Satuan Tugas (Satgas) Rehabilitasi Pascabencana Sumatera menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Badan Informasi Geospasial (BIG) untuk mempercepat pemetaan lokasi relokasi hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) bagi masyarakat terdampak bencana. Kolaborasi ini bertujuan memastikan lokasi yang dipilih aman dan lahan yang dibutuhkan telah disiapkan oleh pemerintah.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Ketua Satgas Rehabilitasi Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, mengungkapkan hal tersebut usai rapat satgas di Kantor Kementerian Dalam Negeri pada Kamis (8/1/2026). Ia menekankan pentingnya peran lembaga riset dalam proses ini.
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
BRIN dan BIG Kaji Lokasi Relokasi
“Memang kami juga sudah minta bantuan dan salah satunya akan masuk dalam Satgas ini yaitu BRIN (Badan Riset Inovasi Nasional) ini juga akan melakukan kajian. Ditambah dengan BIG (Badan Informasi Geospasial),” ujar Tito Karnavian.
Menurut Tito, BRIN dan BIG akan bertugas mengkaji secara mendalam lokasi-lokasi yang akan dibangun huntara maupun huntap. Kajian ini krusial untuk menghindari risiko bencana serupa di masa mendatang.
Terkait penyediaan lahan, Tito memastikan bahwa pemerintah, baik pusat maupun daerah, akan menyediakan area yang diperlukan. Bahkan, lahan pemerintah yang saat ini digunakan oleh pihak swasta juga menjadi opsi.
“Misalnya HGU (Hak Guna Usaha) misalnya, seperti Tamiang. Tamiang itu kami rapat dengan Bupati dan Forkopimda di sana itu ada beberapa lahan-lahan sawit ya yang ada di dekat-dekat kota di sana yang yang sudah dikomunikasikan juga kepada pemegang HGU-nya mereka sanggup untuk melepaskan sebagian,” jelas Tito, menyoroti upaya komunikasi dengan pemegang HGU di Tamiang.
Wakil Ketua Satgas, Letjen TNI Richard Tampubolon, menambahkan bahwa setiap lokasi relokasi akan melalui asesmen ketat dari kementerian terkait. Hal ini untuk memberikan jaminan keamanan bagi para penghuni baru.
“Tempat ini juga akan ada asesmennya dari kementerian terkait dan jaminan bahwa tempat-tempat atau relokasi rumah-rumah yang baru ini tempat yang baru ini memang dipandang dan diyakini atas asesmen dari kementerian lembaga terkait itu aman,” ucap Richard.
Mureks mencatat bahwa koordinasi lintas lembaga ini menjadi kunci dalam upaya rehabilitasi pascabencana yang komprehensif, tidak hanya fokus pada pembangunan fisik tetapi juga mitigasi risiko jangka panjang.






