Nasional

Banjir Sumatra dan Aceh: Menggali Makna Spiritual di Balik Derita Bencana

Bencana banjir yang melanda wilayah Sumatra dan Aceh pada Desember 2025 lalu menyisakan duka mendalam bagi ribuan warga. Namun, di balik kacamata musibah semata, sebagian memandang peristiwa ini sebagai sebuah lorong sunyi yang sarat makna spiritual, bahkan jalan menuju kedekatan dengan Tuhan.

Menurut pantauan Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) per 6 Januari 2026, jumlah korban terdampak di Aceh dan Sumatra telah mencapai 1.178 orang. Bagi mereka yang wafat, harapan akan nilai syahid di sisi Allah menjadi penghibur bagi keluarga yang ditinggalkan.

Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id

Musibah sebagai Kawah Candradimuka Kehidupan

Bagi individu yang merasakan langsung dampak banjir, musibah ini memberikan pelajaran berharga tentang hakikat kehidupan. Hidup, layaknya sebuah perjalanan, terkadang menyusuri jalan menanjak penuh kebahagiaan, namun tak jarang pula melewati jalan berkelok, licin, dan penuh bebatuan kesulitan. Kebahagiaan dan kesulitan, keduanya hadir silih berganti sebagai bagian tak terpisahkan dari takdir manusia.

Seseorang yang hanya merasakan kebahagiaan mungkin akan terlena, sebab di kemudian hari ia pasti akan berhadapan dengan kesulitan dan kepedihan. Dua situasi ekstrem ini, menurut pandangan spiritual, berfungsi sebagai “kawah candradimuka”, sebuah istilah dalam pewayangan yang merujuk pada tempat penggemblengan diri. Tujuannya adalah agar manusia menjadi pribadi yang kuat, tangguh, dan tidak mudah menyerah.

Memang, musibah banjir seringkali merenggut harta benda, orang-orang tercinta, serta menghilangkan rasa nyaman dan kedamaian. Namun, di sisi lain, musibah juga dapat menjadi pemicu energi baru untuk bangkit dari keterpurukan. Kebangkitan ini, dalam konteks keagamaan, seringkali mendorong seseorang untuk kembali mendekatkan diri kepada Tuhan.

Mencari Tuhan di Tengah Kesulitan

Fenomena yang kerap terjadi adalah, di kala bahagia, banyak orang cenderung lupa atau bahkan menjaga jarak dengan Tuhannya. Sebaliknya, ketika musibah dan kesulitan datang menghampiri, tidak sedikit manusia yang justru berbondong-bondong mendekat kepada Sang Pencipta. Meski demikian, Mureks mencatat bahwa ada pula sebagian kecil yang justru lepas kendali dan terpuruk dalam keputusasaan.

Dalam kondisi sulit, jiwa seseorang seringkali menjerit dan mengadu kepada Tuhannya. Musibah yang datang berupa banjir bandang, kayu, dan lumpur, justru membuat lisan orang beriman spontan mengucapkan kata-kata thayyibah. Misalnya, seruan “ya Allah”, “Allah Akbar”, atau “innalillahi wa innailaihi rojiun” yang keluar dari lubuk hati terdalam.

Dampak spiritual tidak berhenti di situ. Setiap salat yang ditunaikan menjadi lebih khusyuk, bahkan sering diiringi isak tangis saat menyebut nama Tuhan. Lebih jauh lagi, banyak korban musibah yang terbangun di tengah malam, memanfaatkan waktu hening tersebut untuk mengadu dan mencurahkan isi hati kepada Tuhan.

Sajadah Saksi Bisu Pengaduan Hamba

Di waktu-waktu yang dianggap mustajab itu, semua orang yang tertimpa musibah menengadahkan tangan, memohon kekuatan dan hikmah besar di balik cobaan yang menimpa. Mereka juga memohon agar keluarga korban yang meninggal dunia diberikan nilai syahid di sisi-Nya.

Proposal doa ini terus-menerus diucapkan oleh hamba yang tertimpa musibah. Seiring waktu salat dan malam yang terus berganti, sajadah yang digunakan menjadi kumal dan lusuh, pertanda seringnya digunakan. Sajadah itu pun menjadi saksi bisu sekaligus sahabat terbaik yang membantu menghadirkan rasa damai saat mengadu kepada Tuhan.

Meskipun tampak kumal dan lusuh, sajadah itu sebenarnya dipenuhi dengan cahaya spiritual. Karpet, dinding, dan semua benda di kamar seolah merespons dan menyimpan energi positif. Semesta alam turut memberi dukungan, dengan semilir angin kedamaian yang menyibak keheningan malam. Suara jangkrik, kodok, dan hewan lain seolah ikut menjadi saksi dan memberikan dukungan atas pengaduan doa kepada Tuhan. Derai air mata dan tangan yang tak henti menengadah menjadi pemandangan yang mengharukan. Salat tahajud pun menjadi lebih khusyuk dan durasinya lebih lama.

Sebelum menunaikan salat tahajud, tak jarang mereka melaksanakan salat taubat dua rakaat. Setelahnya, istigfar tak henti diucapkan, memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan, termasuk dalam tata kelola hutan dan kota yang mungkin turut menjadi penyebab bencana. Tangan terus menengadah, tak bosan-bosannya meminta kepada-Nya.

Wudu dan Kholwat, Jalan Intim Menuju Ilahi

Keesokan harinya, saat kembali terbangun di tengah malam, hamba beriman yang tertimpa musibah kembali bersimpuh. Sebelum bersimpuh, mereka berwudu dengan sebaik-baiknya, menghadap kiblat. Setiap basuhan dihayati, merenungi kemungkinan mulut, mata, dan hidung pernah menyakiti orang lain di luar waktu wudu.

Basuhan tangan diresapi, membayangkan apakah ada nasib orang yang menjadi korban karena kekuatan tanda tangan mereka. Semua anggota wudu, saat dibasuh, disesali dan dibayangkan apakah ada sikap dan perilaku yang mendatangkan murka Allah. Selesai berwudu, mereka tidak lupa menghadap kiblat sambil menengadah ke langit dan mengangkat tangan, mengucapkan doa setelah wudu dengan meresapi maknanya. Di dalamnya terdapat syahadat sebagai peneguhan tauhid, serta doa agar menjadi orang yang suka bertobat dan membersihkan diri.

Setelah itu, mereka beranjak ke kamar kecil khusus untuk berkholwat, berduaan dengan Tuhannya. Sajadah dihamparkan, lampu dimatikan, takbir dimulai. Suara sayup bercampur sedih bergemuruh seiring ucapan takbir yang menggetarkan jiwa. Suara terkadang serak dan parau. Bacaan demi bacaan terasa disaksikan langsung oleh Allah. Ketika membaca surat Al-Fatihah, seolah-olah sedang berdialog langsung dengan Allah. Jiwa menjadi luluh dan penuh harap.

Ruku dan sujud dilakukan dalam durasi yang lama. Saat sujud, air mata berlinang membasahi kavling kecil sajadah. Bacaan tasyahud akhir terasa seperti mengucapkan janji dan doa penuh khusyuk, hingga tak terasa waktu Subuh segera tiba, menyapa dan mengarahkan agar segera bersiap pergi ke masjid. Semoga refleksi ini bermanfaat bagi kita semua.

Mureks