Klub papan atas Premier League, Chelsea, secara resmi mengakhiri kerja sama dengan pelatih Enzo Maresca pada Jumat, 02 Januari 2026. Keputusan ini, yang berlaku efektif sejak 1 Januari 2026, disebut bukan terjadi secara tiba-tiba. Meskipun Maresca berhasil mempersembahkan dua trofi pada musim sebelumnya, hubungan antara sang pelatih dan manajemen klub dilaporkan mengalami keretakan serius dalam beberapa pekan terakhir.
Serangkaian kontroversi internal, komunikasi yang buruk, hingga performa tim yang menurun drastis menjadi faktor utama yang mendorong manajemen Stamford Bridge mengambil langkah tegas. Tim redaksi Mureks mencatat bahwa ada lima momen kunci yang menjadi pemicu pemecatan Maresca dari kursi manajer Chelsea.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
1. Kontak Maresca dengan Manchester City
Salah satu isu paling sensitif yang memicu keretakan adalah kabar komunikasi Maresca dengan Manchester City. Menurut Mureks, sumber internal Chelsea menilai langkah tersebut sebagai awal dari runtuhnya kepercayaan klub terhadap sang pelatih. Maresca disebut telah memberi tahu manajemen soal adanya pembicaraan dengan pihak yang dekat dengan City terkait potensi lowongan di akhir musim. Meskipun dilakukan atas dasar kewajiban kontrak, manuver itu tetap dianggap tidak menghormati Chelsea. Situasi ini semakin rumit mengingat rekam jejak Maresca sebagai mantan asisten Pep Guardiola di Etihad.
2. Konflik dengan Tim Medis Chelsea
Ketegangan di internal klub semakin terasa ketika Maresca menyebut dua hari jelang kemenangan atas Everton sebagai “48 jam terburuk” selama melatih Chelsea. Pernyataan tersebut diyakini berkaitan dengan perbedaan pandangannya dengan tim medis terkait kondisi fisik pemain. Manajemen menilai sang pelatih kerap mengabaikan rekomendasi dokter, khususnya soal durasi bermain, demi mengejar hasil. Kekhawatiran meningkat setelah sejumlah pemain inti tetap dipaksakan tampil meski mengalami cedera ringan.
3. Pernyataan Terbuka Maresca ke Publik
Alih-alih meredam situasi, Maresca justru mempertegas kritiknya di ruang publik. Ia menegaskan bahwa pernyataannya bukan luapan emosi sesaat, melainkan sesuatu yang telah dipikirkan matang. Sikap ini memicu frustrasi di kalangan petinggi klub, yang menilai Maresca semakin sering menyampaikan ketidakpuasan secara terbuka ketimbang menyelesaikannya secara internal.
4. Hasil Buruk di Tengah Musim
Penurunan performa tim menjadi faktor krusial yang akhirnya mempercepat keputusan pemecatan. Chelsea tercatat telah kehilangan 15 poin dari posisi unggul di Premier League musim ini, terbanyak di antara seluruh kontestan. Jika digabungkan dengan Liga Champions, total poin yang terbuang mencapai 20. Statistik tersebut dinilai tidak bisa diterima, terutama ketika klub pesaing seperti Arsenal hanya kehilangan lima poin dari situasi serupa.
5. Absen dari Konferensi Pers
Insiden yang dianggap paling mencerminkan keretakan hubungan terjadi usai hasil imbang melawan Bournemouth. Maresca tidak hadir dalam konferensi pers dan justru mengutus asistennya, Willy Caballero, dengan alasan sakit. Belakangan terungkap bahwa ketidakhadiran itu merupakan penolakan Maresca untuk menghadapi media. Sikap tersebut dinilai tidak profesional dan membuat manajemen kecewa karena menyeret staf pelatih ke dalam situasi yang sensitif. Momen inilah yang diyakini menjadi titik akhir kesabaran Chelsea terhadap Maresca, seperti yang dilaporkan oleh The Sun.





