Advokat dan kolumnis hukum, Firman Tendry Masengi, melalui tulisannya yang berjudul “Aku Lelah, Mencintaimu adalah Tindakan Masokis,” menyajikan sebuah elegi mendalam tentang rasa frustasi seorang rakyat Indonesia. Direktur Eksekutif RECHT Institute ini mengungkapkan pandangannya yang getir mengenai cinta terhadap tanah air yang ia rasakan sebagai sebuah ibadah paling melelahkan, sebuah ritus panjang yang menuntut pengorbanan tanpa henti.
Cinta yang Melelahkan: Sebuah Ibadah Penuh Frustrasi
Dalam esainya, Firman Tendry Masengi menggambarkan kecintaannya pada Indonesia sebagai sebuah “ibadah paling melelahkan.” Ia bukan doa yang hening, melainkan sebuah pengabdian yang memaksa seseorang bersujud pada nama Indonesia, bahkan ketika realitas menunjukkan luka yang disamarkan di balik senyum upacara dan pidato kenegaraan. Cinta ini, menurutnya, lahir dari kelelahan yang tak pernah diberi jeda, menjadikannya terasa paling jujur.
Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id
Pesona Indonesia dan Racun di Baliknya
Indonesia, dengan keindahan geografisnya yang memukau—pegunungan, hutan, laut, dan rempah-rempah—digambarkan sebagai “puisi geografi yang nyaris sempurna.” Namun, Firman Tendry Masengi melihat keindahan ini sebagai “kutukan yang diwariskan lintas generasi.” Ia merasa jatuh cinta pada wajahnya, namun perlahan diracun oleh cara negara memperlakukan anak-anaknya sendiri. Setiap “piala kebanggaan nasional” yang disodorkan, baginya, berisi empedu yang harus ditelan sambil tersenyum, menuntut kesetiaan moral di tengah ketidakadilan yang merajalela.
Pembusukan Sistematis dan Ketidakadilan yang Mengakar
Kelelahan sang penulis mencapai puncaknya ketika ia menyadari bahwa kecantikan Indonesia hanyalah “topeng porselen yang menutupi pembusukan sistematis.” Di tengah kemerdekaan, rakyat dipaksa memeluk kemiskinan, sementara “perhiasan pembangunan” dipamerkan, dicuri dari keringat mereka sendiri. Ketidakadilan, yang seharusnya menjadi tamu, telah menjelma “penghuni tetap” yang menentukan siapa yang layak hidup dan siapa yang hanya bertahan dari sisa-sisa. Mureks mencatat bahwa narasi ini merefleksikan sentimen frustrasi yang meluas di kalangan masyarakat terhadap kesenjangan sosial dan ekonomi.
Elite, Hukum, dan Moralitas yang Tergadai
Dalam lanskap ini, para elite digambarkan sebagai “filantrops” yang sebenarnya menjarah harta rakyat dengan cekatan. Mereka adalah “selingkuhan kekuasaan” yang dibiarkan “meniduri hukum di kamar-kamar hotel berpendingin udara,” sementara rakyat menunggu dengan perut kosong. Negara, menurut Firman Tendry Masengi, telah berubah menjadi pesta tertutup di mana rakyat hanya diundang sebagai penonton yang diminta bertepuk tangan.
Hukum, yang seharusnya menjadi tulang punggung keadilan, telah kehilangan martabatnya. Ia menjelma “komoditas,” setajam silet bagi yang tak berdaya, namun “tumpul dan selembut beludru” bagi pemilik kuasa. Aparat penegak hukum, yang seharusnya melindungi, justru berubah menjadi “tangan dingin yang mencekik kebenaran,” mengenakan seragam kebanggaan sebagai zirah di balik hasrat untuk menguasai dan menagih. Mereka disebutnya sebagai “Bandit berseragam negara.”
