Badan Pangan Nasional (Bapanas) terus mengintensifkan upaya penganekaragaman pangan berbasis sumber daya lokal melalui pemanfaatan inovasi dan teknologi pengolahan. Langkah strategis ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pangan lokal, sekaligus memperkuat mata rantai pasokan dari hulu hingga hilir demi keuntungan langsung bagi petani dan pelaku usaha.
Pengembangan sorgum di Kabupaten Karawang dan Kota Bandung menjadi salah satu percontohan penguatan pangan lokal yang terintegrasi. Di kedua wilayah ini, sorgum dikembangkan sebagai komoditas adaptif yang dapat diolah menjadi berbagai produk pangan dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Teknologi Dorong Nilai Tambah Pangan Lokal
Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional, Andriko Noto Susanto, menegaskan bahwa penguatan pangan lokal harus ditopang oleh teknologi agar komoditas tidak hanya berhenti sebagai bahan baku mentah.
“Kita baru saja mengunjungi 2 tempat pengolahan sorgum di Karawang dan Bandung, pengembangan sorgum ini akan kita bangun dari hulu sampai hilir. Petani memproduksi, hasilnya diserap oleh umkm, lalu diolah menjadi produk pangan siap konsumsi yang bernilai tambah,” ujar Andriko saat meninjau alat produksi di Bandung pada 30 Desember.
Sebagai wujud dukungan konkret, Bapanas memfasilitasi pengolahan pascapanen dengan menyediakan berbagai alat, mulai dari perontok, penyosoh, penepung, pengering, hingga peralatan pendukung lainnya. Penguatan ini telah mendorong UMKM sorgum di Karawang untuk memproduksi beragam olahan seperti bubur, kerupuk, tepung sorgum, hingga cookies berbahan dasar sorgum.
Mureks mencatat bahwa salah satu produk olahan tersebut, yakni cookies sorgum, telah berhasil diserap ke dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kawasan Karawang melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Penyerapan ini mengindikasikan bahwa pangan lokal olahan memiliki peluang nyata untuk masuk ke sistem penyediaan pangan bergizi berskala nasional.
“Ketika produk pangan lokal sudah bisa masuk ke MBG, itu artinya kualitas, keamanan, dan kontinuitasnya sudah memenuhi kebutuhan. Ini menjadi bukti bahwa pangan lokal bisa berperan langsung dalam pemenuhan gizi masyarakat,” kata Andriko.
Inovasi Freeze Drying untuk Daya Saing
Inovasi pangan lokal juga diperkuat melalui dukungan teknologi lanjutan, salah satunya adalah freeze dryer untuk produk berbasis sorgum. Teknologi ini memungkinkan produk seperti nasi sorgum, bubur, dan sari sorgum memiliki masa simpan yang lebih panjang dengan kandungan gizi yang tetap terjaga optimal.
Akademisi dan peneliti pangan, Prof. Wisnu, menilai teknologi freeze drying memiliki peran krusial dalam meningkatkan daya saing pangan lokal. Menurutnya, produk pangan lokal sejatinya memiliki nilai nutrisi yang sangat baik, namun seringkali terkendala oleh preferensi konsumen dan aspek kepraktisan.
“Dengan teknologi freeze drying, nilai gizi tetap terjaga dan produk bisa disimpan lebih lama. Penyajiannya juga praktis, cukup diseduh dan siap dikonsumsi,” ujarnya.
Prof. Wisnu menambahkan, produk sorgum hasil freeze drying juga berpotensi dikembangkan menjadi tepung sebagai bahan baku beras analog yang diperkaya nutrisi. Formulasi tersebut dapat ditingkatkan dengan penambahan protein nabati dari kacang-kacangan maupun rempah, sehingga menghasilkan pangan dengan nilai gizi yang lebih lengkap.
“Ini membuka ruang inovasi yang luas. Pangan lokal bisa diolah menjadi produk modern tanpa kehilangan identitas dan keunggulan nutrisinya,” kata Prof. Wisnu.
Badan Pangan Nasional memandang penguatan teknologi pangan lokal sebagai bagian integral dari strategi jangka panjang untuk memperluas konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman. Selain mendukung pasar komersial, produk olahan sorgum dan singkong juga diarahkan untuk mendukung suplai pangan ke SPPG dalam Program MBG.






