Kementerian Sosial (Kemensos) terus mematangkan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang ditujukan bagi kelompok lansia dan penyandang disabilitas. Program ini akan dilengkapi dengan kehadiran caregiver bersertifikat untuk memberikan pendampingan secara profesional.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, menjelaskan bahwa program ini merupakan pengembangan dari inisiatif sebelumnya. Ia menyebutkan, sekitar 100 ribu lebih lansia dan penyandang disabilitas akan menjadi penerima manfaat MBG.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Target dan Cakupan Program
Gus Ipul merinci bahwa pada tahun 2025, Kemensos telah menjalankan program bernama Permakanan untuk Lansia dan Penyandang Disabilitas. Program tersebut menjangkau lebih dari 100.000 penerima manfaat, khususnya lansia berusia di atas 75 tahun yang hidup sendiri. Sementara itu, untuk penyandang disabilitas, program ini telah disalurkan kepada 32.000 penerima sesuai usulan dari daerah.
“Sebelum ini di tahun 2025 kita punya program namanya Permakanan untuk Lansia dan Penyandang Disabilitas. Permakanan Lansia ini diberikan kepada lebih dari 100.000 penerima manfaat, terutama lansia yang usianya di atas 75 tahun dan tinggal sendiri. Untuk disabilitas, kami salurkan sesuai usulan dari daerah, masih bisa 32.000,” ujar Gus Ipul usai agenda Doa Awal Tahun di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta, pada Jumat (9/1/2026).
Peran Penting Caregiver Profesional
Gus Ipul menegaskan pentingnya penambahan caregiver profesional dalam program MBG ini. Menurutnya, banyak lansia dan penyandang disabilitas yang hidup sendiri sehingga membutuhkan pendampingan khusus.
“Ke depan ini sedang kami kaji untuk menambah caregiver, semacam pengasuh yang sudah terlatih bersertifikat sehingga bisa melayani, mendampingi, dan membantu para lansia yang tinggal sendirian,” jelas Gus Ipul.
Catatan Mureks menunjukkan, kebutuhan akan caregiver di tengah masyarakat memang cukup tinggi. Hal ini sejalan dengan pernyataan Gus Ipul yang menyebutkan bahwa statistik menunjukkan adanya kebutuhan besar terhadap pendamping, tidak hanya untuk lansia dan disabilitas, tetapi juga anak-anak yang orang tuanya bekerja.
“Menurut statistik, sangat banyak caregiver dibutuhkan tengah-tengah masyarakat, baik itu untuk anak-anak yang orang tuanya bekerja, lansia, maupun penyandang disabilitas,” imbuhnya.
Tahap Simulasi dan Harapan ke Depan
Saat ini, Kemensos tengah melakukan simulasi terkait teknis penyaluran MBG dan pelibatan caregiver. Proses ini diharapkan dapat memastikan program berjalan efektif dan tepat sasaran.
“Ya ini di awal tahun ini kita akan mencoba, ini lagi proses ya. Tapi saya mohon maaf ini nulisnya ini yang pas juga karena ini kita lagi simulasi untuk caregiver. Ini peluang yang baik karena memang ada kebutuhan,” ungkap Gus Ipul.
Meskipun masih dalam tahap perencanaan dan simulasi, Kementerian Sosial berharap program MBG yang dilengkapi dengan caregiver ini dapat berjalan secara konsisten dan memberikan dampak nyata. Tujuannya adalah menjangkau lebih banyak lansia dan penyandang disabilitas di seluruh Indonesia, memastikan mereka mendapatkan asupan gizi yang layak serta pendampingan yang memadai.






