Nasional

22 Mahasiswa Unisa Yogyakarta Keracunan, Risoles Mayo Diduga Jadi Sumber Masalah

Puluhan mahasiswa keperawatan semester 5 Universitas Aisyiyah Yogyakarta (Unisa) mengalami keracunan massal usai mengikuti kegiatan Early Clinical Exposure (ECE) di lingkungan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grhasia, Pakem, Kabupaten Sleman. Insiden ini terjadi pada 29 Desember 2025, dengan total 22 mahasiswa terdampak yang menyantap camilan.

20 Mahasiswa Telah Pulang, Dua Masih Dirawat

Direktur RSJ Grhasia, dr Akhmad Akhadi, mengungkapkan bahwa penyebab keracunan patut diduga berasal dari panganan ringan yang disajikan selama kegiatan pembelajaran mahasiswa. “Penyebab terjadinya keracunan pangan patut diduga berasal dari panganan yang diberikan berupa snack dalam kegiatan pembelajaran mahasiswa,” ujar dr Akhmad dalam konferensi pers pada Senin (5/1/2026).

Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id

Hingga Senin, 5 Januari 2026, sebanyak 20 dari 22 mahasiswa yang sempat dirawat inap di berbagai rumah sakit telah dipulangkan setelah dinyatakan sembuh. “Sampai hari ini, tanggal 5 Januari 2026, dari 22 korban atau orang terdampak yang dirawat inap di beberapa rumah sakit, 20 sudah dipulangkan karena sembuh. Sekarang masih ada dua yang dirawat,” jelas dr Akhmad.

Para mahasiswa menunjukkan gejala seperti mual, muntah, diare, demam, dan pusing yang muncul pada malam hingga dini hari setelah mengonsumsi camilan tersebut.

Risoles Mayo Diduga Jadi Pemicu

Camilan yang disantap mahasiswa dipesan oleh RSJ Grhasia dari vendor luar. Paket camilan tersebut berisi risoles mayo, tahu sarang burung, dan banana cake. Meskipun penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY, risoles mayo menjadi dugaan terkuat.

“Manakah yang patut diduga jadi penyebab? Belum tahu. Tapi secara kronologi, dari ketiga snack itu yang paling rentan ditinjau dari aspek perlakuan pengelolaan adalah mayo,” terang dr Akhmad.

Berdasarkan penyelidikan epidemiologi, Mureks mencatat bahwa risoles mayo diproduksi pada Minggu, 28 Desember 2025. Risoles kemudian disimpan di freezer, digoreng pada Senin subuh, dan dikirim ke rumah sakit pada pukul 08.00 WIB. “Ini yang patut diduga, berdasarkan analisis atau penelusuran,” tambah dr Akhmad.

Belum Ada Langkah Hukum, Vendor Bertanggung Jawab

Pihak RSJ Grhasia menyatakan belum akan menempuh jalur hukum terkait insiden ini. “Apakah kemudian kalau sudah ketemu mikroorganismenya lalu bisa menuding bahwa ini semata-mata karena kelalaian penyedia makanan, itu mesti melalui proses panjang. Tentunya kuman yang ada di makanan itu tidak serta-merta,” kata dr Akhmad.

Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan kekeluargaan, penyedia camilan turut menanggung biaya pengobatan korban. Bahkan, keluarga penyedia camilan juga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan yang sama. “Keluarga penyedia juga menjadi terdampak karena memakan makanan yang sama. Mereka sakit dan dirawat tiga sampai empat hari di rumah. Anak dan istrinya,” ungkap dr Akhmad.

“Bentuk tanggung jawab penyedia camilan, salah satunya biaya yang muncul, baik dalam perawatan yang tidak ditanggung BPJS. Itu akan kami libatkan penyedia camilan sebagai bentuk tanggung jawab,” bebernya.

Unisa Jelaskan Kondisi Mahasiswa dan Kegiatan ECE

Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) Unisa, Dr Dewi Rokhanawati, menjelaskan bahwa kegiatan ECE diikuti oleh 40 mahasiswa. Reaksi keracunan bervariasi karena ada mahasiswa yang mengonsumsi sedikit atau bahkan tidak mengalami gejala sama sekali. “Ada beberapa yang makan snack tersebut. Ada yang makan sedikit, ada yang dibawa pulang, sehingga reaksi masing-masing berbeda. Ada mahasiswa kami yang mengonsumsi tetapi tetap sehat,” kata Dr Dewi.

Dua mahasiswa yang masih dirawat dilaporkan dalam kondisi membaik. “Dua mahasiswa kami yang masih dirawat, satu di Rumah Sakit Sakinah Idaman dan satu lagi di RS PKU Gamping,” tambahnya.

Kegiatan ECE merupakan implementasi kurikulum rutin program studi keperawatan jiwa Unisa yang telah dilaksanakan dalam tujuh gelombang tahun ini. “Ini merupakan salah satu implementasi kurikulum di program studi keperawatan, khususnya mata kuliah keperawatan jiwa. Mahasiswa dibawa ke lapangan untuk mendapatkan paparan awal, melihat langsung rumah sakit jiwa dan kasus-kasus yang ada,” jelas Dr Dewi.

Dinkes DIY Tunggu Hasil Laboratorium

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY, dr Ari Kurniawati, mengonfirmasi bahwa kasus ini telah dilaporkan oleh RSJ Grhasia. “Dinkes secara berjenjang akan menuntaskan kegiatan penyelidikan epidemiologi terkait kasus keracunan pangan ini. Kesimpulan akan ditetapkan setelah hasil pemeriksaan laboratorium keluar,” pungkas dr Ari.

Mureks