Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin tengah gencar mengupayakan agar masyarakat Indonesia yang terbiasa berobat ke luar negeri dapat kembali menaruh kepercayaan pada fasilitas kesehatan di dalam negeri. Upaya ini tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga peningkatan kualitas pelayanan.
Menurut Budi Gunadi, daya tarik berobat ke luar negeri bukan semata karena fasilitas atau harga, melainkan juga karena pasien merasa “di-wongke” atau dimanusiakan. “Berobat ke luar negeri itu bukan hanya masalah fasilitas dan harga, tapi juga bagaimana mereka merasa lebih di-wongke (dimanusiakan) sebagai pasien, didengarkan, diberi waktu yang cukup untuk berkonsultasi, merasa nyaman, dan percaya bahwa mereka mendapatkan perawatan yang terbaik,” ujar Budi Gunadi saat ditemui usai melakukan groundbreaking pembangunan gedung Central Medical Unit (CMU) di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, Kamis (8/1/2026).
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Fenomena masyarakat yang memilih berobat ke luar negeri diperkirakan masih akan berlanjut pada tahun 2026. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi Kementerian Kesehatan (Kemenkes). “Masih banyak (yang berobat ke luar negeri tahun ini). Nah, itu tantangannya buat kita. Selain membangun sarana prasarana seperti yang sudah kita lihat, penting juga membangun kemampuan tenaga kesehatan kita untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat,” jelasnya.
Kepercayaan publik, lanjut Budi, harus dibangun dengan memastikan bahwa setiap pasien yang berobat di rumah sakit dalam negeri akan mendapatkan kesembuhan dan pelayanan yang optimal. “Kalau dia datang ke sini (rumah sakit Indonesia), sembuh dan layanannya pasti bagus. Itu yang perlu kita bangun bersama-sama,” tegasnya.
Mureks mencatat bahwa pembangunan rumah sakit masa depan tidak hanya tentang bangunan modern, tetapi juga kemampuan untuk merawat kehidupan secara holistik. Harapan serupa juga disematkan pada RSUP Dr Sardjito. “Sehingga kalau ada apa-apa, masyarakat Jogja ini kan banyak lansianya. Saya harapkan kalau sakit tidak usah keluar negeri, bisa dirawat di sini,” tutur Budi Gunadi.
Transformasi 40 Rumah Sakit Kemenkes
Budi Gunadi mengungkapkan, saat ini Kemenkes memiliki 40 rumah sakit yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, dengan rencana penambahan satu rumah sakit lagi di Riau. Ia juga menyoroti percepatan pembangunan pasca-pandemi COVID-19.
“Saya ingat waktu COVID. Setelah COVID selesai, sejak 2022 sampai sekarang, mungkin dalam tiga tahun terakhir ini hampir 20 rumah sakit sudah kita bangun gedung-gedung barunya, termasuk di Sardjito saat ini,” paparnya.
Pembangunan ini merupakan bagian integral dari transformasi kesehatan yang dicanangkan Kemenkes, bertujuan untuk memastikan layanan kesehatan di seluruh Indonesia mudah diakses, berkualitas, dan terjangkau.
Sebelumnya, perencanaan pembangunan rumah sakit milik Kemenkes dinilai belum tertata dengan baik dan cenderung tumpang tindih. “Tumpang tindih di mana-mana. Seperti ada tanah kosong, langsung dibangun,” ujarnya.
Kondisi tersebut menyebabkan tata letak rumah sakit di Indonesia kurang teratur dibandingkan di luar negeri. “Oleh karena itu, sejak akhir 2022 kami meminta adanya master plan yang tidak boleh diubah selama saya menjabat sebagai menteri. Semua pembangunan harus mengikuti master plan tersebut,” pungkas Budi Gunadi Sadikin.






