Nasional

Paradoks Kedekatan: Mengapa Orang Terdekat Kerap Jadi Sasaran Pelampiasan Residu Emosi?

Dalam dinamika relasi sosial, seringkali muncul paradoks yang membingungkan: mengapa figur terdekat seperti pasangan atau sahabat justru menjadi sasaran pelampiasan residu emosi? Fenomena ini, yang melibatkan amarah, kecemasan, atau frustrasi dari konteks lain, dapat berujung pada pola hubungan yang tidak sehat.

Ketiadaan konflik dalam hubungan yang stabil terkadang justru menciptakan rasa kekosongan atau ancaman, memicu tegangan internal. Perilaku ini bukan semata-mata karena kurangnya empati, melainkan memiliki akar permasalahan psikologis yang kompleks.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Akar Psikologis: Teori Keterikatan (Attachment)

Secara biologis, teori keterikatan atau attachment menjelaskan insting evolusioner manusia untuk mencari keamanan dari figur terdekat, seperti orang tua, saat menghadapi ancaman atau ketidaknyamanan. Menurut Holmes (1993), anak mengharapkan figur tersebut dapat mengurangi rasa tidak nyaman dan ancaman yang dihadapinya, sebuah aspek krusial dalam fase perkembangan.

Pola dasar ini menunjukkan kecenderungan manusia untuk melampiaskan atau melepaskan beban masalah kepada figur yang dianggap dekat dan aman. Kebutuhan akan rasa aman dan kedekatan, serta harapan bahwa seseorang dapat secara tidak langsung bertanggung jawab atas masalah yang dihadapi, terbawa sejak masa kanak-kanak.

Mureks mencatat bahwa pola keterikatan ini tidak berhenti pada masa kanak-kanak, melainkan terus memengaruhi bagaimana individu memaknai dan merespons pengalaman emosional di masa dewasa.

Skema Kognitif dan Pengalaman Subjektif dalam Relasi Dewasa

Manusia dewasa dibentuk oleh beragam pengalaman subjektif yang berasal dari lingkungan dan interpretasi individu terhadapnya. Bandura (1986) menjelaskan bahwa proses kognitif personal ini membentuk individu melalui interaksi timbal balik dengan lingkungannya.

Melalui proses yang berulang, terbentuklah skema yang menetap dalam diri individu, memengaruhi cara ia merespons, memaknai, dan memprediksi peristiwa di masa depan (Bartlett, 1932; Piaget, 1952). Pengalaman berulang ini tidak hanya menjadi ingatan, tetapi juga kerangka rujukan internal yang menentukan apa yang terasa familiar, aman, dan dapat diprediksi.

Dalam relasi interpersonal yang intim, skema ini menjadi dasar penilaian individu terhadap keamanan emosional pasangan atau teman dekat. Skema juga menentukan kepada siapa emosi negatif cenderung dialihkan. Individu dengan pola attachment yang tidak konsisten atau cenderung avoidant, misalnya, dapat mengartikan hubungan yang stabil sebagai membosankan atau mengancam, menciptakan tegangan karena tidak sesuai dengan model internal yang telah terbentuk.

Ketegangan akibat skema ini dapat memicu pola hubungan tidak sehat, seperti salah memaknai perhatian, mencari-cari kesalahan, atau menjadikan orang terdekat sebagai tempat pelampiasan residu emosi. Semakin tinggi intensitas kedekatan, semakin kuat pula rasionalisasi skema, yang menjelaskan mengapa orang terdekat seringkali menjadi sasaran pelepasan emosi.

Fenomena “Blue Dot Effect”: Ketika Kestabilan Menjadi Paradoks

Sebuah eksperimen di Universitas Harvard yang dilakukan oleh Levari et al. (2018) mengungkap fenomena menarik yang disebut Prevalence-induced concept change, atau dikenal juga sebagai “Blue Dot Effect”. Dalam studi tersebut, partisipan diminta memilih titik ungu di antara titik-titik biru. Ketika titik ungu tidak lagi ditampilkan, partisipan tetap mengidentifikasi titik biru yang dianggapnya sebagai titik ungu.

Eksperimen ini menunjukkan bahwa persepsi manusia bersifat subjektif dan kontekstual, bukan objektif. Penilaian kita terhadap sesuatu sangat bergantung pada perbandingan dengan apa yang telah kita lihat sebelumnya. Ketika masalah atau ancaman berkurang, manusia cenderung memperluas konsep “masalah” agar tetap dapat mendeteksi adanya masalah, meskipun secara realita ancaman tersebut tidak benar-benar ada.

Dalam konteks hubungan interpersonal, individu yang terbiasa dengan tegangan, konflik, dan ketidakpastian dapat mengalami pergeseran persepsi saat berada dalam hubungan yang konsisten, stabil, dan aman. Kesalahan kecil dapat terasa besar, ketenangan terasa mencurigakan, atau perbedaan ringan dimaknai sebagai masalah serius. Hal ini terjadi bukan karena hubungan tersebut bermasalah, melainkan karena kerangka persepsi individu masih berada dalam mode deteksi konflik yang tinggi.

Meningkatkan Kualitas Hubungan Interpersonal

Orang terdekat kerap menjadi tempat pelampiasan residu emosi bukan karena mereka bersalah, melainkan karena mereka adalah figur yang paling aman secara emosional dan paling relevan bagi sistem keterikatan individu. Pemahaman ini membuka ruang baru dalam memandang hubungan interpersonal.

Pola attachment, skema kognitif, dan model prediksi bukanlah hal yang kaku. Menurut tim redaksi Mureks, hal-hal tersebut bersifat plastis dan dapat berubah, dimulai dengan kesadaran serta pemahaman individu tentang cara kerja psikologisnya.

Memahami akar permasalahan psikologis ini, termasuk paradoks bahwa kedekatan dapat meningkatkan kerentanan, diharapkan dapat meningkatkan kualitas hubungan interpersonal. Hal ini juga menjadi modal bagi individu untuk lebih bertanggung jawab dan meregulasi emosi secara sadar, mengarahkan relasi dari sekadar pengulangan pola menuju hubungan yang lebih reflektif, empatik, dan dewasa.

Mureks