Pengobatan tradisional Jawa pada masa kerajaan tidak sekadar menyembuhkan penyakit fisik, melainkan sebuah upaya komprehensif menjaga keseimbangan antara tubuh, jiwa, dan alam semesta. Konsep holistik ini, yang menyatu erat dengan nilai budaya dan kepercayaan spiritual, menjadi landasan utama praktik penyembuhan di Nusantara.
Menurut Dr. Kartini dkk dalam buku Antropologi Kesehatan, sejak era Majapahit, jamu Jawa telah mengenal filosofi “celaka–sakit–obat–sehat”. Ini merupakan rangkaian sebab akibat yang menggambarkan hubungan antara gangguan hidup, timbulnya penyakit, proses pengobatan, hingga pemulihan kesehatan secara menyeluruh.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id
Pengobatan Empiris Berbasis Tanaman Lokal
Pemanfaatan tanaman obat lokal menjadi ciri khas utama pengobatan tradisional Jawa. Berbagai jenis akar, daun, rimpang, hingga kulit kayu diracik menjadi jamu, sebuah praktik yang bersifat empiris dan diwariskan secara turun-temurun.
Tim redaksi Mureks mencatat bahwa bukti sejarah praktik ini terekam jelas pada relief Candi Borobudur. Dalam buku Herbal Jawa dalam seri Herbal Nusantara karya Ibunda Suparni dan Ari Wulandari, dijelaskan bahwa relief tersebut menggambarkan sosok acaraki, peramu obat, yang tengah menumbuk bahan alami seperti kunyit dan jahe. Ini mengindikasikan bahwa penggunaan tanaman herbal sebagai obat telah mengakar kuat di masyarakat Nusantara sejak zaman dahulu.
Ritual Magis dan Konsep Kosmologi dalam Penyembuhan
Lebih dari sekadar ramuan herbal, pengobatan tradisional Jawa juga sangat dipengaruhi oleh kepercayaan dan ritual. Masyarakat Jawa kuno meyakini bahwa penyakit dapat timbul akibat terganggunya keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan tak kasatmata.
Oleh karena itu, proses penyembuhan tidak hanya berpusat pada pemberian ramuan, melainkan juga pada upaya memulihkan keharmonisan tersebut. Penelitian BRIN berjudul Identifikasi Tanaman Masa Jawa Kuno memperkuat pandangan ini, menjelaskan bahwa beberapa ramuan jamu tradisional diracik sembari diiringi pembacaan mantra, seperti Tri Sandhya, yang diyakini sebagai doa permohonan perlindungan dan kesembuhan.
Naskah lontar dari Bali juga menunjukkan bahwa pada masa Kerajaan Majapahit, praktik pengobatan jamu sering dipadukan dengan doa dan usada, yaitu mantra atau bacaan khusus yang dipercaya membantu proses penyembuhan. Ini menegaskan integrasi unsur fisik, spiritual, dan budaya dalam setiap rangkaian pengobatan tradisional saat itu.
Jamu Pahitan: Ramuan Penting di Lingkungan Kerajaan
Di lingkungan kerajaan Jawa, jamu pahitan memegang peranan penting. Ramuan ini, yang umumnya menggunakan tanaman pahit seperti sambiloto dan brotowali, dipercaya berkhasiat membersihkan tubuh.
Jurnal Jamu sebagai Gastronomi Nusantara oleh Kezia Elsty dkk menyebutkan bahwa setidaknya delapan jenis jamu pahitan dikenal pada masa Majapahit, bahkan beberapa di antaranya dikonsumsi saat berbuka puasa. Sementara itu, di kalangan rakyat biasa, jamu gendhong dengan tambahan gula jawa dan jahe populer untuk menyeimbangkan rasa panas dan dingin tubuh.
Warisan Pengobatan Tradisional Jawa yang Abadi
Hingga kini, pengobatan tradisional Jawa tetap lestari dan terus dimanfaatkan oleh masyarakat. Jamu, sebagai salah satu wujudnya, bahkan telah diakui oleh UNESCO pada tahun 2019 sebagai warisan budaya takbenda dunia. Pengakuan ini menegaskan bahwa jamu bukan sekadar minuman, melainkan bagian integral dari identitas budaya Indonesia.
Mureks mencatat bahwa resep-resep jamu dari lingkungan kerajaan Jawa tidak hanya diwariskan secara lisan, tetapi kini juga menjadi objek penelitian ilmiah. Ini menunjukkan upaya modern dalam memahami dan melestarikan kekayaan pengetahuan leluhur.






