Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani baru-baru ini menerima kunjungan perwakilan Tsingshan Group, raksasa industri asal China. Pertemuan penting ini terungkap melalui unggahan di akun Instagram pribadi Rosan, @roesanroeslani, pada Jumat (9/1/2026).
Dalam unggahannya, Rosan menegaskan bahwa Indonesia dan Tsingshan Group telah menjalin kerja sama jangka panjang. Kerja sama ini, menurut Mureks, berfokus pada pengembangan industri berbasis nikel dan program hilirisasi mineral di Tanah Air.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Pembahasan Keberlanjutan Investasi dan Hilirisasi
“Indonesia dan Tsingshan Group telah menjalin kerja sama yang panjang di industri berbasis nikel dan hilirisasi tanah air,” tulis Rosan dalam unggahan akun Instagram pribadinya, dikutip Jumat (9/1/2026).
Pertemuan yang berlangsung pada awal pekan tersebut melibatkan Rosan dengan Chairman of External Tsingshan, Mr. Xiang Binghe, serta Direktur PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Mr. Scott Ya. Diskusi mereka mencakup beberapa poin krusial.
“Kami membahas keberlanjutan investasi, pendalaman nilai tambah, serta arah pengembangan kawasan industri, agar semakin selaras dengan visi pembangunan jangka panjang Indonesia,” kata Rosan.
Profil Tsingshan Group dan Jejaknya di Indonesia
Sebagai informasi, Tsingshan Holdings Group adalah perusahaan swasta China yang bergerak di industri baja tahan karat dan nikel. Didirikan pada tahun 1988 oleh Xiang Guangda di Wenzhou, perusahaan ini mulai merambah industri nikel di Indonesia sejak tahun 2009.
Salah satu anak usaha Tsingshan yang beroperasi di Indonesia adalah PT Weda Bay Nickel. Mengutip situs resmi Weda Bay Nickel, perusahaan ini merupakan perusahaan patungan dengan Tsingshan sebagai pemegang saham mayoritas sebesar 51,3%. Sementara itu, Eramet memiliki saham 37,8%, dan PT Antam Tbk memiliki 10% saham.
Selain itu, Tsingshan juga memiliki PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) yang berlokasi di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park, Sulawesi Tengah. ITSS bergerak di bidang pengolahan mineral logam dan produksi stainless steel. Pemegang saham ITSS antara lain Tsingshan Holding Group Company Limited, Tsingtuo Group Co. Ltd., Hanwa Company Limited, dan Ruipu Technology Group Company Limited.
PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) juga memiliki 10% saham di ITSS, menjadikannya satu-satunya perusahaan dari Indonesia yang menjadi pemegang saham di entitas tersebut. Di Morowali, Tsingshan Holding Group juga memiliki anak perusahaan lain yang bergerak di bidang serupa, seperti PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry (GCNS) dan PT Sulawesi Mining Investment (SMI).