Moralitas pun turut “dijual laksana bala-bala jahanan pinggir jalan di pasar kekuasaan.” Kejujuran dicibir, integritas dianggap gangguan mental, sementara keculasan dipuja sebagai kecerdikan. Mencintai Indonesia, dalam pandangan penulis, terasa seperti memeluk kaktus: “semakin erat aku mendekap atas nama nasionalisme, semakin dalam duri-duri korupsi menghujam jantungku.”
Janji Tanah Air dan Realitas yang Menyakitkan
Penulis mengenang lagu “Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku” yang dulu dinyanyikan dengan sakral. Namun, ia mempertanyakan bagaimana bisa menjadi pandu jika tanah yang dipijak “dijual petak demi petak” oleh mereka yang bersumpah setia. Darah yang tumpah kini bukan lagi darah pahlawan, melainkan “darah harapan yang tercecer di lantai birokrasi yang licin oleh intrik.”
Ia merasa menjadi pandu bagi “kapal yang nakhodanya sibuk melubangi lambung bahteranya sendiri.” Meskipun grafik ekonomi terus menanjak, ia tahu bahwa “di bawah garis air, kebocoran telah merendam ruang-ruang kehidupan.” Setiap tepuk tangan di forum internasional dibayar dengan “kesunyian desa-desa yang kehilangan tanah, laut, dan masa depan.”
Kritik Terhadap Pemimpin dan Harga Pembangunan
Doa agar Indonesia bahagia kini terdengar seperti satire, sebab kebahagiaan hanya dinikmati segelintir tuan tanah. Rakyat diminta bersabar, seolah kesabaran bisa menggantikan kebutuhan dasar. Janji tentang Indonesia yang mulia telah berubah menjadi mimpi buruk, di mana hukum bisa dibeli dan kejayaan terasa kosong saat anak-anak belajar di ruang kelas yang nyaris roboh. Putra-putra pemberani dibungkam, rakyat jujur disingkirkan, demi panggung yang lapang bagi para penjilat kekuasaan.
Kelelahan Firman Tendry Masengi memuncak saat menatap wajah pemimpin yang diberi amanah. Ia menyebut pemimpin sebagai “aktor sempurna” yang tahu kapan harus tersenyum atau bergetar saat berkata siap mati demi rakyat. Namun, ketika rakyat benar-benar mati—di stadion, di tambang, di jalanan—pemimpin tersebut justru “sedang menyusun alibi.”
Dengan dingin, “nyawa disebut sebagai risiko pembangunan,” mereduksi manusia menjadi angka dan darah menjadi pelumas mesin ekonomi. Pemimpin yang mengaku siap mati ternyata hanya siap membiarkan rakyatnya mati, selama proyek berjalan dan kekuasaan lestari. Infrastruktur fisik dibangun megah, sementara “infrastruktur moral bangsa diruntuhkan secara sistematis.”
Terjebak dalam Hubungan Abusif: Elegi Penutup
Penulis menyatakan dirinya benar-benar lelah. Indonesia, baginya, tetap cantik dalam kehancuran dan memesona dalam toksisitasnya. Ia ingin pergi, namun akarnya telah terhunjam terlampau dalam, terjebak dalam “hubungan yang abusif.” Dipukul oleh kebijakan, lalu diminta mencium tangan saat lagu kebangsaan dikumandangkan. Nostalgia kejayaan masa lalu tidak bisa mengenyangkan perut hari ini.
Mencintai Indonesia telah menjadi “tindakan masokis yang dilembagakan.” Hidup diserahkan, namun hanya diingat saat suara dibutuhkan, selebihnya disingkirkan oleh ujung pena kebijakan. Firman Tendry Masengi menutup eleginya dengan gumam lirih, “Aku bisa menulis bait paling letih tentangmu malam ini: bahwa aku mencintaimu dengan seluruh luka yang kau berikan, dan justru karena cinta itulah aku ingin menamparmu bukan karena rasa sakitku, namun untuk menyadarkanmu. Demikianlah rasa sakit itu.” Ini adalah seruan untuk kesadaran, sebuah tamparan cinta dari seorang anak bangsa yang lelah namun tak bisa berpaling.
Referensi penulisan: m.kumparan.com






