Gaji dengan nominal dua digit telah lama menjadi simbol keberhasilan dan pencapaian, khususnya bagi generasi muda. Angka ini tidak hanya sering disebut dalam obrolan santai atau konten media sosial, tetapi juga menjadi target personal yang diam-diam ditulis di catatan ponsel. Namun, di balik ambisi tersebut, jarang sekali kita mempertanyakan makna sebenarnya dari target finansial ini.
Keinginan untuk mencapai gaji dua digit di usia muda sering kali dilihat dari dua sudut pandang ekstrem. Di satu sisi, hal ini dipuji sebagai manifestasi ambisi dan daya juang yang tinggi. Di sisi lain, muncul kecurigaan bahwa ini adalah tanda ketidaksabaran dan obsesi terhadap materi. Padahal, bagi banyak individu dari Generasi Z, target ini berakar pada realitas yang konkret: biaya hidup yang terus meningkat, ketidakpastian ekonomi, serta keinginan kuat untuk mencapai stabilitas finansial, bukan sekadar terlihat sukses.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Pertanyaan krusialnya bukan apakah target tersebut salah, melainkan dari mana dorongan itu berasal dan apakah kesiapan diri kita telah tumbuh seiring dengan target yang ditetapkan. Di era digital yang serba cepat, pencapaian gaji dua digit terasa semakin dekat sekaligus semakin menekan. Kita kerap menyaksikan banyak orang yang “sudah sampai” pada titik tersebut di usia yang relatif muda, namun jarang melihat perjalanan panjang di baliknya—tahun-tahun penuh pembelajaran, kegagalan, atau perjuangan di fase yang tidak terekspos.
Fenomena ini, menurut catatan Mureks, sering kali hanya menampilkan hasil akhir yang dipadatkan dalam satu angka. Tanpa disadari, angka tersebut bergeser fungsinya; dari tujuan menjadi pembanding, dari motivasi menjadi tekanan. Akibatnya, banyak yang mulai merasa tertinggal, meskipun perjalanan karier mereka baru saja dimulai.
Masalah utama sering muncul ketika target finansial melaju lebih cepat daripada kapasitas diri. Gaji mungkin saja meningkat, namun jika keterampilan belum matang, tekanan akan datang dari arah yang tak terduga. Tanggung jawab membesar, ekspektasi meningkat, sementara kepercayaan diri belum sepenuhnya terbentuk. Dari luar, seseorang mungkin terlihat “naik kelas”, namun dari dalam, ia merasa terus dikejar oleh tuntutan.
Riset yang dipublikasikan dalam Academy of Management Perspectives mengindikasikan bahwa individu cenderung terlalu menghargai indikator kesuksesan eksternal seperti gaji dan jabatan. Sebaliknya, mereka sering meremehkan faktor internal seperti kesiapan psikologis, energi, dan kapasitas belajar. Kondisi ini berujung pada banyak pencapaian yang tampak maju secara angka, namun rapuh dalam hal keberlanjutan.
Pada titik ini, target gaji dua digit perlu didefinisikan ulang. Bukan sebagai garis akhir, melainkan sebagai konsekuensi alami dari proses pengembangan diri yang sehat dan berkelanjutan. Pertanyaan pun bergeser dari “kapan aku akan mencapai dua digit?” menjadi “apa yang perlu aku bangun agar pencapaian dua digit itu layak dan dapat dipertahankan?”
Ambisi tidak perlu dimatikan, tetapi harus diarahkan dengan bijak. Gaji dua digit yang datang terlalu cepat tanpa fondasi yang kuat sering kali justru menciptakan kecemasan baru—ketakutan tidak mampu mempertahankan, merasa tidak cukup pintar, atau khawatir suatu hari akan tersingkir. Stres tidak hilang, hanya berganti bentuk.
Bayangkan skenario yang berbeda: gaji dua digit yang datang seiring dengan peningkatan kapasitas diri. Peran yang lebih besar diiringi dengan kejelasan kontribusi yang nyata. Penghasilan yang naik sejalan dengan rasa percaya diri yang kokoh. Dalam kondisi ini, angka dua digit bukan sekadar deretan angka di slip gaji, melainkan representasi rasa aman bahwa seseorang memahami apa yang ia lakukan dan mengapa ia dihargai sebesar itu.
Karier yang sehat memahami bahwa setiap fase memiliki fokusnya sendiri. Ada fase belajar, di mana kesalahan adalah investasi berharga. Ada fase eksplorasi, di mana arah belum sepenuhnya jelas. Kemudian, ada fase akselerasi, di mana kapasitas dan peluang mulai bertemu. Memaksa fase akselerasi terlalu dini sering kali membuat perjalanan terasa berat dan singkat, bahkan berpotensi tidak berkelanjutan.
Bagi Generasi Z, tantangannya bukan sekadar mencapai gaji dua digit pertama, melainkan membangun diri yang mampu hidup nyaman dan produktif di angka tersebut. Ini berarti memahami keterampilan apa yang sedang dibangun, nilai apa yang ingin dibawa, dan batas energi apa yang perlu dijaga. Sebelum menetapkan target finansial yang tinggi, ada baiknya bertanya dengan jujur: keterampilan apa yang membuat saya layak dibayar dua digit? Masalah apa yang bisa saya selesaikan secara konsisten? Dan apakah saya siap secara mental dengan segala tuntutan yang menyertainya?
Pada akhirnya, pencapaian finansial yang sehat bukanlah tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan tentang siapa yang paling siap ketika mencapai tujuan tersebut. Sebab, keberhasilan finansial yang sejati adalah yang membuat hidup terasa lebih stabil, bermakna, dan berkelanjutan, bukan hanya yang membuat kita terlihat berhasil di mata orang lain.






