Internasional

Iran Bergejolak: Mata Uang Tumbang Picu Protes Massal, Rezim Khamenei Terancam Kolaps

Gelombang demonstrasi besar-besaran telah melanda Iran sejak akhir Desember 2025, dipicu oleh krisis ekonomi yang parah dan anjloknya nilai mata uang rial. Protes yang bermula dari tuntutan ekonomi kini berkembang menjadi kritik tajam terhadap rezim teokratis di negara itu, memperlihatkan ketidakpuasan publik yang semakin luas terhadap kepemimpinan.

Krisis Ekonomi Memicu Gelombang Protes

Situasi di Iran semakin memanas setelah nilai rial terhadap dolar Amerika Serikat (AS) anjlok hingga mencapai rekor terendah. Inflasi yang terus meningkat membuat harga kebutuhan pokok meroket, menciptakan kesulitan hidup yang signifikan bagi banyak warga.

Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id

Menurut catatan Mureks, demonstrasi ini dimulai pada 28 Desember 2025, diawali oleh aksi para pedagang di Grand Bazaar Tehran yang menutup toko mereka sebagai bentuk protes. Sejak saat itu, gelombang ketidakpuasan menyebar ke berbagai wilayah, mengubah tuntutan ekonomi menjadi seruan perubahan politik.

Gambar-gambar yang beredar di media internasional seperti Reuters dan AFP pada Jumat (9/1/2026) menunjukkan potret kerusuhan yang terjadi. Salah satu tangkapan kamera memperlihatkan sebuah mobil terbakar saat para pengunjuk rasa meneriakkan slogan di luar kantor polisi di Azna, Provinsi Lorestan, Iran, dalam salah satu demonstrasi terbesar terkait kesulitan ekonomi.

Korban Jiwa dan Penangkapan Massal

Laporan mengenai korban jiwa dan penangkapan bervariasi dari berbagai kelompok hak asasi manusia. Kelompok hak asasi Hengaw melaporkan pada Rabu, sedikitnya 25 orang telah tewas, termasuk empat anak di bawah umur, sejak protes dimulai. Sementara itu, jaringan aktivis HRANA menyebut angka setidaknya 29 korban tewas dan 1.203 orang ditangkap hingga 5 Januari.

Di sisi lain, otoritas Iran belum mengeluarkan jumlah resmi korban dari para demonstran. Mereka hanya mengonfirmasi bahwa sedikitnya dua anggota aparat keamanan telah tewas dalam bentrokan, dan puluhan lainnya luka-luka dalam konflik yang terjadi di berbagai wilayah.

Reaksi Internasional dan Isu Pelarian Pemimpin Tertinggi

Protes ini juga mendapatkan perhatian internasional, terutama dari Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan intervensi jika pasukan Iran melakukan tindakan keras terhadap demonstran, menambah tekanan pada Teheran.

Di tengah gejolak ini, sebuah laporan bahkan menyebutkan adanya skenario pelarian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, di mana ia akan meninggalkan Iran dan menuju Rusia. Isu ini, meskipun belum terkonfirmasi, mencerminkan tingkat ketidakpastian dan potensi kolapsnya rezim yang kini dihadapi Iran.

Mureks