Bencana banjir bandang yang melanda sebagian besar wilayah Sumatera pada akhir November 2025 lalu meninggalkan luka mendalam, terutama di Kabupaten Bireuen, Aceh. Daerah yang semula tenang ini kini berubah menjadi hamparan lumpur, puing, dan kenangan pahit yang sulit dilupakan. Hampir seluruh kecamatan di Bireuen terdampak parah, dengan air bah yang merangsek dari hulu hingga pesisir.
Lumpur tebal setebal betis orang dewasa menutupi jalanan, bahkan di beberapa titik, badan jalan nyaris tak terlihat. Batang pohon dan reruntuhan rumah berserakan di mana-mana. Beberapa jembatan penghubung antar-gampong (desa) rusak parah, menyebabkan sejumlah desa terisolasi selama berhari-hari.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Rumah-rumah warga tenggelam dalam lumpur pekat, digambarkan oleh sebagian penyintas seperti “ditimbun tanah hidup-hidup”. Ada yang roboh karena fondasinya tergerus, ada pula yang hanyut seluruhnya, hanya menyisakan atap atau dinding yang patah. Sawah, yang menjadi tumpuan hidup petani, musnah dalam sekejap, berubah menjadi kolam besar penuh lumpur. Banyak ternak, mulai dari sapi, kambing, hingga unggas, hilang terbawa arus deras.
Duka Korban Jiwa dan Kisah Nurhayati
Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Rabu, 10 Desember 2025, korban jiwa akibat banjir di Bireuen mencapai 29 orang. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret kepedihan keluarga yang kehilangan orang terkasih tanpa sempat mengucap salam terakhir. Sebagian besar korban terseret arus deras saat berusaha menyelamatkan diri atau menolong orang lain. Mureks mencatat bahwa dampak bencana ini sangat masif, tidak hanya kerugian materiil tetapi juga trauma psikologis yang mendalam.
Di tengah puing-puing dan lumpur, kisah Nurhayati (60), warga Cot Ara, Kecamatan Kuta Blang, menjadi salah satu gambaran nyata kepedihan tersebut. Rumahnya kini tenggelam lumpur hingga mustahil dibersihkan. Perempuan yang sudah menjanda ini, tinggal berdua dengan saudaranya, kini tak punya banyak tempat lain untuk dituju. Ia duduk di halaman rumah yang kini berfungsi sebagai posko pengungsian, menatap hamparan lumpur yang dulu adalah sawah hijau.
“Kios-kios yang dekat simpang itu semuanya hanyut dibawa air. Sawah-sawah juga gak bisa dipakai lagi,” kenang Nurhayati dengan suara yang pecah. Ia masih sulit percaya bahwa sebagian hidupnya hanyut dalam hitungan jam, sesekali menghela napas pelan seakan mencoba menerima kenyataan bahwa hidupnya tak akan sama lagi.
Desa Cot Ara memang menjadi salah satu titik kerusakan terparah, dengan tiga puluh rumah hilang terbawa arus, beberapa bahkan tak ditemukan lagi jejaknya. Arus yang begitu kuat membuat warga tak sempat menyelamatkan barang apa pun selain pakaian yang melekat di tubuh.
Nurhayati sendiri mengalami detik-detik paling mengerikan saat tubuhnya yang sudah renta terseret aliran banjir. Nyawanya hampir melayang. Dalam kepanikan, ia berusaha menggapai apa pun yang bisa menjadi pegangan. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah pohon mangga yang kokoh di halaman rumah tetangganya. Dengan sisa tenaga, ia meraih batangnya, memeluk sekuat mungkin, dan bertahan hingga warga datang menolong.
“(Saat banjir) airnya tinggi terus menerus sehingga rumah tenggelam. Saya hanyut terbawa air. Sehingga selamat berkat ada pohon mangga itu,” ujarnya sambil mengusap wajah dengan kerudung merahnya, kerudung yang kini seperti satu-satunya benda yang masih menemaninya. Ia baru pulang menengok rumahnya pada Jumat, 5 Desember 2025, setelah tiga hari tinggal di pengungsian.
Jalan Panjang Menuju Pemulihan
Ketika ditanya mengenai kebutuhan paling mendesak untuk hidupnya ke depan, Nurhayati terdiam lama. Matanya memerah, kemudian berkaca-kaca, air matanya tumpah tanpa kata. Diamnya bukan berarti ia tidak tahu apa yang dibutuhkan, melainkan bentuk kelelahan yang tak bisa dijelaskan. Bagaimana seseorang bisa menjelaskan kebutuhan ketika yang hilang adalah rumah, tempat tinggal, rasa aman, bahkan bagian dari dirinya sendiri?
Di halaman yang kini menjadi posko pengungsian, ia menyaksikan warga lain mondar-mandir, relawan memasak makanan hangat, dan anak-anak berlarian. Lembaga Amil Zakat Nasional Daarut Tauhiid Peduli (DT Peduli) datang menyalurkan bantuan berupa sembako, hygiene kit, popok bayi, dan air mineral, memberi harapan bahwa mereka tidak sendiri dan masih banyak yang peduli.
Bireuen kini mulai memasuki fase pemulihan. Bantuan mulai berdatangan, posko-posko dibangun, dan warga perlahan membereskan puing. Namun, jalan menuju pulih masih panjang. Lumpur perlu dibersihkan, rumah perlu dibangun kembali, dan mata pencarian harus dipikirkan ulang.
Bagi seseorang seperti Nurhayati, pulih bukan hanya membangun kembali rumah fisik yang hilang. Melainkan membangun kembali keyakinan bahwa hidupnya masih punya arah, meski untuk saat ini ia masih duduk memandang lumpur, sambil menggenggam kerudung merahnya erat-erat, seolah itu satu-satunya hal yang tak dapat direbut banjir darinya.






