Keuangan

Analis Proyeksikan Saham Perbankan Bangkit pada 2026, Penurunan Suku Bunga Jadi Pemicu Utama

Pada penutupan tahun 2025, saham-saham bank besar atau big banks menunjukkan penguatan. Namun, setelah melewati periode lesu sepanjang setahun terakhir, saham perbankan diproyeksikan memasuki fase pemulihan signifikan pada 2026, dengan penurunan suku bunga sebagai pemicu utamanya.

Kinerja Saham Bank Jumbo Akhir 2025

Berdasarkan pantauan Mureks pada Kamis, 01 Januari 2026, beberapa saham bank jumbo mencatatkan pergerakan positif di penutupan tahun 2025. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ditutup menguat 0,62 persen ke level Rp 8.075 pada Selasa (30/12/2025). Penguatan serupa juga terlihat dalam sepekan terakhir dengan kenaikan 0,62 persen, meskipun dalam setahun terakhir saham BBCA tercatat anjlok 16,54 persen.

Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga mengakhiri tahun dengan penguatan, ditutup di level Rp 5.100 atau naik 0,49 persen. Dalam sepekan, saham BMRI naik tipis 0,99 persen, namun masih menyusut 10,53 persen selama setahun penuh.

Kinerja positif paling menonjol ditunjukkan oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang ditutup menguat 2,58 persen ke level Rp 4.370 per saham. Saham BBNI juga naik 2,34 persen dalam sepekan, dan berbeda dengan bank lain, saham BBNI justru naik tipis 0,46 persen selama setahun terakhir.

Di sisi lain, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan penurunan kinerja. Saham BBRI ditutup turun 3,17 persen ke level Rp 3.660, dan selama sepekan juga susut 2,92 persen. Penurunan setahun penuh untuk saham BBRI mencapai 10,29 persen.

Penurunan Suku Bunga Jadi Sentimen Utama Pemulihan

Sejumlah analis menilai, penurunan suku bunga akan menjadi sentimen utama yang mendorong perbaikan kinerja saham maupun fundamental bank pada tahun 2026. Muhammad Wafi, Analis Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), menyebutkan bahwa tahun 2026 berpotensi menjadi fase turnaround bagi saham perbankan.

Menurut Wafi, tekanan kinerja saham bank sepanjang 2025 terutama disebabkan oleh tingginya cost of fund (CoF) yang menekan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM).

“Sentimen utama tahun depan adalah penurunan suku bunga. Ketika suku bunga turun, NIM bank justru bisa naik karena penurunan CoF biasanya lebih cepat dibandingkan penyesuaian bunga kredit,” ujar Wafi kepada Kontan, Rabu (24/12/2025).

Dari sisi fundamental, Mureks mencatat bahwa Wafi menilai industri perbankan akan bergeser dari fase bertahan menuju ekspansi. Penurunan suku bunga berpotensi mendorong permintaan kredit baru, sekaligus memperbaiki kualitas aset. Dengan membaiknya kualitas kredit, beban provisi diperkirakan menurun sehingga laba bersih bank berpeluang tumbuh lebih signifikan.

Mureks