Nasional

Menguak Jejak Kearifan Lokal: Sejarah Panjang Pengobatan Herbal dalam Tradisi Melayu

Kearifan lokal masyarakat Melayu dalam memanfaatkan alam sebagai sumber pengobatan telah terukir sejak berabad-abad silam. Tradisi penyembuhan ini tidak hanya mengandalkan khasiat tumbuhan, tetapi juga terintegrasi dengan doa serta pengetahuan yang diwariskan turun-temurun dari para tabib atau dukun. Menurut buku Tanaman Obat Herbal Nusantara karya Abd. Razak, S.Farm., M.Si. dkk, akar tradisi ini lahir dari perpaduan animisme, Hindu-Buddha, dan Islam yang membentuk kekayaan budaya pengobatan.

Jejak Islam dalam Pengobatan Herbal Melayu

Perkembangan pengobatan tradisional Melayu mengalami penguatan signifikan seiring masuknya Islam ke wilayah Nusantara, dimulai sekitar abad ke-13. Pada masa itu, para ulama dan pedagang Muslim tidak hanya membawa ajaran agama, tetapi juga ilmu pengobatan dari dunia Arab dan Persia, yang kemudian berpadu harmonis dengan pengetahuan lokal yang sudah ada. Repositori Kemdikbud tentang Pengobatan Melayu mencatat, pengaruh ini terekam jelas dalam naskah kuno seperti Asal Ilmu Tabib Melayu yang ditulis oleh Raja Haji Daud dari Kesultanan Riau-Lingga. Naskah tersebut menunjukkan bahwa praktik pengobatan tidak semata-mata bergantung pada ramuan dari alam, melainkan juga disertai dengan doa dan ayat-ayat Al-Qur’an.

Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id

Dinas Kebudayaan Kepulauan Riau (Disbud Kepri) menjelaskan, masyarakat Melayu secara tradisional memanfaatkan berbagai bagian tumbuhan seperti akar, daun, bunga, dan umbi, contohnya kunyit, jahe, dan serai. Bahan-bahan ini diolah dengan cara direbus atau dioleskan sebagai obat, sembari memohon kesembuhan kepada Allah SWT.

Kitab Tib: Warisan Pengetahuan Herbal Tak Ternilai

Salah satu pilar penting dalam khazanah pengobatan Melayu adalah Kitab Tib, sebuah kumpulan naskah yang memuat beragam resep herbal untuk mengatasi berbagai jenis penyakit. Dari keluhan ringan seperti sakit kepala hingga perawatan luka, semua tercatat dalam warisan pengetahuan ini. Jurnal UAI berjudul Teknik Pengobatan Tradisional Masyarakat Melayu karya Fitria Hayani dkk mengungkapkan bahwa masyarakat Melayu Lingga memanfaatkan sekitar 102 jenis tumbuhan dari 53 famili tanaman. Keluarga Zingiberaceae, yang mencakup jahe dan lengkuas, menjadi salah satu yang paling sering digunakan dalam ramuan mereka.

Sementara itu, Jurnal UIN Suska Riau melalui tulisan Ellya Roza bertajuk Ramuan Herbal Non Instan dalam Naskah Kitab Tib, menyebutkan bahwa penggunaan daun sirih, madu, dan habbatussauda umumnya diterapkan untuk mengatasi penyakit kepala. Hal ini menunjukkan perpaduan cerdas antara bahan-bahan lokal dengan pengaruh pengobatan Islam yang dibawa dari luar.

Tanaman Herbal Populer dan Cara Pengolahannya

Beberapa tanaman herbal telah lama dikenal dan menjadi primadona dalam tradisi Melayu berkat ketersediaannya yang melimpah dan manfaatnya yang luas. Kunyit (Curcuma longa), jahe (Zingiber officinale), dan temulawak adalah contoh populer yang sering direbus untuk diminum sebagai obat atau ditumbuk untuk dioleskan. Jurnal Biologi Tropis, melalui penelitian Ethnobotany of Medicinal Plants Suku Melayu Tanjung oleh Asmita dkk, secara spesifik menjelaskan bahwa jahe dimanfaatkan untuk melancarkan pencernaan dan mempercepat penyembuhan luka. Disbud Kepri juga menambahkan bahwa daun sirih digunakan untuk membersihkan luka, sementara sambiloto dikenal efektif untuk menurunkan demam. Pentingnya menjaga kelestarian tanaman obat ini juga selalu ditekankan dalam tradisi.

Cara mengolah obat herbal Melayu terbilang sederhana dan mudah dipahami. Bahan-bahan herbal biasanya direbus, ditumbuk, atau diparut, kemudian dicampur dengan madu atau minyak kelapa. Rebusan ini umumnya diminum dua hingga tiga kali sehari, sedangkan ramuan oles digunakan untuk mengatasi penyakit kulit. Dalam ringkasan Mureks, proses ini menunjukkan betapa praktisnya kearifan lokal dalam meramu obat.

Jurnal UIN tentang Peran Ulama dalam Pengobatan Melayu karya Choirun Niswah dkk menjelaskan bahwa ulama seringkali memimpin proses pengobatan dengan membaca doa-doa khusus. Mereka juga menggunakan bahan-bahan seperti daun sirih, madu, dan jintan hitam yang diyakini dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

Pewarisan dan Kelestarian Tradisi

Pengetahuan tentang pengobatan herbal Melayu awalnya diwariskan secara lisan, dari satu generasi tabib ke generasi muridnya. Namun, seiring berjalannya waktu, ilmu yang berharga ini mulai didokumentasikan dalam aksara Jawi untuk memastikan kelestariannya. Hingga saat ini, tradisi pengobatan herbal Melayu tetap lestari dan dipraktikkan di wilayah Riau dan Kepulauan Riau. Ia menjadi alternatif pengobatan alami yang terjangkau, sekaligus tetap memiliki nilai spiritual yang kuat dalam kehidupan masyarakat.

Mureks