Penanganan bencana di Indonesia kerap diwarnai sorotan tajam terhadap respons pejabat publik, khususnya dalam aspek komunikasi. Bukan hanya soal kecepatan atau efektivitas bantuan, namun juga bagaimana pesan disampaikan dan empati ditunjukkan kepada masyarakat terdampak. Fenomena kegagalan komunikasi dan matinya sensitivitas ini menjadi krusial, mengingat dampaknya yang bisa mengikis kepercayaan publik dan menghambat upaya pemulihan.
Artikel ini akan membedah lebih dalam pola-pola kegagalan tersebut melalui kacamata teori retorika Aristoteles, yang mencakup Ethos (kredibilitas), Pathos (daya tarik emosional), dan Logos (daya tarik logis). Analisis ini diharapkan mampu memberikan pemahaman komprehensif mengenai akar masalah komunikasi pejabat dalam situasi krisis.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Retorika Aristoteles dalam Krisis Komunikasi Pejabat
Aristoteles mengajarkan bahwa persuasi yang efektif memerlukan tiga pilar utama. Dalam konteks komunikasi publik saat bencana, ketiga pilar ini menjadi penentu keberhasilan pesan yang disampaikan pejabat.
Ethos: Ketika Kredibilitas Tergerus
Ethos merujuk pada kredibilitas atau karakter pembicara. Dalam situasi bencana, kredibilitas pejabat sangat bergantung pada konsistensi pernyataan, transparansi informasi, dan persepsi publik terhadap kompetensinya. Kegagalan muncul ketika pejabat memberikan informasi yang berubah-ubah, terkesan menutupi fakta, atau bahkan meremehkan situasi. Misalnya, janji bantuan yang tidak terealisasi atau data korban yang simpang siur dapat dengan cepat meruntuhkan ethos, membuat masyarakat ragu akan kemampuan pemerintah.
Pathos: Hilangnya Empati di Tengah Derita
Pathos berkaitan dengan kemampuan pembicara untuk membangkitkan emosi audiens. Pejabat publik diharapkan mampu menunjukkan empati dan kepedulian yang tulus terhadap penderitaan korban bencana. Namun, seringkali muncul pernyataan atau tindakan yang justru melukai perasaan masyarakat, seperti komentar yang terkesan tidak sensitif, kunjungan yang hanya bersifat seremonial tanpa interaksi mendalam, atau bahkan gestur tubuh yang menunjukkan ketidakpedulian. Hilangnya pathos ini memicu kemarahan dan frustrasi, memperlebar jurang antara pemerintah dan rakyatnya.
Logos: Rasionalitas yang Kabur dalam Informasi
Logos adalah daya tarik logis, yaitu penggunaan akal sehat, fakta, dan argumen yang rasional. Dalam penanganan bencana, logos tercermin dari penyampaian informasi yang jelas, akurat, dan mudah dipahami mengenai status bencana, langkah-langkah evakuasi, distribusi bantuan, atau rencana pemulihan. Kegagalan logos terjadi ketika informasi yang diberikan membingungkan, kontradiktif, atau tidak didukung data yang valid. Akibatnya, masyarakat kesulitan membuat keputusan yang tepat, dan upaya koordinasi menjadi kacau. Catatan Mureks menunjukkan, pola kegagalan komunikasi ini seringkali berulang dalam berbagai insiden bencana di Tanah Air.
Dampak Jangka Panjang dan Rekomendasi
Kegagalan komunikasi yang berulang ini tidak hanya berdampak pada penanganan bencana sesaat, tetapi juga merusak kepercayaan publik dalam jangka panjang. Masyarakat menjadi apatis, skeptis, dan enggan berpartisipasi dalam program pemerintah di masa depan. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan pelatihan komunikasi krisis yang intensif bagi pejabat publik, penekanan pada pentingnya empati, serta pembentukan protokol komunikasi yang jelas dan terkoordinasi.
Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap pejabat yang berinteraksi dengan publik dalam situasi krisis memahami pentingnya setiap kata dan tindakan. Komunikasi yang efektif bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga membangun jembatan kepercayaan dan harapan di tengah keterpurukan.






