Nasional

Kisah Patung Macan Putih Kediri: Dari Objek Cemoohan Menjelma Penopang Ekonomi Desa

Patung macan putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, kini menjadi sorotan publik. Sempat menjadi bahan cemoohan karena bentuknya yang dinilai tidak mirip macan pada umumnya, patung ini justru membawa berkah tak terduga bagi warga sekitar.

Sejak viral di media sosial, patung tersebut ramai dikunjungi warga dari berbagai daerah. Mereka antusias berebut swafoto di depan patung yang unik ini. Fenomena ini tidak hanya mengangkat popularitas desa, tetapi juga turut mendongkrak perekonomian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar lokasi.

Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id

Menurut pantauan Mureks, geliat ekonomi di sekitar patung macan putih tersebut meningkat signifikan. Pedagang makanan, minuman, hingga suvenir lokal kini merasakan dampak positif dari keramaian pengunjung.

Kepopuleran patung ini bahkan menarik perhatian sejumlah seniman. Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, mengungkapkan bahwa ada tawaran untuk membeli patung tersebut dari seniman di Yogyakarta hingga Bali. Namun, Pemerintah Desa Balongjeruk bersama seluruh warga telah mengambil keputusan bulat untuk tidak melepas patung ikonik ini.

“Ada (yang menawar), namun kami tidak konfirmasi nominalnya dikarenakan sudah disepakati untuk dilestarikan. Ada dari Jogja, ada Bali, dan tetangga desa,” ujar Safi’i kepada kumparan, Selasa (6/1).

Keputusan untuk mempertahankan patung tersebut didasari oleh dampak positif yang luar biasa. Kehadiran patung macan putih ini secara tidak langsung telah mengangkat nama Desa Balongjeruk di kancah nasional. Selain itu, warga desa juga sepakat untuk tidak memugar patung, meskipun sebelumnya Safi’i sempat berencana membangun ulang agar tampil lebih mirip macan.

“Karena sudah kita musyawarahkan dengan semua warga, diputuskan patung tidak dibongkar karena sudah membawa barokah bagi masyarakat,” jelas Safi’i.

Safi’i menambahkan, “Ini luar biasa. Dari yang sempat dihujat, kini justru membawa manfaat dan mengangkat nama desa.” Pernyataan ini menegaskan bagaimana sebuah objek yang awalnya kontroversial dapat bertransformasi menjadi aset berharga bagi komunitas lokal.

Mureks