Serangan Amerika Serikat (AS) ke sejumlah wilayah di Venezuela, termasuk penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, memicu beragam sikap politik dari negara-negara di Amerika Latin. Sejumlah negara sekutu AS memuji penangkapan Maduro, sementara negara-negara lain mengecam operasi yang dilancarkan oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump tersebut.
Menurut pantauan Mureks, reaksi dari berbagai negara Amerika Latin terhadap serangan AS di Venezuela ini menunjukkan perpecahan politik yang signifikan di kawasan tersebut, sebagaimana dilansir NBC News pada Minggu (4/1/2026).
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Perpecahan Sikap Negara-negara Amerika Latin
Dilaporkan Associated Press, Kolombia, Brasil, Meksiko, Uruguay, dan Kuba secara tegas mengutuk serangan tersebut. Negara-negara ini juga menyerukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mencari solusi damai dan mengambil tindakan konkret terkait insiden ini.
Di sisi lain, Argentina, Paraguay, dan Ekuador menyambut baik berita penangkapan Maduro. Panama menyatakan dukungan penuh untuk oposisi politik Venezuela, yang secara luas diyakini telah memenangkan pemilihan presiden 2024 di tengah bukti-bukti kredibel.
Sementara itu, Guatemala menyerukan dialog lebih lanjut sebagai jalan keluar dari krisis ini. Presiden El Salvador Nayib Bukele, yang dikenal sebagai sekutu Trump dan berulang kali mengkritik Maduro, menanggapi kritik Senator Demokrat AS Chris Van Hollen terhadap tindakan pemerintahan Trump.
Bukele menyebut Hollen hanya ingin membela preman. “Jadi Anda hanya ingin membela para preman,” katanya melalui akun X resminya seraya mengunggah ulang cuitan Hollen.
Latar Belakang Operasi Serangan AS ke Venezuela
Operasi besar-besaran AS ke sejumlah titik di Venezuela, yang berujung pada penangkapan Nicolas Maduro, merupakan puncak dari tekanan selama berbulan-bulan oleh pemerintahan Trump terhadap Venezuela. Operasi ini menuai kecaman dari beberapa pemimpin internasional.
Maduro ditangkap pada Sabtu (3/1) dini hari, diawali dengan serangan oleh pasukan AS. AS menyebut Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah. Setelah penangkapan, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dibawa ke AS.
Presiden Trump telah mendesak Maduro untuk menyerahkan kekuasaan dan menuduhnya mendukung kartel narkoba. Trump menuduh Maduro dan kartel narkoba bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS yang terkait dengan penggunaan narkoba ilegal.
Mureks mencatat bahwa sejak September 2025, pasukan AS telah menewaskan lebih dari 100 orang dalam setidaknya 30 serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat penyelundupan narkoba dari Venezuela di Karibia dan Pasifik. Para ahli hukum mengatakan aksi AS tersebut kemungkinan melanggar hukum AS dan internasional.






