Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan bahwa orientasi utama petugas haji adalah pelayanan terhadap jemaah, bukan untuk “nebeng” naik haji. Pernyataan ini disampaikan saat menutup pelatihan Training of Trainers (ToT) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, pada Kamis, 8 Januari 2026.
Dahnil menjelaskan, para petugas haji tahun ini akan menjalani persiapan diklat yang lebih lama, yakni kurang lebih tiga minggu. “Nanti tanggal 10, para petugas itu mulai masuk barak. Fokus pelatihannya ada di Asrama Haji ini dan sebagian lagi ada pelatihan di Halim,” ujar Dahnil.
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Penekanan pada Orientasi Pelayanan dan Niat
Pelatihan yang berlangsung selama lima hari ini diperuntukkan bagi para trainer dan fasilitator yang nantinya akan melatih petugas haji. Menurut Dahnil, tahun ini terdapat sejumlah pembaruan, terutama terkait orientasi dan niat petugas.
“Kita ingin memastikan semua petugas haji itu orientasi utamanya adalah pelayanan jemaah, bukan ‘nebeng’ naik haji. Kami ingin meluruskan niat mereka semua. Karena ada beberapa petugas yang kebetulan belum naik haji, kami pastikan niat utamanya harus pelayanan terhadap jemaah terlebih dahulu,” tegasnya.
Adopsi Pendekatan Militer untuk Disiplin Tim
Selain itu, Dahnil menekankan pentingnya integritas, kedisiplinan, dan kekompakan tim. Evaluasi tahun lalu, Mureks mencatat bahwa kerja tim dan koordinasi masih menjadi masalah. Oleh karena itu, pihaknya mengadopsi pendekatan militer untuk membangun disiplin dan kekompakan tim.
“Nanti akan ada simulasi di Masyair, simulasi di Tanah Haram, dan sebagainya. Termasuk latihan PBB (Peraturan Baris Berbaris), karena awal dari ketertiban dan kedisiplinan itu dimulai dari PBB. Secara fisik juga akan kami uji, karena 90% kerja petugas haji adalah kerja fisik,” tutur Dahnil.
Dedikasi Penuh dan Seleksi Ketat
Dahnil juga menegaskan bahwa waktu pelatihan yang cukup lama merupakan bagian dari persiapan yang serius. “Jika ada yang beralasan tidak bisa karena urusan kerja dan sebagainya, ya sudah, tidak usah jadi petugas haji. Yang mengantre ingin jadi petugas haji itu jutaan orang. Kami mencari yang mau mengikuti aturan dan memiliki dedikasi penuh,” tambahnya.
Terkait jumlah petugas, Dahnil menyebut ada penambahan sekitar dua kali lipat dari tahun sebelumnya, khususnya unsur TNI dan Polri. Selain itu, Kementerian Agama juga akan memberikan reward bagi tim, pelatih, atau petugas yang menunjukkan prestasi dan dedikasi baik terhadap jemaah.
“Jika tim kementerian, para pelatih, atau petugas haji (termasuk MCH) menunjukkan prestasi dan dedikasi yang bagus terhadap jemaah, kami akan memberikan kesempatan otomatis untuk menjadi petugas kembali di tahun berikutnya,” tutup Dahnil.






