Nasional

Parkiran Informal Menjamur di Luar Stasiun Cikarang, Pengguna Pilih Praktis Meski Minim Fasilitas

Deru mesin motor bersahut-sahutan kini mendominasi sepanjang kawasan Pasar Lama Cikarang, tepatnya di luar Stasiun Cikarang, Jalan Yos Sudarso, Karang Asih, Cikarang Utara. Pemandangan ini jauh berbeda dengan beberapa tahun silam yang dipenuhi lalu lalang pembeli pasar atau aktivitas perdagangan ruko.

Ruas jalan yang dahulu menjadi sentra ruko dan lapak pedagang kini berubah fungsi menjadi hamparan parkiran informal. Ratusan motor berjejer rapat, sebagian besar tanpa atap pelindung, kontras dengan area parkir di sekitar Stasiun Bekasi yang mayoritas sudah tertata dan beratap. Perubahan fungsi lahan ini turut meninggalkan jejak pada sektor ekonomi lokal. Sejumlah ruko di kawasan tersebut tampak tertutup rapat, catnya memudar, dan etalase kosong tanpa aktivitas. Bangunan yang semula disewakan untuk berdagang kini kehilangan peminat, tersisih oleh kebutuhan praktis para pengguna commuter line yang mengutamakan kecepatan dan kemudahan akses.

Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id

Alasan Pengguna Pilih Parkir Informal: Praktis dan Cepat

Wati, salah satu pengguna jasa parkir, mengungkapkan alasannya memilih area parkir di luar stasiun. “Parkir di luar lebih cepat,” ujarnya singkat. Ia mengaku tidak berlangganan dan hanya memilih parkir di luar stasiun karena kepraktisan. “Buat hari ini saja. Enggak ribet,” katanya sebelum bergegas.

Pilihan serupa rupanya menjadi alasan utama menjamurnya parkiran di luar area stasiun. Padatnya parkir resmi, antrean keluar-masuk, hingga kebutuhan mengejar waktu keberangkatan kereta membuat parkiran informal menjadi alternatif favorit, meski minim fasilitas dan perlindungan dari cuaca.

Mureks mencatat bahwa fenomena ini menunjukkan adanya celah dalam penyediaan fasilitas parkir yang memadai dan efisien bagi para komuter di area stasiun yang padat.

Tarif dan Kapasitas Parkir

Ari, salah satu juru parkir di kawasan tersebut, menjelaskan bahwa tarif parkir di luar stasiun relatif sama dengan area dalam stasiun. “Harian Rp 6.000, kalau nginep Rp 10.000,” jelasnya. Ia juga menyebut belum ada rencana kenaikan tarif di beberapa titik parkir luar stasiun.

Menurut Ari, faktor kedekatan dan hubungan personal juga berperan penting. “Karena sudah kenal, jadi menitip di sini. Mulut ke mulut saja. Kalau di dalam kan parkiran padat dan mereka harus berusaha sendiri. Kalau di sini asal ada tiket kita yang keluarkan. Cepat dan tidak capek buat pelanggan,” katanya.

Satu titik parkir yang dikelolanya, kapasitasnya bisa mencapai sekitar 150 unit motor. Lahan tersebut, kata Ari, bukan miliknya melainkan dikelola oleh “bosnya”. Fenomena parkiran luar stasiun ini perlahan membentuk ekosistem sendiri: cepat, akrab, namun nyaris tanpa perlindungan. Motor-motor terpapar panas dan hujan, sementara kawasan sekitar kian kehilangan fungsi awalnya sebagai pusat ekonomi kecil.

Di tengah geliat mobilitas penumpang yang terus meningkat, wajah Pasar Lama Cikarang seolah terjebak di persimpangan, antara kebutuhan parkir yang mendesak dan tata kota yang kian tergerus. Ruko-ruko sunyi menjadi saksi bisu ketika ruang usaha kalah oleh kebutuhan menitipkan kendaraan yang cepat, praktis, dan apa adanya.

Mureks