Setiap awal tahun, banyak individu menetapkan target keuangan ambisius: gaji harus lebih teratur, tabungan harus berjalan, dan dana darurat harus terbentuk. Namun, seringkali dalam beberapa minggu, rencana tersebut perlahan buyar. Fenomena ini bukan semata-mata karena kurangnya disiplin, melainkan karena menabung adalah persaingan kompleks antara biaya hidup, kebiasaan, dan cara otak kita mengambil keputusan sehari-hari.
Di Amerika Serikat (AS), misalnya, laporan Bankrate yang dikutip CBS News pada tahun 2025 menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Sebanyak 59 persen responden tidak memiliki tabungan yang cukup untuk menutupi pengeluaran darurat sebesar 1.000 dollar AS, atau setara sekitar Rp 16,69 juta (dengan asumsi kurs Rp 16.694 per dollar AS). Bankrate menyebut kondisi ini sebagai “konsekuensi harga yang masih tinggi setelah periode inflasi yang menekan daya beli.”
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Sementara itu, di Indonesia, tantangan yang dihadapi berbeda namun berujung serupa: literasi dan kebiasaan finansial yang belum merata. Mureks mencatat bahwa Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan peningkatan indeks literasi keuangan menjadi 66,46 persen dan indeks inklusi keuangan 80,51 persen. Angka ini naik dibanding SNLIK 2024 yang mencatat indeks literasi keuangan 65,43 persen dan indeks inklusi keuangan 75,02 persen. Data ini mengindikasikan bahwa akses terhadap layanan keuangan sudah meluas, namun pemahaman dan kebiasaan mengelolanya belum selalu sejalan dengan peningkatan akses tersebut.
Penyebab Utama Kegagalan Menabung
Mengapa kegagalan menabung begitu umum, bahkan pada individu yang merasa penghasilannya sudah meningkat? Ada beberapa penyebab besar yang seringkali saling menumpuk dan memerlukan solusi yang tepat.
1. Biaya Hidup Meningkat, Ruang Napas Keuangan Menipis
Kegagalan menabung seringkali bermula dari realitas paling keras: uang memang tidak tersisa setelah kebutuhan pokok terpenuhi. Dalam laporan CBS News, Bankrate menegaskan bahwa tekanan harga, seperti makanan, sewa, dan kebutuhan harian, membuat rumah tangga kesulitan menyisihkan dana cadangan. Masalahnya, tekanan biaya hidup tidak selalu tampak dramatis dalam satu transaksi besar, tetapi muncul sebagai akumulasi pengeluaran kecil. Contohnya, langganan bulanan, biaya pengiriman (ongkir), biaya layanan, makan di luar, dan berbagai tambahan lain yang terasa wajar karena masing-masing tampak murah.
Intinya, ketika biaya tetap seperti sewa, cicilan, transportasi, atau tagihan membesar, tabungan seringkali kalah prioritas. Kondisi ini hanya bisa diatasi jika tabungan dibuat menjadi kewajiban yang setara dengan tagihan lainnya.
2. Menabung Tanpa Tujuan yang Jelas
Sebagian orang sebenarnya memiliki ruang untuk menabung, namun gagal karena tujuan menabung yang terlalu kabur. Misalnya, tujuan seperti “biar aman”, “biar punya tabungan”, atau “biar tidak boros” kurang spesifik. Tujuan yang tidak jelas membuat proses menabung terasa seperti larangan atau beban, bukan sebuah proyek yang memiliki makna dan motivasi kuat.
Terapis keuangan Aja Evans menjelaskan bahwa menabung bisa didorong oleh rasa takut dan pola pikir kelangkaan (scarcity mindset). Tanpa tujuan yang konkret, motivasi untuk menyisihkan uang akan mudah goyah di tengah godaan pengeluaran.






