Setiap kali musibah melanda, alam hampir selalu menjadi pihak pertama yang disalahkan. Hujan deras, angin kencang, atau cuaca ekstrem sering disebut sebagai pemicu utama banjir, tanah longsor, dan berbagai bencana yang datang silih berganti. Namun, seiring frekuensi kejadian yang meningkat, semakin jelas bahwa penjelasan semacam itu tidak lagi sepenuhnya menggambarkan realitas. Banyak bencana hari ini justru berakar dari ulah dan kelalaian manusia itu sendiri.
Ketika Keseimbangan Alam Terusik oleh Tangan Manusia
Pada dasarnya, alam bekerja sesuai siklusnya. Air hujan meresap ke tanah, sungai mengalir pada jalurnya. Persoalan muncul ketika keseimbangan alami ini dirusak. Hutan ditebang tanpa kendali, daerah resapan air berubah menjadi permukiman atau beton, dan sungai beralih fungsi menjadi tempat pembuangan sampah. Ketika hujan tiba, air tidak lagi memiliki ruang untuk mengalir dan meresap, sehingga banjir tak terhindarkan. Dalam konteks ini, sulit untuk menuding alam sebagai satu-satunya penyebab.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Ironisnya, setiap bencana seolah selalu datang sebagai kejutan. Padahal, tanda-tanda peringatan telah lama terlihat. Sungai yang menyempit, tata ruang yang semrawut, hingga peringatan dari para ahli lingkungan sering kali diabaikan. Kita baru sibuk mencari kambing hitam setelah rumah terendam atau akses jalan terputus. Bencana diperlakukan sebagai peristiwa dadakan, bukan sebagai konsekuensi dari serangkaian keputusan dan tindakan yang keliru.
Lingkaran Saling Menyalahkan dan Normalisasi Bencana
Pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha sering kali terjebak dalam lingkaran saling menyalahkan yang tak berujung. Pemerintah menuding rendahnya kesadaran masyarakat, masyarakat mengkritik lemahnya pengawasan negara, sementara pelaku usaha berlindung di balik izin dan legalitas. Akibatnya, tidak ada pihak yang benar-benar mengambil tanggung jawab penuh. Di tengah perdebatan itu, korban bencana terus bertambah dan kerusakan lingkungan semakin parah. Mureks mencatat bahwa pola ini terus berulang, menghambat upaya pencegahan yang efektif.
Namun, tidak adil pula jika seluruh kesalahan hanya dibebankan pada satu pihak. Masalah lingkungan adalah persoalan bersama. Kebijakan yang lemah memang berkontribusi besar, tetapi kebiasaan kecil yang dianggap sepele juga turut memperparah keadaan. Membuang sampah sembarangan, mengabaikan ruang hijau, atau bersikap acuh terhadap lingkungan sekitar adalah bagian dari masalah yang sering kita anggap remeh.
Yang lebih mengkhawatirkan, bencana perlahan menjadi sesuatu yang dinormalisasi. Banjir tahunan dianggap hal biasa, tanah longsor diperlakukan sebagai risiko wilayah, dan kebakaran hutan seolah rutinitas musiman. Ketika bencana sudah dianggap wajar, keinginan untuk mencegahnya pun melemah. Kita sibuk beradaptasi, tetapi lupa untuk berbenah secara fundamental.
Saatnya Mengubah Cara Pandang dan Bertindak Nyata
Sudah saatnya cara pandang ini diubah secara radikal. Bencana tidak selalu datang karena alam yang murka, melainkan karena manusia yang abai. Alam hanya bereaksi atas perlakuan yang kita berikan. Jika eksploitasi terus dilakukan tanpa batas dan kepedulian hanya muncul saat musibah terjadi, maka bencana serupa akan terus berulang tanpa henti.
Mengakui bahwa kita adalah bagian dari penyebab bencana bukanlah hal yang mudah. Namun, pengakuan itu krusial sebagai langkah awal untuk berubah. Tanpa keberanian untuk bercermin dan mengevaluasi diri, upaya pencegahan hanya akan menjadi wacana belaka. Lingkungan tidak membutuhkan pembenaran, tetapi tindakan nyata dan komitmen jangka panjang dari semua pihak.
Pada akhirnya, pertanyaan krusialnya bukan lagi seberapa ekstrem cuaca yang kita hadapi, melainkan seberapa serius kita mau berubah sebelum peringatan berikutnya datang kembali.






