Nasional

Ketika Algoritma Menjadi Hakim Cinta: Mengapa Kita Gagal Mengenal Utuh di Era Digital

Di tengah dominasi layar gawai dalam kehidupan sehari-hari, konsep cinta dan hubungan asmara turut mengalami penyederhanaan. Perasaan yang seyogianya tumbuh melalui interaksi mendalam, kesabaran, dan waktu, kini sering kali disimpulkan dari potongan video singkat di media sosial. Algoritma, yang pada dasarnya merupakan sistem penyaring minat pengguna, secara perlahan telah bertransformasi menjadi penentu: siapa yang dianggap layak dicintai dan siapa yang patut dicap sebagai ‘red flag’ atau tanda bahaya.

Fenomena ini, menurut Mureks, menunjukkan pergeseran signifikan dalam cara individu, khususnya perempuan—tanpa bermaksud menggeneralisasi—menilai calon pasangan. Penilaian terhadap laki-laki kini tidak lagi didasarkan pada proses pengenalan yang komprehensif, melainkan dari narasi viral yang beredar. Misalnya, satu konten mungkin menyatakan bahwa sikap posesif adalah ‘red flag’, sementara konten lain menuduh diam sebagai indikasi manipulatif. Dalam arus informasi ini, seorang lelaki kerap dipandang bukan sebagai individu dengan latar belakang, pengalaman, dan potensi pertumbuhan, melainkan sebagai kumpulan gejala yang harus sesuai dengan daftar kriteria algoritmik.

Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Kewaspadaan dalam menjalin relasi sebenarnya merupakan bentuk kecerdasan emosional yang penting. Namun, permasalahan muncul ketika kehati-hatian tersebut bermetamorfosis menjadi kecurigaan instan. Kebijaksanaan dalam memahami karakter seseorang pun tergantikan oleh potongan ‘edukasi’ tanpa konteks yang mendalam. Konsep psikologi dipadatkan menjadi slogan-slogan, dan kompleksitas karakter diringkas dalam sebuah caption singkat. Akibatnya, cinta kehilangan ruang untuk mengalami kesalahan, belajar, dan bertumbuh.

Ironisnya, ketika sebuah relasi menemui kegagalan, pihak yang disalahkan sering kali adalah pasangan itu sendiri, bukan standar yang sejak awal telah dibentuk oleh layar digital. Algoritma diagungkan sebagai ukuran mutlak, namun ketika hasilnya mengecewakan, manusia tetap menanggung sendiri rasa kecewanya. Mesin tidak pernah merasakan patah hati; manusialah yang harus menghadapi konsekuensinya.

Dalam konteks cinta, tidak semua hal yang tampak ‘merah’ adalah bendera bahaya yang harus dihindari. Ada luka masa lalu yang belum pulih, ada sikap diam yang lahir dari kehati-hatian, dan ada rasa cemburu yang masih dapat dididik menjadi bentuk kepedulian. Namun, dunia digital cenderung memotong proses ini, seolah setiap kekurangan adalah alasan mutlak untuk mengakhiri hubungan, bukan sebuah kesempatan untuk memahami dan berproses bersama.

Cinta yang sehat, pada hakikatnya, tidak lahir dari daftar viral yang instan, melainkan dari kesediaan untuk mengenal seseorang secara utuh dan mendalam. Ia membutuhkan waktu dan kesabaran, bukan sekadar aktivitas ‘scroll’ tanpa henti. Ia menuntut dialog dan komunikasi dua arah, bukan vonis sepihak yang didasarkan pada asumsi. Ketika algoritma dijadikan tolok ukur utama, cinta mungkin tampak rapi dan terstruktur di awal, namun cenderung rapuh di bagian dalamnya.

Mungkin sudah saatnya kita menempatkan algoritma pada porsinya yang tepat. Biarkan ia tetap berfungsi sebagai alat hiburan, bukan sebagai penentu nilai dan kualitas manusia dalam sebuah hubungan. Sebab, cinta yang diserahkan sepenuhnya kepada kendali mesin, cepat atau lambat, akan menemui kegagalan—dan kita akan mengeluh, tanpa pernah menyadari bahwa sejak awal, ukuran yang kita gunakan memang keliru.

Referensi penulisan: kumparan.com

Mureks