Patung macan putih yang berdiri di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, kini menjadi magnet baru bagi warga dan membawa berkah ekonomi bagi masyarakat sekitar. Kehadiran patung ini, yang sempat menuai perdebatan, kini justru mengangkat nama desa.
Patung tersebut ramai dikunjungi warga yang antusias untuk berswafoto. Keunikannya, yang dinilai tidak mirip dengan macan pada umumnya, justru menjadi daya tarik tersendiri. Fenomena ini turut mendongkrak perekonomian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar lokasi, menciptakan geliat ekonomi yang signifikan.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Patung Jadi Rebutan, Desa Tolak Tawaran Pembelian
Popularitas patung macan putih ini tidak hanya menarik perhatian warga lokal, tetapi juga seniman dari berbagai daerah. Mureks mencatat bahwa sejumlah seniman dari Yogyakarta hingga Bali telah menyatakan ketertarikan untuk membeli patung tersebut.
Namun, Pemerintah Desa Balongjeruk bersama warga telah mengambil keputusan bulat untuk tidak melepas patung tersebut. Keputusan ini didasari oleh dampak positif yang luar biasa dari viralnya patung macan putih, yang secara nyata telah mengangkat nama desa di kancah nasional.
Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, mengungkapkan kebanggaannya atas perubahan persepsi ini. “Ini luar biasa. Dari yang sempat dihujat, kini justru membawa manfaat dan mengangkat nama desa,” ujar Safi’i, menegaskan komitmen desa untuk mempertahankan ikon tersebut.
Sempat Akan Dipugar, Kini Diputuskan Tetap Otentik
Sebelumnya, Safi’i sempat memiliki rencana untuk membangun ulang patung agar tampil lebih menyerupai macan pada umumnya. Namun, setelah musyawarah dengan warga, diputuskan bahwa patung tersebut tidak akan diganti atau dipugar.
Safi’i menjelaskan bahwa pembangunan patung macan putih ini merupakan inisiatif warga untuk membangkitkan legenda di desanya sekaligus menjadikannya sebagai ikon desa. Menurut Mureks, kesepakatan untuk mempertahankan patung dalam bentuk aslinya menunjukkan apresiasi terhadap nilai unik yang dimilikinya.
Lebih lanjut, Safi’i juga menegaskan bahwa pembangunan patung ini tidak menggunakan dana desa. “Ini murni dana pribadi saya sebagai bentuk kepedulian terhadap desa,” pungkasnya, menunjukkan dedikasi personal dalam mewujudkan ikon desa tersebut.






