Intervensi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela pada 3 Januari 2026, yang menargetkan penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, bukan sekadar peristiwa regional. Tindakan ini, menurut analisis Fathurrahman Yahya, seorang pemerhati politik dan isu-isu internasional, merupakan penanda kuat lahirnya tatanan dunia baru yang didominasi oleh kebangkitan hegemoni unilateral AS di bawah pemerintahan Donald Trump.
Trump, yang dilantik untuk periode kedua sebagai Presiden AS pada Januari 2025, kembali menegaskan doktrin “Make America Great Again” (MAGA) dan “America for Americans” yang dipopulerkan oleh Presiden James Monroe pada tahun 1823. Doktrin ini menjadi fondasi ideologis bagi konfigurasi geopolitik regional dan global yang baru.
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Doktrin MAGA dan Kebijakan Unilateralisme
Slogan MAGA, yang telah dikampanyekan Donald Trump sejak Pemilu 2016, menemukan momentumnya pada periode kedua pemerintahannya (2025-2029). Dalam satu tahun terakhir, petualangan politik, diplomatik, dan militer Trump telah menjadi sorotan media internasional, meliputi Timur Tengah, Asia, Afrika, Eropa Timur, hingga Amerika Latin.
Beberapa bulan setelah dilantik, Presiden Trump mengguncang perdagangan global dengan kebijakan ekonomi yang kontroversial, menaikkan tarif impor secara fantastis, mulai dari 15% hingga lebih dari 50% bagi banyak negara. Kebijakan ini, menurut Fathurrahman Yahya, berhasil memetakan ulang posisi negara-negara sebagai kawan atau lawan, mempertegas posisi AS dalam konteks bipolaritas tatanan dunia pasca-Perang Dingin.
Dalam logika MAGA, multilateralisme dianggap menghambat kepentingan nasional AS, sehingga tindakan sepihak dalam bingkai proteksionisme menjadi pilihan. Demokrasi dan HAM, yang sering diperlakukan sebagai instrumen politik luar negeri, kini tampak tidak lagi menjadi nilai universal yang konsisten diterapkan, melainkan hanya sebagai instrumen dominasi dan hegemoni. Intervensi militer AS di Venezuela memperkuat persepsi standar ganda ini, di mana agresivitas atas nama demokrasi dan HAM diterapkan secara selektif.
Bipolaritas Semu dan Tantangan Hegemoni AS
Dalam beberapa dekade terakhir, dunia tampak terbelah dalam dua kutub besar: Amerika Serikat di satu sisi, dan blok penantang hegemoni AS di sisi lain, yang terdiri dari China, Rusia, serta sejumlah negara Global South yang tergabung dalam BRICS. Namun, situasi ini disebut sebagai “bipolaritas semu” karena tidak simetris seperti pada era Perang Dingin.
Pada era Perang Dingin, dunia terbagi jelas dalam dua blok ideologis yang relatif seimbang, yaitu kapitalisme liberal yang dipimpin AS dan sosialisme-komunisme yang diusung Uni Soviet. Kini, meskipun Rusia, China, Korea Utara, Iran, dan Kuba terafiliasi sebagai penantang hegemoni AS, mereka bukan merupakan kesatuan blok yang utuh. Setiap negara menempatkan posisinya sebagai pemain dengan keunggulan dan kekuatan masing-masing.
Kebangkitan China sebagai kekuatan ekonomi, teknologi tinggi, dan industri pertahanan, dibayangi oleh ancaman kemerdekaan Taiwan yang didukung AS. Sementara itu, ekspansi pengaruh Rusia di Timur Tengah dan Afrika dibayangi distabilitas melalui perang melawan Ukraina. Kawasan Amerika Latin yang mulai bersentuhan dengan pengaruh China dan Rusia pun kini diganggu oleh intervensi AS.
Venezuela: Titik Eksperimen Doktrin Monroe
Amerika Serikat saat ini tetap merasa unggul dalam militer, finansial, dan memegang kendali institusi-institusi global. Kubu penantang dinilai lebih bersifat reaktif dan tidak memiliki kesatuan ideologi yang kuat, sehingga dapat dilemahkan. AS, di bawah pemerintahan Trump, berupaya memaksakan kembali kepemimpinan globalnya dengan semangat MAGA, bahkan dengan pendekatan kekuatan militer seperti yang terjadi di Venezuela.
Intervensi militer AS di Venezuela menjadi contoh konkret sekaligus eksperimen sejarah lahirnya doktrin MAGA di kawasan Amerika Latin, sebagai perpanjangan doktrin Monroe di era Trump. Venezuela bukan hanya penting secara geopolitik, melainkan juga strategis secara ekonomi karena memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Catatan Mureks menunjukkan, cadangan minyak Venezuela diperkirakan mencapai 303 miliar barel, bernilai sekitar USD 17,3 triliun dengan harga USD 57 per barel (Business Today, 2026).
Dalam perspektif geopolitik dan strategis, intervensi AS ke Venezuela dapat dibaca sebagai upaya mengukuhkan pengaruh Washington, mengamankan energi, menekan pengaruh China dan Rusia di Amerika Latin, sekaligus menghidupkan kembali semangat doktrin Monroe—






