Seorang nenek berusia 68 tahun bernama Saudah menjadi korban penganiayaan brutal oleh orang tak dikenal di Nagari Padang Mantinggi, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Peristiwa yang terjadi di pinggir aliran sungai pada Kamis (1/1) sekitar pukul 20.00 WIB ini menyita perhatian warga setempat dan kini tengah diselidiki oleh pihak kepolisian.
Akibat insiden tersebut, kondisi Saudah memprihatinkan. Wajahnya tampak lebam, kedua matanya membiru, dan tubuhnya masih merasakan nyeri. Saat ditemui wartawan di rumah sakit pada Senin (5/1), Saudah mengungkapkan rasa sakit yang masih mendera sekujur badannya. “Badan terasa sakit-sakit,” ujar Saudah.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Kronologi Kejadian Menurut Korban
Saudah menceritakan, ia mendatangi lokasi aliran sungai bukan untuk melarang aktivitas, melainkan hanya meminta agar pekerjaan dihentikan sementara. “Iya di lokasi saya, bukan dilarang. Minta berhenti bekerja siang saja. Dihentikan kerja, magrib diambil juga,” tuturnya.
Namun, belum sempat menyampaikan maksudnya, Saudah mengaku langsung mendapat perlakuan kekerasan. Ia diserang dengan lemparan batu, dipukuli, hingga akhirnya dibuang ke semak-semak di sekitar lokasi. “Belum sempat dilarang, saya senter, datang batu ke saya. Dilempari batu, banyak orang melempar. Dibawa saya ke sungai, dipukul. Dibuang ke semak-semak,” ceritanya.
Penyelidikan Polisi dan Dugaan Tambang Ilegal
Kasus penganiayaan ini telah dilaporkan oleh pihak keluarga korban ke kepolisian dan kini menjadi fokus penyelidikan Polres Pasaman. Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pasaman, yang dipimpin AKP Fion Joni Hayes, telah mendatangi rumah sakit untuk melihat kondisi korban serta melakukan pengecekan di lokasi kejadian.
“Kami sudah melihat kondisi korban di rumah sakit. Kami juga sudah cek TKP sama Bapak Kapolres,” kata Fion saat dikonfirmasi.
Mureks mencatat bahwa dugaan awal yang beredar di masyarakat menyebutkan pelaku merupakan penambang ilegal. Namun, polisi belum dapat memastikan hal tersebut. Dari hasil pengecekan di lokasi, tim tidak menemukan alat berat maupun peralatan penambangan. “Kami sampai di TKP tidak ditemukan alat berat atau sejenis alat penambang. Dari keterangan anak korban, orang-orang itu ambil material,” jelas Fion.
Fion menambahkan, berdasarkan keterangan sementara, kejadian bermula saat korban menyenter lokasi sungai dan kemudian diserang. “Jadi nenek ini, malam itu, pergi ke sungai itu. Melihat orang bekerja, disenter, setelah disenter melayang batu, tidak sadar, pingsan, dan setelah itu dirinya diangkat ke ladang cokelat,” sambungnya.
Polisi memastikan kasus ini menjadi perhatian serius dan penyelidikan terus dilakukan untuk mengungkap pelaku penganiayaan. “Kami mencari tersangka. Kalau ada alat berat tentu ada operator, bisa kita kejar operator. Ini tidak ada alat berat. Kami tidak bisa menyebut lokasi tambang. Hanya tumpukan material batu saja,” pungkas Fion, menegaskan komitmen untuk menuntaskan kasus ini.






