Nasional

Mengapa ‘New Year, New Me’ Begitu Populer? Menilik Fenomena Harapan dan Pengaruh Media Sosial

“Tahun depan jangan nangis lagi ya.”

“I hope I getting better next year.”

Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.

“2026 please be nice to me”

Kalimat-kalimat semacam itu kerap membanjiri lini masa media sosial, terutama menjelang pergantian bulan atau tahun, seperti yang terlihat di video TikTok atau Reels Instagram. Fenomena ini memicu pertanyaan mendalam: mengapa banyak orang lebih memilih untuk menaruh harapan pada masa depan, ketimbang menengok ke belakang dan bersyukur atas perjalanan hidup yang telah dilalui?

Kecenderungan ini, menurut pantauan Mureks, tidak bisa disalahkan. Mayoritas individu memang mendambakan perbaikan diri. Namun, menariknya, hanya sebagian kecil yang benar-benar meluangkan waktu untuk merefleksikan pengalaman masa lalu.

Efek “Fresh Start”: Otak yang Suka Merasa Memulai dari Nol

Fenomena psikologis di balik harapan tahun baru ini dijelaskan dalam sebuah penelitian oleh Hengchen Dai, Katherine Milkman, dan Jason Riis dari University of Pennsylvania. Mereka menamainya sebagai Fresh Start Effect.

Menurut studi tersebut, momen pergantian waktu seperti tahun baru, ulang tahun, atau awal bulan secara psikologis memberikan kesempatan bagi otak untuk merasa memulai ulang hidup. Dai menjelaskan, “Pergantian tahun menciptakan jarak psikologis antara diri kita yang lama dan diri kita yang baru. Dari sinilah muncul keyakinan bahwa masa depan harus lebih baik.”

Oleh karena itu, banyak orang menganggap tahun baru sebagai momen mental untuk “reset” hidup dan menaruh harapan untuk berubah menjadi pribadi yang “lebih baik”.

Harapan sebagai Mekanisme Bertahan Hidup Manusia

Harapan memiliki peran vital dalam memelihara semangat dan motivasi untuk terus berusaha. Sebagai contoh, saat berulang tahun, seseorang mungkin berharap panjang umur agar dapat meraih cita-cita di masa depan. Pentingnya harapan ini ditegaskan oleh ahli psikologi.

Psikolog C.R. Snyder, melalui Hope Theory, menjelaskan bahwa manusia membutuhkan harapan untuk dapat bertahan secara emosional. Menurutnya, harapan membuat manusia merasa:

  • Memiliki tujuan yang jelas.
  • Mampu menemukan cara untuk mencapai tujuan tersebut.
  • Termotivasi untuk terus bergerak maju.

Senada dengan itu, psikolog klinis Indonesia, Anjasmariani, M.Psi, pernah menyampaikan dalam sesi edukasi publiknya bahwa harapan membantu manusia mengurangi kecemasan. “Bagi banyak orang, berbicara tentang masa depan yang lebih baik adalah cara untuk menguatkan diri. Itu bentuk self-healing sederhana,” jelas Anjasmariani.

Kesempurnaan yang Terpampang di Media Sosial

Konten-konten di media sosial seringkali hanya menampilkan sisi-sisi terbaik kehidupan seseorang, seperti pencapaian, kemenangan, atau hubungan asmara. Paparan ini dapat memengaruhi pola pikir individu, memicu perasaan insecure atau keinginan untuk merefleksikan diri.

Hal inilah yang mungkin menjelaskan mengapa manusia sering mengharapkan kesempurnaan dan cenderung menerima konten-konten tersebut begitu saja. Tidak heran jika banyak bermunculan video singkat dengan narasi seperti “December, please be nice to me” atau “2026, may we get what we want”.

Dalam sudut pandang sosiologi, fenomena ini dijelaskan melalui teori Impression Management dari sosiolog terkemuka Erving Goffman. Di media sosial, manusia ibarat sedang tampil di atas panggung, di mana mereka memilih untuk menampilkan versi terbaik dari diri mereka—terlihat kuat, optimis, dan sedang berjuang untuk bangkit.

Peneliti media sosial Indonesia, Dian Paramita, dalam sebuah wawancara edukasi publik, menyebutkan, “Algoritma media sosial lebih menyukai konten yang singkat, optimistik, dan relate. Itulah mengapa postingan harapan tahun baru lebih populer dibanding refleksi panjang tentang hidup.”

Mengapa Refleksi dan Rasa Syukur Justru Jarang Muncul?

Setelah melihat dominasi konten harapan, muncul pertanyaan mengapa video panjang berisi kilas balik atau rasa syukur atas momen yang dialami justru jarang bermunculan. Menilik kembali masa lalu, bagi sebagian orang, memang merupakan hal yang sulit.

Para ahli menjelaskan beberapa faktor yang memengaruhi fenomena ini:

  1. Hedonic Adaptation: Menurut penelitian psikologi, manusia cenderung cepat terbiasa dengan hal-hal baik dalam hidup. Kebahagiaan seringkali tidak bertahan lama, sehingga yang lebih sering diingat justru kekurangan atau hal yang belum tercapai.
  2. Menghindari Luka Masa Lalu: Refleksi berarti kembali membuka memori, termasuk pengalaman yang menyakitkan. Banyak orang memilih avoidance coping, yaitu strategi untuk menghindar dari hal-hal yang tidak nyaman.
  3. Budaya “Selalu Harus Lebih Baik”: Psikolog sosial Indonesia mencatat bahwa kita hidup di era yang penuh tuntutan produktivitas. Masyarakat diajarkan untuk terus maju dan berkembang, bukan berhenti sejenak untuk menghargai proses yang telah dilalui.

Pentingnya Penerimaan Diri di Tengah Harapan

Di tengah banyaknya kesedihan, sulitnya melalui proses kehidupan, dan menghadapi kegagalan, seringkali kita kesulitan untuk menghargai prosesnya, apalagi untuk bersyukur dan berjuang lagi. Terkadang, muncul perasaan ingin menyerah dan menganggap keadaan saat ini adalah jalan terbaik.

Dalam ajaran Stoisisme, masa lalu bukanlah untuk dilupakan, melainkan diterima sebagai bagian integral dari proses hidup. Sementara itu, sudut pandang Eksistensialisme menyatakan bahwa manusia memang hidup di antara kenyataan pahit dan harapan yang memberi makna, sehingga kadang manusia merasa dilema. Namun, semua itu memiliki arti.

Artinya, tidak ada yang salah dengan menaruh harapan pada tahun baru. Namun, melupakan rasa syukur dan refleksi juga bukan pilihan yang sehat.

Harapan Boleh, Tapi Jangan Lupa Menghargai Diri dan Bangkit Kembali

Fenomena ucapan “semoga tahun depan lebih baik” menunjukkan bahwa manusia bukan hanya ingin bertahan, tetapi juga ingin percaya bahwa hidup selalu memiliki peluang untuk membaik. Namun, beberapa ahli mengingatkan, sebelum fokus sepenuhnya ke masa depan, ada baiknya kita berhenti sejenak untuk menoleh ke belakang.

Mengakui perjuangan diri dan bersyukur atas perjalanan yang sudah dilalui adalah langkah penting. Dari sana, kita dapat belajar untuk terus tumbuh menjadi lebih baik dan siap berjuang menghadapi tantangan di masa mendatang.

Karena terkadang, yang kita butuhkan bukan hanya harapan, tetapi pengakuan bahwa kita sudah berjuang sejauh ini dan mau berkomitmen untuk terus berdikari.

Referensi penulisan: kumparan.com

Mureks