Daya beli rumah tangga di Indonesia masih menunjukkan stagnasi signifikan pascapandemi Covid-19, menghambat penguatan aktivitas konsumsi masyarakat. Kondisi ini menempatkan masyarakat kelas menengah pada posisi rentan di tengah tekanan ekonomi.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB) masih dominan, mencapai sekitar 53,1 persen. Namun, Josua menyoroti bahwa pertumbuhannya relatif tidak bergerak, bertahan di kisaran 4,9 persen selama tiga tahun berturut-turut.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
“Kondisi daya beli rumah tangga saat ini cenderung tertahan, sehingga pemulihan belanja terasa lebih seperti bertahan daripada benar-benar menguat,” ujar Josua kepada Kompas.com pada Kamis (1/1/2026).
Menurut Josua, stagnasi ini mencerminkan sikap kehati-hatian rumah tangga dalam mengelola pengeluaran. Hal ini dipicu oleh tekanan biaya hidup yang terus meningkat dan ketidakpastian pendapatan. Akibatnya, konsumsi tetap berjalan, namun belum mampu memberikan dorongan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat.
Meskipun demikian, persepsi masyarakat terhadap daya beli belum menunjukkan kemerosotan tajam. Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) sepanjang tahun 2025 tercatat berada di kisaran 118 hingga 127, yang masih tergolong dalam zona optimistis. Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada November 2025 juga mencatat IKK pada level optimis 124, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 121,2.
Dari sisi transaksi, Josua mencatat adanya perbaikan konsumsi masyarakat yang mulai terlihat pada paruh kedua 2025. Penjualan ritel pada Oktober 2025 tumbuh 4,3 persen secara tahunan dan diperkirakan meningkat menjadi 5,9 persen pada November 2025. Namun, menurut Mureks, angka ini masih mengindikasikan bahwa permintaan domestik masih termoderasi dan belum sepenuhnya pulih.
Josua juga menyoroti tekanan struktural terhadap daya beli yang terlihat dari menyusutnya jumlah kelas menengah. Jumlah mereka turun dari sekitar 57,33 juta orang pada 2019 menjadi sekitar 47,85 juta orang pada 2024.
“Ini menunjukkan semakin banyak rumah tangga berada di zona rentan ketika ada guncangan biaya hidup atau pendapatan,” tegasnya.
Bagi kelas menengah, ruang belanja kerap menyempit. Hal ini terutama terjadi ketika kenaikan pendapatan tidak stabil antartahun, sementara biaya kebutuhan pokok dan layanan perkotaan terus merangkak naik. Beberapa komponen kebutuhan hidup bahkan melonjak tinggi, seperti perawatan pribadi dan jasa lainnya yang naik 12,49 persen. Angka ini jauh di atas inflasi umum, menunjukkan sebagian rumah tangga menghadapi kenaikan biaya yang signifikan pada pos-pos tertentu.
Mureks mencatat bahwa meskipun kenaikan gaji pekerja secara agregat sebenarnya masih sejalan, bahkan lebih tinggi dibanding inflasi dalam jangka panjang, kondisi tersebut tidak selalu dirasakan oleh kelas menengah perkotaan. Sepanjang periode 2014-2025, inflasi tercatat naik sekitar 138 persen, sementara upah nominal meningkat lebih tinggi sekitar 177 persen.
“Jika dilihat jangka panjang secara agregat kenaikan gaji sejalan dengan inflasi, tetapi tidak selalu terasa demikian bagi kelas menengah perkotaan,” pungkas Josua.






