Nasional

Terlalu Banyak Berita Politik, Tubuh Diam-diam Kewalahan: Sinyal Stres yang Sering Diabaikan

Konsumsi berita politik yang berlebihan ternyata dapat memicu respons fisik yang signifikan pada tubuh, bahkan ketika pikiran merasa “biasa saja”. Praktisi dan Master Trainer EFT, Yuyun Wardhana, menyoroti fenomena ini sebagai bagian dari pengalamannya mendampingi ribuan orang dalam proses self healing.

Yuyun, yang memiliki latar belakang sebagai wartawan foto untuk tabloid Detik pada era Orde Baru, menegaskan bahwa dirinya tidak anti-berita atau politik. Namun, dari observasinya, ia menemukan bahwa “tubuh manusia jauh lebih sensitif daripada yang kita kira”, dan sering kali kita terlambat menyadarinya.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Keluhan Fisik yang Sering Diabaikan

Menurut Yuyun, banyak peserta pelatihan self healing yang ia dampingi datang dengan keluhan fisik yang sering dianggap sepele, seperti asam lambung naik, perut tidak nyaman, dada terasa penuh, kepala berat, dan tidur tidak nyenyak. Menurut pantauan Mureks, ketika ditanya, jawaban yang umum adalah telat makan, salah makanan, atau konsumsi makanan pedas/asam.

Namun, Yuyun mencatat bahwa tidak semua keluhan fisik bermula dari faktor fisik semata. “Tubuh tidak peduli apakah kita menganggap sesuatu penting atau tidak. Selama emosi bergerak, tubuh akan merespons,” ujarnya dalam sesi pelatihannya.

Ketika seseorang terlalu sering terpapar berita politik yang penuh konflik dan ketidakpastian, pikiran mungkin hanya ingin tahu. Namun, tubuh menafsirkannya sebagai tekanan. Sistem saraf memasuki mode siaga, napas memendek, otot mengencang, dan pencernaan melambat. Ini adalah respons biologis yang nyata.

Yang menarik, banyak orang dalam kondisi ini “tidak merasa sedang stres”. Mereka hanya merasakan “lelah”, “tidak enak badan”, atau “perut sering bermasalah”.

Pencernaan sebagai Cermin Emosi

Yuyun menjelaskan bahwa pencernaan adalah organ yang paling cepat “bicara” dan sering menjadi cermin emosi yang paling jujur. Dalam pendekatan self healing, lambung dan usus kerap menjadi tempat penyimpanan emosi yang tidak disadari dan tidak dilepaskan.

Ilmu kesehatan modern pun mengakui konsep “gut–brain axis“, yaitu jalur komunikasi dua arah antara otak dan usus. Emosi dapat memengaruhi pencernaan, dan sebaliknya. Inilah sebabnya mengapa stres seringkali langsung terasa di perut, bahkan sebelum disadari secara rasional.

Mureks mencatat bahwa Yuyun berulang kali mengamati bahwa asam lambung bukan hanya soal makanan, dan maag bukan sekadar telat makan. Dalam banyak kasus, ada “ketegangan emosi yang dipendam terlalu lama” yang menjadi akar masalahnya.

“Asam lambung dianggap murni masalah makanan. Perut tidak nyaman dianggap urusan jadwal makan. Padahal bisa jadi, tubuh sedang kelelahan menyimpan emosi—cemas, marah, frustrasi—yang setiap hari dipicu oleh informasi yang kita konsumsi,” ungkap Yuyun.

Kurangnya kesadaran akan hubungan antara tubuh dan emosi menjadi perhatian utama. Kita cenderung menyalahkan tubuh, namun jarang bertanya: “apa yang sedang saya simpan di pikiran dan perasaan saya belakangan ini?”

Tubuh Mencatat Emosi yang Tak Tersalurkan

Berita politik memiliki daya tarik emosional yang kuat, menyentuh rasa keadilan, keamanan, dan masa depan. Kita ikut merasakan emosi tersebut, namun seringkali tidak memiliki ruang untuk menyalurkannya. Emosi ini tidak dibicarakan, tidak dilepaskan, dan tidak diakui.

Dalam dunia trauma dan stres, dikenal ungkapan “the body keeps the score“. Ini berarti tubuh mencatat apa yang tidak sempat diselesaikan oleh pikiran. Dengan kata lain, “emosi yang tidak disadari akan disimpan oleh tubuh”, dan pencernaan sering menjadi tempat penyimpanannya.

Yuyun tidak bermaksud mengajak masyarakat untuk menutup diri dari realitas. Namun, ia menekankan bahwa “tidak semua informasi perlu dikonsumsi tanpa batas”. Kesadaran adalah kunci dalam self healing: menyadari kapan informasi berubah menjadi tekanan, kapan tubuh mulai lelah, dan kapan perlu berhenti sejenak.

“Kadang yang dibutuhkan tubuh bukan obat, bukan suplemen, tetapi ‘ruang untuk kembali merasa aman’,” pungkas Yuyun. Berita politik mungkin hanya dibaca melalui layar, tetapi dampaknya bisa terasa nyata di tubuh, terutama di perut. Tubuh selalu jujur, memberikan sinyal ketika sesuatu terlalu berat untuk terus ditahan.

Bagi Yuyun, self healing bukan tentang menghindari dunia, melainkan tentang “belajar hadir di dalam tubuh sendiri”, mendengarkan sinyal-sinyal halus yang selama ini diabaikan. Karena kesehatan bukan hanya tentang apa yang kita makan, melainkan juga tentang “apa yang setiap hari kita izinkan masuk ke pikiran dan emosi kita”.

Mureks