Internasional

Netanyahu: Israel Akan Lepas dari Bantuan Militer AS dalam Sepuluh Tahun

Perdana Menteri , , menyatakan ambisi besar untuk mengakhiri ketergantungan militer negaranya pada Amerika Serikat. Netanyahu menargetkan Israel dapat sepenuhnya mandiri tanpa bantuan militer dari Washington dalam kurun waktu satu dekade ke depan.

Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu dalam sebuah wawancara dengan The Economist yang dipublikasikan pada Jumat (9/1) waktu setempat. Ia menegaskan bahwa sudah saatnya Israel memasuki fase “kedewasaan” dalam aspek pertahanan.

Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!

“Saya ingin mengurangi (ketergantungan) militer tersebut dalam 10 tahun ke depan,” ujar Netanyahu, seperti dikutip dari Reuters. Ketika ditanya lebih lanjut apakah pengurangan itu berarti hingga mencapai angka nol, Netanyahu menjawab dengan tegas, “Ya.”

Netanyahu mengaku telah menyampaikan pesan serupa kepada Presiden AS Donald Trump dalam kunjungan terakhirnya. Ia menekankan bahwa meskipun Israel sangat menghargai dukungan besar yang diberikan AS selama berpuluh-puluh tahun, Israel kini telah mengembangkan kapasitas pertahanan yang sangat mumpuni.

Saat ini, militer Israel masih sangat bergantung pada kesepakatan jangka panjang dengan AS. Berdasarkan nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada tahun 2016 dan berlaku hingga September 2028, Washington berkomitmen memberikan bantuan militer senilai US$38 miliar atau sekitar Rp594 triliun.

  • US$33 miliar dalam bentuk hibah untuk pembelian peralatan militer.
  • US$5 miliar khusus dialokasikan untuk pengembangan sistem pertahanan rudal.

Langkah menuju kemandirian militer ini bukan sekadar retorika. Pada Desember lalu, Netanyahu mengumumkan bahwa Israel akan mengalokasikan dana sebesar 350 miliar shekel, setara dengan Rp1.600 triliun (dengan kurs Rp4.600), untuk mengembangkan industri senjata dalam negeri. Proyek ambisius ini bertujuan untuk meminimalisir ketergantungan pada pasokan negara lain dan memperkuat posisi Israel sebagai produsen teknologi pertahanan global.

Catatan Mureks menunjukkan, ekspor pertahanan Israel melonjak 13 persen pada tahun lalu. Peningkatan ini didorong oleh banyaknya kontrak internasional untuk teknologi pertahanan udara tingkat tinggi (multi-layered aerial defence systems) milik Israel yang mulai diminati pasar global.

Meskipun Netanyahu berkomitmen untuk menghentikan bantuan ini di masa depan, tantangan besar menanti dalam hal penyesuaian anggaran nasional. Israel perlu menutupi celah pendanaan yang selama ini disokong oleh ‘Paman Sam’ jika ingin mewujudkan ambisi kemandirian militernya.

Mureks