CARACAS, Mureks – Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu (3/1/2026) dini hari. Insiden ini sontak menimbulkan kepanikan di kalangan warga dan memicu Presiden Venezuela Nicolas Maduro untuk mengumumkan keadaan darurat nasional.
Serangan udara yang diduga berasal dari AS tersebut dilaporkan menyebabkan ledakan hebat dan suara pesawat terbang rendah yang memekakkan telinga. Setidaknya tujuh ledakan terdengar di berbagai titik kota, membuat warga berhamburan mencari perlindungan.
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Kepanikan Warga dan Kesaksian Langsung
Suasana mencekam menyelimuti Caracas saat serangan terjadi. Banyak warga yang terbangun dari tidur dan bergegas menuju jendela atau teras rumah mereka, berusaha memahami situasi yang sedang berlangsung. Sejumlah laporan juga menyebutkan pemadaman listrik terjadi di beberapa distrik.
Emmanuel Parabavis (29), seorang pegawai hubungan masyarakat yang tinggal di distrik El Valle, menggambarkan kepanikan yang ia alami. “Dari sini, kami bisa mendengar ledakan di sekitar Fort Tiuna,” ujarnya kepada AFP, merujuk pada salah satu pangkalan militer terbesar di Venezuela.
Parabavis menambahkan, “Saat ini terdengar suara seperti senapan mesin. Ada banyak dentuman dan tembakan.” Kesaksiannya ini, menurut Mureks, menggambarkan intensitas serangan yang terjadi.
Warga lain, Francis Pena (29), juga menceritakan pengalamannya. Ia mengaku sedang tidur ketika kekasihnya membangunkannya dan memberitahu tentang serangan itu. “Saya tidak bisa melihat ledakannya, tapi saya rasa mendengar suara pesawat,” kata Pena kepada AFP.
Menghadapi situasi darurat, Pena dan kekasihnya segera menyiapkan tas berisi barang-barang penting. “Kami mulai menyiapkan tas berisi barang-barang penting di rumah –paspor, kartu-kartu, uang tunai, lilin, pakaian ganti, dan makanan kaleng,” jelasnya.
Latar Belakang Ketegangan AS-Venezuela
Serangan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump berulang kali melontarkan ancaman akan meluncurkan aksi militer terhadap Venezuela. Pada Senin (29/12/2025) lalu, Trump bahkan mengklaim bahwa AS telah menghantam dan menghancurkan dermaga yang diduga digunakan oleh kapal-kapal narkoba Venezuela.
Menanggapi klaim tersebut, Presiden Nicolas Maduro tidak membenarkan maupun membantah serangan itu. Namun, ia kemudian menyatakan keterbukaannya untuk bekerja sama dengan Washington.
Pemerintahan Trump menuding Maduro memimpin kartel narkoba, sebuah tuduhan yang dibantah keras oleh Maduro. Pemimpin berhaluan kiri itu menegaskan bahwa AS berupaya menggulingkannya karena Venezuela memiliki cadangan sumber daya terbesar di dunia. Tim redaksi Mureks mencatat bahwa ketegangan antara kedua negara telah berlangsung lama, dengan tuduhan dan bantahan yang saling dilontarkan.






