Nasional

Invasi Venezuela dan Penangkapan Maduro: Ketika Realpolitik Trump Robohkan Tatanan Dunia

Dunia dikejutkan oleh pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat, 9 Januari 2026, mengenai penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan khusus AS. Peristiwa ini, yang disebut sebagai “unjuk kekuatan telanjang”, menandai eskalasi dramatis dari konfrontasi verbal dan retoris yang telah lama membayangi hubungan kedua negara.

Serangan di Caracas dan penculikan Maduro ini tidak hanya mengindikasikan bahwa stabilitas global jauh dari kata aman, tetapi juga menyibak tabir besar yang selama ini menutupi kebijakan luar negeri AS. Menurut Adrian Aulia Rahman, mahasiswa S1 Ilmu Sejarah Universitas Padjajaran, insiden ini secara fundamental meruntuhkan fondasi moral AS, menghidupkan kembali realpolitik, dan mematikan tatanan dunia berbasis aturan yang sudah sekarat.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.

Raibnya Moralitas Kebijakan Luar Negeri AS

Sejak awal eksistensinya, Amerika Serikat selalu memegang teguh keyakinan eksepsionalisme, memproklamirkan diri sebagai promotor kebebasan dan demokrasi. Deklarasi Kemerdekaan dan Washington Doctrine menjadi landasan moralitas kebijakan luar negeri mereka, yang enggan terlibat dalam intrik kekuatan Eropa.

Woodrow Wilson, pada akhir Perang Dunia Pertama, bahkan merevisi hukum purba Eropa tentang keseimbangan kekuatan, mengusulkan Liga Bangsa-Bangsa dan supremasi hukum internasional. Henry Kissinger dalam bukunya, Diplomacy, mencatat bahwa bagi Wilson, “tatanan internasional harus didasarkan pada hukum universal dan kepercayaan, bukan keseimbangan dan persaingan”.

Namun, keputusan Trump untuk menyerang Venezuela, menculik presidennya, dan secara gamblang menguasai sumber daya minyaknya, telah melenyapkan moralitas tersebut. Dakwah moral yang selama ini menjadi tabir penghalang ambisi sejati AS, kini luruh seutuhnya. Mureks mencatat bahwa tindakan ini secara terang-terangan menunjukkan bahwa kepentingan ekonomi, khususnya minyak Venezuela, menjadi motif utama di balik operasi tersebut.

Peristiwa ini semakin meyakinkan dunia bahwa AS bukanlah kiblat kebebasan atau guru demokrasi. Eksepsionalismenya luruh tak bersisa, menunjukkan bahwa AS tidak berbeda dengan negara lain yang mendasarkan kebijakannya pada raison d’etat atau kepentingan negara total, bukan nilai moral.

Bangkitnya Realpolitik Trumpian

Di bawah kepemimpinan Donald Trump, realpolitik—kebijakan luar negeri yang didasarkan pada kekuatan dan kepentingan—kembali menempati momentum historisnya. Dunia yang selama satu abad berada dalam bayang-bayang Wilsonian, kini dihadapkan pada hantu Bismarck dan Disraeli yang menampakkan bayangnya kembali.

Trump tidak segan menegaskan kepentingan nasionalnya di Venezuela, terutama terkait sumber daya minyak, dengan menganggap Maduro sebagai penghalang yang harus disingkirkan. Sejak Theodore Roosevelt, belum ada yang mengekspresikan Monroe Doctrine dengan unjuk kekuatan setelanjang ini selain Trump.

Demonstrasi kekuatan di Caracas, di mana sebuah kekuatan hyperpower di Belahan Bumi Barat dan adidaya global melakukan serangan demi kepentingannya, memperkuat kembali rimba raya anarkisme dunia. Saat senjata berbicara, hukum internasional semakin kehilangan taji, menempatkan setiap negara dalam jeruji ketidakamanan yang sama.

Kematian Tatanan Internasional Liberal

Puncak dari semua ini adalah kematian total tatanan internasional liberal berbasis aturan yang rapuh. Ironisnya, Amerika Serikat, yang telah memperjuangkannya melalui dua Perang Dunia yang destruktif dan mengarsiteki Perserikatan Bangsa-Bangsa, kini berperan dalam kehancurannya.

Tatanan berbasis aturan ini, yang terwujud dalam PBB dan muncul di atas reruntuhan perang, adalah eksperimen yang sulit. Meskipun dipandang sinis oleh para kritikus realis, sistem ini telah membawa delapan dekade perdamaian relatif, di mana unjuk kekuatan telanjang akan dihadapkan pada kecaman moral.

Namun, saat AS sendiri tak lagi mengindahkan hukum internasional, menginvasi negara berdaulat, dan menangkap presidennya, kematian tatanan internasional liberal adalah kepastian. Ikatan yang susah payah dirajut sejak Piagam Atlantik kini perlahan terurai, karena AS sebagai simpul pengikatnya enggan lagi terikat.

Dunia yang tidak aman semakin membayang. Kedaulatan negara semakin nihil arti saat negara yang lebih besar mendemonstrasikan kekuatannya. Tindakan Trump di Venezuela mungkin menghadiahkan surplus sumber daya, namun dampaknya jauh lebih mengerikan: hilangnya kepercayaan dalam hubungan antar bangsa.

Mureks