Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dijadwalkan menggelar pertemuan penting pada Senin (5/1) waktu Amerika Serikat, atau pukul 22.00 WIB, untuk membahas situasi terkini di Venezuela. Pertemuan ini menyusul agresi militer Amerika Serikat (AS) yang menyerang sejumlah wilayah Venezuela pada Sabtu (3/1) dini hari.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 80 orang. Dalam operasi militer itu, pasukan elite AS Delta Force juga berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores. Penangkapan ini menjadi sorotan tajam komunitas internasional.
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Washington akan mengambil alih pemerintahan Venezuela untuk sementara waktu. Selain itu, Trump juga menyebut akan memanfaatkan cadangan minyak negara tersebut selama proses persidangan Maduro berlangsung. Menurut Mureks, pernyataan ini memicu kekhawatiran akan kedaulatan negara.
Setelah ditangkap, Maduro dan istrinya langsung diterbangkan ke New York. Mereka dijadwalkan hadir di pengadilan federal pada pukul 12.00 siang waktu setempat untuk menghadapi sidang tuduhan narkoterorisme.
Kecaman Internasional Mengalir Deras
Berbagai negara di dunia telah menyuarakan kecaman keras terhadap tindakan AS di Venezuela dan penangkapan Presiden Maduro. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres turut angkat bicara mengenai insiden ini.
Guterres menegaskan, “situasi di Caracas saat ini merupakan preseden berbahaya, dan mendesak AS untuk mematuhi hukum internasional, termasuk Piagam PBB.” Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan negara dan prinsip-prinsip hukum internasional.






