Nasional

10 Januari: Gelombang Tritura Menggema, Titik Awal Perjalanan Menuju Orde Baru

Tanggal 10 Januari memiliki posisi krusial dalam lembaran sejarah politik Indonesia. Pada hari inilah, gelombang tuntutan rakyat yang dikenal sebagai Tri Tuntutan Rakyat atau Tritura mulai menguat, menjadi simbol tekanan publik terhadap pemerintahan Presiden Soekarno di penghujung era Orde Lama.

Periode Orde Lama saat itu diwarnai oleh berbagai penyimpangan dalam praktik ketatanegaraan, terutama setelah diberlakukannya Demokrasi Terpimpin melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Sejumlah lembaga negara dibentuk di luar ketentuan UUD 1945, sementara stabilitas politik terus menunjukkan pelemahan. Catatan Mureks menunjukkan, situasi semakin rumit dengan menguatnya peran Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam pemerintahan, yang memicu kecemasan mendalam di berbagai kalangan, termasuk Angkatan Darat dan kelompok mahasiswa. Ketegangan ini mencapai puncaknya pasca-peristiwa G30S 1965, yang kemudian mempercepat krisis legitimasi pemerintahan Soekarno.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.

Tritura dan Aksi Mahasiswa Menggugat

Dalam kondisi politik yang memanas, berbagai kesatuan aksi seperti Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), Kesatuan Aksi Pemuda Indonesia (KAPI), serta organisasi profesi dan pemuda lainnya bersatu membentuk Front Pancasila. Melalui front inilah, Tritura disampaikan secara terbuka kepada pemerintah, memuat tiga tuntutan utama yang menjadi suara rakyat:

  • Pembubaran PKI beserta organisasi massanya.
  • Perombakan Kabinet Dwikora.
  • Penurunan harga kebutuhan pokok.

Aksi besar penyampaian Tritura dilakukan dengan mendatangi Gedung DPR-GR pada 12 Januari 1966, yang kemudian memperkuat posisi 10 Januari sebagai momentum awal rangkaian tuntutan rakyat.

Eskalasi Konflik dan Lahirnya Supersemar

Presiden Soekarno merespons tekanan tersebut dengan melakukan reshuffle Kabinet Dwikora pada 21 Februari 1966. Namun, langkah ini justru memicu kekecewaan lebih luas karena dinilai masih melibatkan unsur-unsur yang dianggap dekat dengan PKI. Situasi semakin memanas pada 24 Februari 1966 saat pelantikan kabinet baru. Dalam bentrokan antara demonstran dan pasukan pengamanan, mahasiswa Arief Rachman Hakim gugur tertembak. Peristiwa tragis ini semakin melemahkan wibawa pemerintah dan memperbesar gelombang perlawanan mahasiswa yang kemudian dikenal sebagai Angkatan 66.

Peran signifikan mahasiswa dalam peristiwa 1966 terdokumentasi dalam buku “Pengumpulan Sumber Sejarah Lisan: Gerakan Mahasiswa 1966 dan 1998” yang diterbitkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) pada 2011. Buku tersebut memuat kesaksian tokoh-tokoh Angkatan 66 mengenai dinamika gerakan mahasiswa dan perannya dalam perubahan politik nasional.

Tekanan politik yang terus meningkat akhirnya berujung pada dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada 11 Maret 1966. Melalui surat tersebut, Presiden Soekarno memberikan kewenangan kepada Letjen Soeharto untuk mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu guna memulihkan keamanan dan ketertiban. Supersemar menjadi titik balik penting dalam sejarah politik Indonesia. Sejak saat itu, kekuasaan Presiden Soekarno semakin tergerus, sementara Soeharto mulai mengambil peran dominan dalam pemerintahan.

Langkah-langkah seperti pembubaran PKI, pembersihan kabinet dari unsur komunis, penataan lembaga negara, serta pembentukan Kabinet Ampera menandai lahirnya Orde Baru. Proses ini berpuncak pada Sidang Istimewa MPRS 1967 yang mencabut kekuasaan Presiden Soekarno dan mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden.

Mureks