Pimpinan Lembaga PKBM Pahlawan Kerinci, Ewia Ejha Putri, menyuarakan keprihatinan mendalam sekaligus kemarahan atas maraknya konten di linimasa media sosial yang menormalisasi pernikahan dini. Menurutnya, fenomena ini kerap dibungkus dengan narasi religius yang disederhanakan, namun sejatinya menyembunyikan pola berpikir instan dan berbahaya.
Ewia Ejha Putri menyoroti bagaimana konten-konten tersebut, yang seringkali menampilkan potongan dalil agama dan cuplikan ceramah singkat, justru melegitimasi kemalasan berpikir atas nama iman. Ia mengkritik keras logika ketakutan yang kerap digunakan, seperti pernyataan seorang ustaz di TikTok, “Kalau anak semester dua kuliah sudah minta menikah, jangan dilarang. Nikahkan saja, daripada zina,” yang kemudian ditutup dengan kisah, “Tuh kan, dilarang nikah malah hamil.”
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
“Sejak kapan agama diajarkan dengan logika ketakutan seperti ini? Sejak kapan mendidik anak direduksi semata-mata menjadi urusan syahwat?” tanya Ewia Ejha Putri dengan tegas. Ia berpendapat bahwa logika semacam ini keliru sejak awal, berangkat dari asumsi bahwa anak muda tidak memiliki akal dan tidak mampu mengelola dorongan.
Pendidikan Moral dan Kematangan Kognitif
Padahal, inti pendidikan moral—baik dalam ajaran Islam maupun ilmu psikologi—justru terletak pada kemampuan menunda, mengelola, dan mengarahkan hasrat dengan akal serta nilai. Psikolog perkembangan seperti Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg, sebagaimana catatan Mureks menunjukkan, menegaskan bahwa kematangan pengambilan keputusan tumbuh melalui proses belajar, pengalaman, dan kedewasaan kognitif, bukan semata karena seseorang telah baligh atau siap secara biologis.
Masalah ini semakin serius ketika narasi pernikahan dini tidak hanya dibenarkan, tetapi juga dipasarkan sebagai gaya hidup ideal. Ewia Ejha Putri mencontohkan konten viral seorang perempuan berusia 19 tahun yang menikah muda, lalu dengan penuh percaya diri menyatakan, “Kuliah itu scam,” sambil memamerkan keberhasilan bisnis hijab syar’i yang ia kelola.
Menurutnya, klaim semacam ini, ketika disebarkan ke ruang publik dengan jutaan penonton tanpa konteks, berubah menjadi racun sosial. Publik hanya melihat keberhasilan instan tanpa memahami keseluruhan realitas hidupnya—seperti kemungkinan adanya keluarga penopang, modal ekonomi, jaringan sosial, atau privilese tertentu. Sosiolog Pierre Bourdieu telah lama menjelaskan bahwa keberhasilan individu tidak pernah berdiri di ruang hampa; ia ditopang oleh modal ekonomi, sosial, dan kultural. Menghapus konteks ini sama saja dengan menyesatkan publik secara simbolik.
Dampak Sosial dan Misinterpretasi Tawakal
Pola pikir serba instan yang terus direproduksi ini, lanjut Ewia Ejha Putri, berkontribusi pada stagnasi kualitas umat, rendahnya literasi, dan mudahnya masyarakat digerakkan oleh simbol agama tetapi miskin refleksi. Kesalehan direduksi menjadi daftar centang: cepat berhijab, cepat menikah, dan menyerahkan urusan ekonomi pada rezeki Allah semata, tanpa perencanaan.
“Padahal ini bukan ketakwaan, melainkan kecerobohan yang dibungkus kalimat suci,” tegasnya. Tawakal dalam Islam datang setelah ikhtiar, setelah perencanaan, setelah belajar, dan setelah kesiapan, bukan tawakal sejak awal karena enggan berpikir. Imam Al-Ghazali bahkan menempatkan akal sebagai fondasi tanggung jawab moral manusia; mengabaikan akal berarti meruntuhkan etika itu sendiri.
Pesan berbahaya yang tanpa disadari dikirimkan kepada anak-anak dan remaja adalah: jangan terlalu banyak berpikir, jangan terlalu lama sekolah, jangan banyak merencanakan hidup. Yang penting patuh dan cepat menikah, sisanya Allah yang mengurus. Padahal Al-Qur’an berulang kali memerintahkan manusia untuk berpikir (tafakkur), merenung (tadabbur), dan mempertimbangkan akibat jangka panjang. Ayat seperti “Apakah kamu tidak berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44) dan “Agar mereka memikirkan akibatnya” (QS. Al-Hasyr: 18) menjadi penegasan bahwa iman tidak pernah dipisahkan dari akal.
Misi Rasulullah dan Realitas Pernikahan
Ewia Ejha Putri menegaskan bahwa misi Rasulullah SAW bukan sekadar menjauhkan umat dari zina. “Jika hanya itu, risalah Islam terlalu murah bagi peradaban sebesar ini,” ujarnya. Misi beliau adalah mencerdaskan umat dengan perintah membaca, mematangkan akhlak—bukan sekadar ritual—serta menjadikan manusia berdaya dan bertanggung jawab.
Pernikahan dini semata-mata karena takut zina sering kali bukan tanda keimanan, melainkan tanda kegagalan mendidik. Ia mempertanyakan mengapa tidak lebih banyak diajarkan bagaimana membangun relasi yang bermartabat, mengelola dorongan dengan akal dan nilai, serta menunda kesenangan demi masa depan yang lebih besar.
Realitas rumah tangga, menurutnya, jauh dari konten romantis di media sosial; ia adalah tanggung jawab panjang—kepada pasangan, kepada anak, dan kepada masa depan. Kedewasaan mental dan emosional tidak bisa dibeli, bahkan ketika uang tersedia. Ia mengingatkan pada kasus anak seorang ustaz terkenal yang menikah sangat muda hingga berujung pada persidangan dan pemberitaan publik, menunjukkan bahwa realitas sering kali jauh lebih kejam daripada narasi ceramah.
Mencetak Generasi Mencemaskan
“Jika hari ini kita menormalisasi kemalasan berpikir atas nama agama, mengejek pendidikan sebagai scam, dan mencurigai perencanaan hidup sebagai tanda kurang iman, maka mari jujur pada diri sendiri: kita bukan sedang menuju generasi emas, melainkan mencetak generasi yang mencemaskan,” pungkas Ewia Ejha Putri.
Ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an menetapkan standar tinggi: kuntum khaira ummah—umat terbaik—yakni umat yang menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah (QS. Ali ‘Imran: 110). Umat terbaik bukan yang paling cepat menikah, melainkan yang kuat ilmunya, matang akalnya, luhur akhlaknya, serta bertanggung jawab atas pilihannya.
Oleh karena itu, Ewia Ejha Putri mengajak untuk sekolah setinggi-tingginya, belajar selama mungkin, dan mengisi kepala serta jiwa sebelum meniru jalan hidup orang lain. Pernikahan, baginya, bukan pelarian dari ketakutan, melainkan keputusan sadar dari manusia yang berpikir, yang dilakukan dengan kesiapan, martabat, dan visi masa depan.






