Nasional

Mengapa Istirahat Kerap Membawa Rasa Bersalah: Tekanan Produktivitas di Balik Jeda Tubuh

Istirahat seharusnya menjadi sebuah tindakan sederhana: tubuh yang lelah berhenti sejenak, pikiran yang penat diberi ruang. Namun, bagi banyak individu, jeda justru datang bersamaan dengan beban rasa bersalah. Seolah-olah berhenti sejenak adalah sebuah kesalahan kecil yang harus ditebus dengan produktivitas berlipat ganda setelahnya.

Rasa bersalah ini tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh subur dari kebiasaan hidup yang cenderung menilai nilai seseorang dari seberapa sibuk dan bergunanya ia. Sejak lama, kita diajarkan bahwa kerajinan adalah kebaikan, sementara kemalasan adalah keburukan. Permasalahannya, istirahat seringkali keliru dimasukkan ke dalam kategori kemalasan.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.

Di tengah budaya yang mengagungkan kesibukan, istirahat kerap dipandang sebagai kemunduran. Ketika seseorang tidak mengerjakan apa-apa, muncul suara kecil di kepala yang berbisik: “Seharusnya kamu bisa lebih produktif.” Padahal, tubuh tidak selalu kelelahan karena kurangnya niat, melainkan karena memang membutuhkan jeda untuk memulihkan diri.

Secara biologis, Mureks mencatat bahwa tubuh manusia tidak dirancang untuk terus-menerus berada dalam mode aktif. Sistem saraf kita bekerja secara bergantian antara fase fokus dan pemulihan. Tanpa jeda yang cukup, konsentrasi akan menurun drastis, emosi lebih mudah meledak, dan kelelahan dapat menjadi kronis. Istirahat bukanlah hadiah setelah kerja keras, melainkan bagian integral dari siklus produktivitas itu sendiri.

Sayangnya, istirahat seringkali disyaratkan. Kita baru merasa “boleh” berhenti setelah semua tugas selesai. Padahal, dalam kenyataannya, daftar tugas jarang sekali benar-benar habis. Selalu ada pekerjaan yang bisa dikerjakan, selalu ada yang tertunda. Akibatnya, istirahat terus-menerus ditunda, dan rasa bersalah tetap bersemayam.

Rasa bersalah juga muncul karena kita cenderung mengukur diri dengan standar orang lain. Melihat orang lain tetap produktif membuat kita merasa tertinggal saat memutuskan untuk berhenti. Padahal, kita tidak pernah tahu apa yang sedang mereka korbankan di balik citra produktivitas tersebut. Perbandingan semacam ini membuat istirahat terasa seperti sebuah kegagalan pribadi.

Belajar beristirahat bukan berarti menjadi tidak bertanggung jawab. Justru sebaliknya, istirahat yang cukup membantu kita kembali dengan pikiran yang lebih jernih dan tubuh yang lebih siap. Masalahnya bukan pada tindakan istirahat itu sendiri, melainkan pada cara kita memaknainya.

Mungkin yang perlu kita ubah bukanlah kebiasaan berhenti, melainkan cara kita memandang jeda itu sendiri. Istirahat bukanlah tanda menyerah. Ia adalah tanda bahwa kita mendengarkan kebutuhan tubuh dan pikiran kita.

Pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan siapa yang paling sibuk. Dan istirahat tidak pernah benar-benar menjadi musuh dari usaha—kecuali jika kita sendiri yang terus-menerus menganggapnya demikian.

Mureks