Rusia kembali memicu ketegangan internasional setelah meluncurkan rudal hipersonik Oreshnik ke wilayah Ukraina barat pada Jumat malam, 9 Januari 2026. Serangan ini terjadi hanya beberapa kilometer dari perbatasan Polandia, negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), dan segera menuai kecaman keras dari sekutu Eropa Ukraina.
Otoritas Ukraina, seperti dilansir Reuters, Sabtu (10/1/2026), mengidentifikasi rudal yang ditembakkan sebagai Oreshnik, senjata balistik jarak menengah yang diklaim Kremlin mustahil dicegat. Rudal ini dirancang untuk memproyeksikan kekuatan Rusia ke seluruh Eropa. Ini merupakan kali kedua Rusia menggunakan Oreshnik terhadap Ukraina.
Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id
Serangan tersebut merupakan bagian dari gelombang besar serangan udara yang juga menewaskan empat orang di Kyiv, ibu kota Ukraina. Selain itu, insiden ini memutus aliran listrik di Kyiv dan merusak gedung Kedutaan Besar Qatar. Di Lviv, Ukraina barat, rudal menghantam bengkel milik sebuah perusahaan negara dekat perbatasan Polandia. Dampak dari beberapa submunisi menyebabkan “penetrasi kecil pada struktur beton” di bengkel tersebut serta membentuk kawah di area hutan sekitarnya.
Meskipun Oreshnik diketahui mampu membawa hulu ledak nuklir, seorang pejabat senior Ukraina menyatakan rudal yang digunakan kali ini tampaknya membawa hulu ledak inert atau “dummy”. Dinas keamanan negara Ukraina (SBU) secara terpisah menyatakan Rusia juga berupaya menghancurkan infrastruktur sipil di wilayah sekitar, di tengah kondisi cuaca yang “memburuk dengan cepat”.
Klaim Balasan dan Bantahan
Moskow mengeklaim peluncuran Oreshnik dilakukan sebagai balasan atas apa yang mereka sebut sebagai upaya serangan drone Ukraina terhadap salah satu kediaman Presiden Vladimir Putin bulan lalu. Namun, klaim tersebut dibantah tegas oleh Ukraina dan Amerika Serikat, yang menyatakan insiden serangan terhadap kediaman Putin tidak pernah terjadi.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiha menegaskan bahwa serangan di dekat perbatasan Uni Eropa dan NATO merupakan “ancaman serius bagi keamanan”. Sybiha menulis di X, “Tidak masuk akal Rusia mencoba membenarkan serangan ini dengan ‘serangan terhadap kediaman Putin’ yang palsu dan tidak pernah terjadi.” Ia menambahkan, “Putin menggunakan rudal balistik jarak menengah di dekat perbatasan Uni Eropa dan NATO sebagai respons atas halusinasinya sendiri, ini benar-benar ancaman global dan ini menuntut respons global.”
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky juga memperingatkan negara-negara tetangga Ukraina agar menyadari risiko yang ada. Dalam pidato video malam harinya, Zelensky menyatakan, “Dari sudut pandang penggunaan balistik jarak menengah, ini adalah tantangan yang sama bagi Warsawa, Bucharest, Budapest, dan banyak ibu kota lainnya.” Ia menekankan, “Semua orang harus memahaminya dengan cara yang sama dan menanggapinya dengan tingkat keseriusan yang sama.”
Eskalasi Jelas dan Respons Global
Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah pertemuan puncak negara-negara Eropa yang berjanji menyiapkan pasukan untuk Ukraina jika tercapai gencatan senjata, serta dukungan Washington terhadap pemberian jaminan keamanan bagi Kyiv. Dalam ringkasan Mureks, serangan ini dinilai para analis sebagai upaya menekan Ukraina pada momen krusial pembicaraan damai, menyusul sepekan yang penuh kemunduran bagi Moskow, termasuk penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyebut penggunaan Oreshnik sebagai “eskalasi yang jelas”. Kallas menulis di X, “Penggunaan Oreshnik oleh Rusia merupakan eskalasi nyata terhadap Ukraina dan dimaksudkan sebagai peringatan bagi Eropa dan Amerika Serikat.” Ia mendesak negara-negara Uni Eropa untuk memperkuat stok pertahanan udara dan segera mengirimkannya, serta menaikkan biaya perang bagi Moskow, termasuk melalui sanksi yang lebih keras.
Kanselir Jerman Friedrich Merz, yang telah berbicara dengan para pemimpin Prancis dan Inggris, menyuarakan sentimen serupa. “Gestur ancaman dimaksudkan untuk menebar ketakutan, tetapi itu tidak akan berhasil. Kami berdiri bersama Ukraina,” tegas Merz.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan ia tidak percaya insiden serangan terhadap kediaman Putin itu terjadi, meskipun mengakui ada kejadian lain di wilayah tersebut. Kyiv menilai tuduhan bahwa Ukraina menyerang kediaman Putin di wilayah Novgorod pada 29 Desember sebagai “kebohongan absurd” yang bertujuan menggagalkan perundingan damai.






