Nasional

Senyum Harapan di Danantara: Warga Aceh Tamiang Temukan Kehidupan Baru di Hunian Sementara

Pemandangan penuh harapan dan keceriaan kini menyelimuti Kompleks Rumah Hunian Danantara di Aceh Tamiang. Setelah lebih dari sebulan hidup dalam keterbatasan di tenda darurat, warga terdampak banjir bandang akhir November lalu mulai menempati rumah sementara yang dibangun pemerintah melalui BUMN.

Senyum semringah terpancar dari wajah para orang tua, sementara tawa riang anak-anak memecah keheningan sore di kompleks hunian yang tertata rapi. Bagi mereka, tempat ini terasa seperti awal kehidupan baru, sebuah oase setelah melewati masa sulit.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Anak-anak menjadi potret paling jujur dari kebahagiaan itu. Mereka berlarian bebas, bermain ayunan di taman yang tersedia, sebuah kemewahan yang tak pernah mereka rasakan selama di tenda pengungsian. Beberapa anak bahkan tak kuasa menahan kegembiraan, melompat-lompat di atas kasur yang sudah bersih dan rapi di dalam hunian. Pemandangan sederhana ini sarat makna: rasa aman dan kebebasan akhirnya kembali.

Rika Jahara, salah satu warga yang kini menghuni rumah sementara, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. Dengan mata berbinar, ia mengungkapkan kebahagiaannya.

“Senang sekali saya, senang. Rasanya jangan dipindah lagi. Terima kasih pemerintah sudah dikasih tempat tinggal kami. Soalnya rumah kita tidak ada lagi. Terima kasih pemerintah,” ujarnya penuh haru.

Hunian sementara ini jauh dari kesan darurat. Setiap unit dirancang fungsional dengan satu pintu dan satu jendela untuk sirkulasi udara yang baik. Di dalamnya sudah tersedia dua tempat tidur, lemari, kipas angin, hingga meja makan. Akses jalan antarblok dilapisi rumput buatan yang menambah kesan asri, lengkap dengan pot tanaman penghijauan di setiap pintu.

Tak hanya itu, setiap unit juga dilengkapi meteran listrik mandiri dan akses wifi gratis dari Telkom Indonesia, memastikan warga tetap terhubung. Infrastruktur pendukung lainnya pun tersedia, termasuk klinik kesehatan yang berada tak jauh dari hunian.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang, Dokter Mustakif, memastikan layanan kesehatan berjalan optimal.

“Di belakang kami, ini ada klinik kesehatan. Tiap hari dan tanpa ada hari libur, baik anak kecil, bayi, sampai dengan lansia, dengan yang penyintas ataupun yang beresiko, termasuk ibu hamil nanti,” jelasnya.

Detik-detik banjir bandang pada akhir November lalu masih membekas di ingatan Siti Rahma. Kala itu, warga Kampung Sukajadi, Kabupaten Aceh Tamiang tersebut masih tinggal di sebuah hunian yang nyaman di sisi sungai. Firasat serupa kembali ia rasakan sesaat sebelum bencana terjadi.

“Saat malam tiba, rumah kita sudah tersapu banjir. Rumah kami sudah tidak ada lagi,” ujar Siti, mengenang situasi mencekam yang mengubah hidupnya 180 derajat.

Situasi itu memaksa Siti dan keluarganya mengungsi ke Posko Pengungsian Jembatan Kuala Simpang. Selama sebulan, mereka bertahan dalam keterbatasan, dengan satu harapan sederhana: bisa kembali memiliki tempat untuk berkumpul bersama keluarga.

Untungnya, harapan Siti akhirnya terwujud. Pada Kamis (8/1), Siti dan keluarganya telah beranjak dari posko pengungsian dan berpindah menempati hunian sementara yang jauh lebih layak. Bagi Siti, hari itu menjadi salah satu momen paling membahagiakan sejak bencana terjadi. Ia tak henti mengucap syukur atas tempat berteduh yang kini bisa ia sebut rumah, meski bersifat sementara.

“Kami alhamdulilah, senang sekali karena dapat rumah hunian sementara dari bapak Presiden,” ungkapnya.

Siti adalah salah satu penghuni dari 600 hunian sementara yang telah dibangun Danantara Indonesia bersama BUMN Karya. Kegembiraan dan rasa syukur tak hanya terucap dari mulut Siti. Yati, warga lainnya, juga ikut memanjatkan syukur karena bisa kembali berteduh di tempat yang nyaman.

“Alhamdulilah, kami senang sekali karena bisa berteduh sama keluarga,” ujar Yati.

Catatan Mureks menunjukkan, dengan konsep modular yang cepat dan berkualitas, rumah sementara ini bukan sekadar tempat berteduh, melainkan ruang pemulihan. Di sinilah harapan kembali tumbuh, diiringi tawa anak-anak dan doa agar mereka tak perlu lagi berpindah.

Mureks