gas air mata terjadi saat bentrokan antara demonstran dan polisi di pusat Teheran pada Selasa malam, 06 Januari 2026. Media Iran melaporkan, gas air mata sempat melayang ke arah Rumah Sakit Sina. Namun, otoritas terkait menegaskan bahwa fasilitas kesehatan tersebut bukan sasaran langsung.

Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

“Untuk membubarkan kerumunan, gas air mata digunakan di gang yang berdekatan dengan Rumah Sakit Sina,” demikian pernyataan Universitas Ilmu Kedokteran Teheran yang dikutip kantor berita ISNA. Universitas tersebut menambahkan bahwa “reaksi alami para demonstran adalah menjauhkan gas dari lokasi berkumpul”, sehingga sebagian zat itu secara tidak sengaja terbawa angin ke arah rumah sakit. Pernyataan ini sekaligus membantah tudingan bahwa gas air mata sengaja ditembakkan ke fasilitas medis.

Rumah Sakit Sina berlokasi sekitar dua kilometer dari Grand Bazaar Teheran, sebuah pusat aktivitas ekonomi yang menjadi salah satu titik bentrokan utama pada hari yang sama. Mureks mencatat bahwa protes terbaru ini dipicu oleh kemarahan publik atas melonjaknya biaya hidup di tengah nilai tukar rial Iran yang kembali menyentuh titik terendah terhadap mata uang asing.

Aksi unjuk rasa bermula pada 28 Desember 2025 dengan penutupan toko oleh para pedagang di Teheran, kemudian meluas ke berbagai wilayah lain, terutama kawasan barat yang banyak dihuni minoritas Kurdi dan Lor. Meskipun belum mencapai skala demonstrasi nasional 2022-2023 yang dipicu kematian Mahsa Amini, atau gelombang protes besar pasca pemilu 2009, situasi ini dinilai menjadi tantangan baru bagi kepemimpinan Iran.

Tekanan semakin berat karena krisis ekonomi yang berkepanjangan dan dampak konflik 12 hari dengan Israel pada Juni 2025 lalu. Di sisi lain, tensi politik eksternal juga turut memanas.

Peringatan Militer Iran

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Jenderal Amir Hatami, memperingatkan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam menghadapi ancaman dari luar negeri. “Republik Islam Iran menganggap peningkatan retorika permusuhan terhadap bangsa Iran sebagai ancaman dan tidak akan mentolerir kelanjutannya tanpa menanggapi,” kata Hatami, dikutip kantor berita Fars.

Pernyataan Jenderal Hatami ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan campur tangan jika demonstran di Iran terbunuh. Selain itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga secara terbuka menyatakan dukungan terhadap protes anti-pemerintah di Iran.

Referensi penulisan: www.cnbcindonesia.com

Mureks