Jumat, 09 Januari 2026 – Bisnis jasa penitipan sepeda motor di sekitar area stasiun kereta api kian menjamur. Fenomena ini tumbuh subur seiring meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap transportasi kereta api untuk mobilitas sehari-hari, terutama para komuter.
Di kawasan Stasiun Bekasi, Jawa Barat, misalnya, setiap pagi hingga sore hari, ratusan sepeda motor berderet rapi di sejumlah titik parkir informal. Lokasi-lokasi seperti Jalan H. Djuanda dan sisi samping stasiun di Jalan Perjuangan, yang dulunya didominasi rumah tinggal dan lahan kosong, kini bertransformasi menjadi kantong-kantong usaha penitipan motor.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Tarif Parkir Resmi yang Memberatkan Dorong Pilihan Alternatif
Pilihan parkir di luar area stasiun ini bukan tanpa alasan. Tarif parkir resmi di dalam area stasiun yang dihitung per jam dinilai memberatkan, khususnya bagi para pekerja yang meninggalkan kendaraan sejak pagi hingga petang.
Di area parkir resmi stasiun, tarif satu jam pertama dipatok Rp 2.000 dan bertambah Rp 1.000 untuk setiap jam berikutnya. Jika dihitung selama jam kerja, biaya parkir bisa melonjak cukup tinggi. Kondisi ini membuat banyak pengguna kereta memilih parkir di luar stasiun yang menawarkan tarif harian lebih terjangkau.
Awan, salah seorang petugas parkir motor di kawasan sekitar Stasiun Bekasi, mengungkapkan perbedaan tarif yang signifikan. “Kalau parkir di luar stasiun, dulu Rp 5.000, sekarang di tempat kami cukup bayar Rp 6.000 seharian. Walaupun sekarang ada yang mulai naik lagi,” ujarnya pada Rabu (7/1).
Dimas, pengguna jasa parkir motor asal Tambun, turut mengakui keuntungan ekonomis parkir di luar stasiun. “Kalau dibandingkan, jelas lebih murah di luar. Selisihnya jauh kalau parkir di dalam stasiun,” kata Dimas. Menurutnya, meski tidak ada sistem pembayaran bulanan, hubungan langganan tetap terjalin secara alami karena sudah saling mengenal, sehingga memunculkan rasa aman.
Kisah Sultan: Dari Kepala Gudang ke Pengusaha Parkir
Fenomena ini juga menciptakan peluang bisnis baru bagi individu. Sultan (36 tahun) adalah salah satunya. Ia memilih merintis bisnis baru dengan membuka parkiran motor bernama Penitipan Motor H5 di dekat Stasiun Bojonggede, Bogor, Jawa Barat, sejak 1,5 tahun lalu. Sebelumnya, Sultan bekerja sebagai kepala gudang di sebuah perusahaan air minum di wilayah Parung.
“Kenapa saya buka parkiran, karena tahun lalu ada penutupan jalan, dan ide saya di situ muncul, tidak mau kehilangan kesempatan,” kata Sultan saat ditemui tim redaksi Mureks pada Kamis (8/1).
Usaha mandiri Sultan tidak selalu berjalan mulus. Ia bercerita, pada awal pembukaan parkiran tersebut, ia tidak mendapatkan pelanggan selama tiga bulan. Namun, Sultan tidak menyerah. Ia memutar otak untuk menarik pelanggan, seperti menambah fasilitas dan mengajak teman-temannya untuk parkir.
Seiring berjalannya waktu, parkiran H5 mulai diminati. Sultan kemudian berinovasi dengan menyediakan tiket parkir cetak serta pembayaran melalui QRIS. Harga parkir di tempat H5 ini terbilang terjangkau, yakni Rp 5.000 untuk motor kecil dan Rp 6.000 untuk motor besar. Sebagai perbandingan, di dalam stasiun, tarif parkir maksimal bisa mencapai Rp 10.000.
Sultan berupaya keras membuat pelanggan merasa nyaman dan aman saat menitipkan kendaraannya di parkiran miliknya.
Wajah Berbeda di Stasiun Cikarang: Ruko Tergusur Parkiran Informal
Pantauan Mureks mencatat bahwa di luar area resmi Stasiun Cikarang, Jalan Yos Sudarso, Karang Asih, Cikarang Utara, ruas jalan yang dahulu dipenuhi ruko dan lapak pedagang kini berubah wajah menjadi hamparan parkiran informal. Motor-motor berjejer rapat, sebagian besar tanpa atap pelindung. Pemandangan ini kontras dengan kawasan sekitar Stasiun Bekasi yang mayoritas parkirannya sudah tertata dan beratap.
Perubahan fungsi lahan ini meninggalkan jejak yang tak kecil. Sejumlah ruko tampak tertutup rapat, catnya memudar, etalase kosong tanpa aktivitas. Bangunan yang semula disewakan untuk berdagang kini kehilangan peminat, tersisih oleh kebutuhan praktis para pengguna commuter line yang mengutamakan kecepatan.
“Parkir di luar lebih cepat,” ujar Wati, salah satu pengguna jasa parkir, singkat, menggambarkan prioritas utama para komuter.






