Nasional

AS Gunakan Komunikasi Publik Intensif untuk Bentuk Opini Global dalam Krisis Venezuela 2026

Pada Rabu, 3 Januari 2026, pasukan Amerika Serikat (AS) melancarkan operasi di Caracas yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Peristiwa ini segera memicu krisis di Venezuela dan menjadi sorotan dunia. Washington dengan cepat membingkai tindakan tersebut sebagai “penegakan hukum” melalui strategi komunikasi publik yang intensif.

Krisis Venezuela di awal tahun 2026 ini menjadi studi kasus penting mengenai bagaimana AS memanfaatkan komunikasi publik untuk membentuk opini, baik di dalam negeri maupun di kancah global. Penangkapan Maduro didukung oleh narasi kuat dari pemerintah AS yang bertujuan untuk melegitimasi tindakan kontroversial tersebut di mata publik.

Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Strategi Framing Amerika Serikat

Dalam konteks ini, Teori Framing dari Robert Entman (1993) menjadi sangat relevan. Menurut Entman, framing adalah proses seleksi dan penonjolan aspek tertentu dari sebuah isu untuk mempromosikan interpretasi yang diinginkan. Proses ini melibatkan empat elemen utama: mendefinisikan masalah, mengidentifikasi penyebab, menilai secara moral, dan merekomendasikan solusi. Dengan framing, pembuat pesan dapat mengarahkan audiens untuk melihat suatu peristiwa sesuai sudut pandang yang dikehendaki.

Pemerintah AS secara sistematis menerapkan strategi framing ini. Mereka mendefinisikan masalah sebagai “ancaman narkoba dari kartel yang dipimpin Maduro”, mengidentifikasi Maduro sebagai penyebab utama krisis, dan menilainya sebagai kejahatan moral yang merugikan rakyat Amerika. Sebagai solusi, penangkapan Maduro direkomendasikan sebagai tindakan hukum yang adil.

Presiden Donald Trump, Sekretaris Negara Marco Rubio, dan Jaksa Agung Pam Bondi secara konsisten menekankan bahwa operasi ini adalah “penegakan hukum” berdasarkan dakwaan narco-terrorism yang telah ada sejak 2020, dan bukan merupakan invasi militer. Mureks mencatat bahwa upaya ini diperkuat dengan unggahan foto Maduro yang ditahan oleh Trump di Truth Social, serta konferensi pers di Mar-a-Lago. Narasi yang dibangun adalah aksi heroik melawan kejahatan terorganisir, disertai janji “pembangunan kembali Venezuela” termasuk infrastruktur minyaknya.

Dampak dan Reaksi Global

Strategi komunikasi publik ini terbukti efektif dalam membujuk audiens domestik AS dan komunitas Venezuela di luar negeri, di mana banyak yang merayakan penangkapan tersebut di jalanan. Media-media Barat turut mengamplifikasi narasi ini, didukung oleh tokoh oposisi Venezuela seperti Maria Corina Machado yang menyambut baik tindakan tersebut.

Namun, framing AS tidak sepenuhnya berhasil di tingkat global. Rusia, Tiongkok, Kuba, dan beberapa negara Amerika Latin mengecam tindakan tersebut sebagai “agresi imperialis” dan pelanggaran kedaulatan. Reaksi yang terpecah ini menyoroti tantangan komunikasi publik di era multipolar, di mana narasi satu pihak sulit mendominasi sepenuhnya.

Secara keseluruhan, kasus Krisis Venezuela 2026 mengilustrasikan betapa krusialnya komunikasi publik melalui framing dan saluran digital sebagai alat untuk melegitimasi tindakan kontroversial. Di era informasi yang bergerak cepat, kekuatan tidak hanya terletak pada militer, tetapi juga pada kemampuan untuk mengendalikan narasi yang disampaikan kepada dunia.

Mureks